Monday, March 13, 2017

Hidup Sejahtera dengan Peduli pada Alam

Arus teknologi dan informasi yang kian berkembang pesat membuat banyak prioritas dalam hidup seseorang menjadi berubah. Perubahan yang kian berkembang juga mengakibatkan pola pikir dan panduan perilaku yang juga banyak bergeser dari nilai-nilai asalnya. Seseorang yang tidak mampu mengikuti perubahan dan perkembangan jaman yang semakin cepat akan tertinggal semakin jauh dan akan menjadi semakin sulit beradaptasi dengan keadaan-keadaan yang baru.

Manusia sekarang menjadi manusia instan, ingin segala sesuatunya dilakukan, dikerjakan dan memberikan hasil yang cepat dapat diperoleh. Keegoisan manusia dan kecenderungannya untuk berkuasa membuat manusia sering lupa bahwa manusia hidup di alam semesta yang harus juga dipelihara. Egoisme dan keserakahan manusia sering kali membawa dampak yang buruk bagi lingkungan sekitarnya, bagi alam pada umumnya.

Kesejahteraan dan kemakmuran seringkali diukur dari kekayaan pribadi masing-masing individu. Berapa besar luas rumah yang ditinggali, seberapa banyak uang yang tersimpan, seberapa sering bepergian ke Luar Negeri, atau seberapa banyak barang bermerk terkenal yang dikenakannya. Manusia mengukur kesejahteraan dan kemakmuran seringkali berdasarkan ukuran materi yang dimilikinya.

Sebagai manusia yang beragama dan berTuhan, seberapa besar kita pernah menyadari bahwa kesejahteraan itu sebenarnya dapat kita nikmati saat kita sedang memandangi pegunungan yang sejuk, kemakmuran itu berarti bahwa kita dapat menikmati udara pantai yang menyegarkan, kebahagiaan dan kedamaian itu tercipta justru pada saat kita sedang bersekutu dengan alam sekitar kita.

Ijinkan saya bertanya pada Anda yang saat ini sedang membaca tulisan saya ini. Apakah Anda kenal dengan tetangga-tetangga yang ada disekitar Anda? Bukan sekedar tahu nama tapi juga mampu bertegur sapa dan saling mengobrol saat berjumpa? Seberapa sering Anda bertegur sapa dengan tukang sampah yang setiap hari mengambil sampah rumah tangga di depan rumah Anda? Apakah Anda tahu kemana sampah-sampah itu dibuang setelah diangkut oleh tukang sampah? Seberapa sering Anda memperhatikan jumlah sampah rumah tangga yang Anda buang setiap harinya? Apakah ada makanan sisa yang juga Anda buang? Seberapa banyak makanan sisa yang Anda buang? Atau bahkan, pernahkah Anda memperhatikan isi lemari pendingin Anda, apakah ada makanan yang telah lewat masa berlakunya dan Anda tidak menyadarinya sampai pada akhirnya terlanjur berbau busuk sehingga Anda terpaksa membuangnya?

Saudaraku terkasih, pernahkah Anda dihadapkan pada situasi dimana Anda berada dalam sebuah pesta dan Anda menikmati semua makanan yang disediakan namun ketika keluar dari tempat pesta Anda menemukan ada seorang anak kecil dengan pakaian lusuhnya sedang mengais dalam tempat sampah mencari sisa-sisa makanan demi mengisi perutnya yang kosong?

Sepenggal kalimat dari ensiklik "Laudato Si" yang dikeluarkan oleh Bapa Paus Fransiskus mengatakan bahwa "Setiap kali makanan terbuang, makanan itu seolah-olah dicuri dari meja orang miskin". Paus Fransiskus khawatir terhadap kerusakan alam yang terjadi. Apakah kita yang meyakini bahwa seorang Paus sebagai wakil Kristus di dunia tidak tergerak dengan perkataan dan himbauan beliau? Apakah kita masih mau mengabaikan kepedulian kita dan menutup mata pada kerusakan bumi?

Mari saudaraku, dimulai hari ini, kita berusaha untuk lebih peka pada hal-hal yang selama ini luput dari perhatian kita yang ternyata kebiasaan tersebut justru membawa kita pada pengrusakan alam. Mari mulai saat ini kita lebih perduli dan mau memperhatikan lingkungan sekitar kita dengan mengurangi sampah plastik sedapat mungkin. Kita mungkin tidak ditakdirkan untuk mengubah dunia, namun kita dapat memilih untuk ikut ambil bagian sebagai individu yang turut membantu mengurangi sampah, lebih perduli pada lingkungan dan alam sekitar dan lebih mampu memperhatikan hal-hal kecil yang bermanfaat untuk menjaga bumi ini lebih baik. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita selalu dalam setiap langkah hidup kita.

Monday, February 6, 2017

Ketika Tangis Menjawab Sebuah Pertanyaan

Dalam beberapa bulan belakangan ini kita telah dihadapkan pada beberapa peristiwa yang penuh sukacita dan kegembiraan. Katakanlah sejak bulan Desember kita merayakan hari Raya Natal, lalu dilanjutkan dengan pesta Tahun Baru, kemudian di akhir Januari ada pula perayaan Imlek, kemudian disusul peristiwa Valentine's day, hari penuh sukacita dan kasih sayang. Rasa-rasanya ketika kita terus menerus mengalami peristiwa-peristiwa gembira kita merasa waktu cepat berlalu, rasanya tak ingin segera berakhir. Ingin terus berada dalam suasana yang penuh keceriaan.

Namun dibalik suasana gembira itu, pernahkah Anda tetap merasa sedih? Pernahkah Anda merasa tetap kesepian bahkan dalam situasi diri Anda yang sedang berada dalam keramaian? Pernahkah Anda merasa justru ditengah kegembiraan itu Anda malahan ingin menangis? Pernahkah Anda bertanya pada Tuhan mengapa Anda bisa merasa begitu bahagia?

Sepertinya jarang sekali ada orang yang bertanya mengapa bisa berbahagia? Orang seringkali bertanya justru pada saat mengalami kesulitan dan penderitaan. Orang yang bertanya mengapa tetap merasa sedih saat sedang dalam suasana bahagia, biasanya dikarenakan ada perasaan yang "hilang" dan "hampa". Ketika perasaan semacam itu timbul, mungkin itu adalah cara Tuhan mengatakan pada kita bahwa sudah saatnya kita berlutut pada-Nya dan berdoa.

Seorang pelayan Tuhan, begitu bersemangat dalam melayani. Dia banyak mengorbankan waktunya untuk melayani di gereja, begitu bersemangat dan penuh sukacita. Banyak orang yang terhibur dengan kehadiran dan semangat yang ditularkan orang ini. Orang di sekitarnya memberikan komentar-komentar yang mengira hamba Tuhan yang selalu ceria ini sepertinya tidak pernah mengalami kesulitan yang besar karena dia selalu terlihat bersemangat dan tersenyum.

Suatu ketika usai kembali dari pelayanannya, pelayan setia ini sampai di rumahnya dalam keadaan yang kelelahan. Duduk di atas tempat tidurnya, tidak sedang melakukan apapun, tiba-tiba tanpa sadar air matanya mengalir begitu deras. Dia tak bisa menghentikannya, dia bahkan tak bisa menghibur dirinya sendiri. Dia tidak tahu mengapa air matanya tak bisa berhenti mengalir, dia bahkan tidak tahu mengapa dia menangis sendirian, dia merasa sangat lelah. Lelah secara fisik dan mentalnya. Dia lelah dengan segala macam pelayanan yang dilakukannya, dia bahkan mempertanyakan mengapa dia mau melayani sampai begitu rupa. Dia menangis semalaman dan tanpa sadar, dia membuat tanda salib dan berdoa dalam tangisannya.

Tidak, dia tidak berdoa, tidak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menangis setelah selesai membuat tanda salib. Dia menangis sampai lelah dan tertidur. Dalam mimpinya, dia bertemu dan berbincang dengan Tuhan. Dia cerita tentang kelelahan yang dirasakannya, dan Tuhan menjawab, "Ini Aku" (bdk Yes 58:9). "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Mat 11:28-29).

Seketika itu juga, dia sadar, bahwa selama dalam pelayanannya dia banyak mengandalkan dirinya sendiri. Sudah saatnya bagi dia untuk sujud menyembah-Nya. Berlutut, berdoa dan bertobat atas kelalaiannya. Kelelahannya adalah akibat dari sikap hidupnya yang jauh dari kehidupan doa. Keheningan untuk mendengarkan suara Tuhan sudah tidak lagi dicari olehnya.  Tanpa sadar mengandalkan diri sendiri menjalani hari-harinya. Jauh dari doa, jauh dari Tuhan, jauh dari kekudusan.

Saudaraku yang terkasih, apabila saat ini Anda sedang mencari kedamaian dan sukacita yang sejati dan bukannya mencari kegembiraan duniawi saja, mungkin inilah saatnya bagi Anda untuk berlutut dan bertobat. Sudah saatnya Anda pun berkata pada Tuhan, "Tuhan, ini aku. Tanpa-Mu aku bukanlah siapa-siapa. Tanpa-Mu kehidupan adalah hampa dan tak berarti, tanpa-Mu, sukacitapun terasa gersang. Ijinkan aku mengalami sukacita yang abadi, kedamaian yang sejati. Hidup penuh dengan cinta kasih dan sadarkan aku bahwa semuanya itu harus aku jalani dengan sikap tobat yang tulus. Amin." Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.

Thursday, December 8, 2016

Damai Sejahtera, Datanglah!

Bagi seluruh umat Katolik, menjelang penghujung tahun berarti adalah mengawali tahun Liturgi yang baru. Awal tahun liturgi selalu ditandai dengan kedatangan masa adven, masa penantian, masa pertobatan. Pesan Natal tahun ini adalah "Immanuel, Damai Sejahtera. Datanglah." Damai sejahtera, pesan yang sangat menyejukan di hati. Kita semua tentunya menginginkan damai sejahtera selalu datang dalam kehidupan kita. Hati yang damai adalah hati yang layak untuk menantikan kedatangan Juru Selamat kita, Yesus Kristus. Namun, pada masa sekarang ini sepertinya tidak banyak orang yang dapat merasakan kedamaian, banyak orang sibuk memikirkan betapa kerasnya hidup ini, betapa beratnya beban yang harus ditanggung. Betapa banyaknya orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita dan meninggalkan luka.

Ketika melihat kedalam diri, banyak peristiwa dalam hidup saya yang tidak berjalan sebagaimana "saya" inginkan. Kekecewaan, penipuan, caci maki, direndahkan, difitnah, dibohongi, sakit penyakit, dan semua hal yang menyedihkan lainnya, yang membuat saya kehilangan kasih dan kedamaian karena saya ingin bebas dari keadaan menyedihkan itu. Semua hal tersebut membuat saya terluka, membuat saya merasa bodoh karena dibohongi, membuat saya merasa tak berdaya ketika mengalami hinaan, membuat saya tak bisa berhenti memikirkan orang yang telah menyakiti saya karena saya terus memendam rasa sakit hati. Yaaa, saya tersakiti oleh orang-orang disekitar saya. Mereka telah sadar atau tidak sadar menyakiti saya dengan perbuatan atau kata-kata mereka. Tanpa sadar saya pun jadi terus menerus memupuk rasa sakit saya, membiarkannya tetap menjadi luka yang terbuka karena saya tak bisa berhenti memikirkannya.

Kalau sedang merasa kecewa dan disakiti, orang cenderung berpikir begini: "Saya tidak seharusnya diperlakukan begini", "Saya tidak seharusnya mengalami ini", "Saya orang yang tidak sepantasnya diperlakukan tidak adil". "Saya berharga, saya tidak layak menderita karena orang tersebut", kalau begitu STOP! Hentikan mencari pembenaran kelayakan itu, hentikan berlaku sebagai orang yang baik dan hanya pantas mendapatkan hal baik saja. Hentikan bertindak dan berpikir sebagai korban. Korban dari ketidakadilan, korban dari kata-kata bohong, korban dari lingkungan sekitar kita. Berhentilah berpikiran seperti itu dan kalau Anda benar-benar berpikir bahwa Anda berharga, maka hargailah diri Anda sendiri, hargailah waktu Anda, hargailah orang-orang sekitar Anda yang benar-benar perduli pada Anda. Bukankah dengan lapang dada menerima sebuah batu sandungan dan iklas menjalaninya justru akan semakin meningkatkan nilai diri Anda? Bukankah dengan mau menerima diri sendiri dan mau memaafkan diri sendiri itu akan lebih membawa kedamaian dibandingkan dengan menghujat dan mencari kambing hitam atas masalah Anda? Apakah waktu Anda yang berharga layak untuk dihabiskan dengan berpikiran bahwa Anda seharusnya atau tidak seharusnya melakukan ini dan itu? Bukankah akan lebih baik bila Anda dapat mencari sudut pandang yang lain dari masalah Anda dan pada akhirnya akan membawa Anda pada perubahan yang lebih baik? Bukankah Anda mencari damai sejahtera dalam kehidupan Anda?

Matius 5:43-45 berkata "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." Injil Lukas pun mengingatkan hal yang sama, "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu" (Luk 6:27-29). Ketika kita belajar kerendahan hati dan siap menerima pengajaran dari Tuhan tentang pengampunan, niscaya damai sejatera yang kita rindukan bukan sekedar harapan palsu belaka. Ketika kita mampu melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu SUNGGUH AMAT BAIK, niscaya kita tak lagi menggerutu dan mengeluh, menghujat dan mencari kambing hitam, memaki dan menyalahkan.

Berawal dari diri sendiri, maukah Anda bercermin kedalam diri Anda, bertanya dan memperoleh jawabannya dari hasil refleksi Anda sendiri, alasan yang menyebabkan Anda tidak bahagia? Alasan mengapa Anda sulit merasakan damai sejahtera? Alasan untuk apa Anda mensia-siakan waktu Anda? Alasan mengapa Anda sulit mengampuni? Pengampunan berarti juga penerimaan diri. Memaafkan dan memperbaiki apa yang salah dalam hidup Anda. Pengampunan berarti membuka pintu damai dalam hati kita. Mari kita sambut masa adven kita dengan lebih banyak mengampuni sesama kita. Mari kita bersama mempersiapkan hati dan pikiran kita menyambut Sang Bayi damai. Mari kita berseru, "Immanuel, Datanglah!" Datanglah Damai Sejahtera, kami siap menerimanya. Semoga Tuhan memberkati dan doa Bunda Maria menyertai Anda sekalian. Selamat Natal! 

Saturday, November 5, 2016

Masa Penantian Menuju Harapan Baru

Sebuah kisah yang saya dengar baru-baru ini begitu menginspirasi saya dan entah mengapa terus teringat dan terasa sayang bila tidak dibagikan pada banyak orang. Sebuah kisah nyata kehidupan yang bermakna amat dalam dan benar-benar menjadi sebuah inspirasi bahwa sebuah penantian akan menghasilkan suatu harapan yang baru. Harapan yang baru akan dapat mengubah hidup seseorang dan menjadikannya suatu semangat yang tak akan pernah dapat dipadamkan.

Adalah seorang wanita berasal dari sebuah keluarga bukan Katolik kemudian menikah dengan seorang pria Katolik yang menyebabkan dia terpaksa pergi jauh meninggalkan keluarganya itu karena pernikahannya tidak mendapat restu dari keluarganya. Hidup jauh dari keluarga, di tempat yang baru, budaya yang berbeda, tak ada orang lain selain suaminya saja yang dia kenal membuatnya menjadi seorang wanita yang tegar, tabah dan kuat.

Wanita ini berjuang mencari nafkah bagi keluarganya karena ternyata sang suami bukanlah seorang suami yang dapat diandalkan. Tak mungkin dia kembali pada keluarganya yang tak lagi mengakuinya karena dia telah pindah keyakinan menjadi Katolik, tak ada teman yang dapat dijadikan tempatnya mencurahkan isi hatinya, yang dia miliki pada masa-masa terberat hidupnya hanyalah bergantung sepenuhnya pada kuasa dan kekuatan dari Tuhan.

Sepanjang perjalanan hidupnya, dia mempersembahkan waktu, tenaga dan pikirannya hanya demi menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya sehingga semua anaknya dapat meraih kesuksesan. Sepanjang hidupnya pula dia pasrah dan berserah pada Tuhan, hanya Dialah tempat mengadu dan mencurahkan air matanya.
Selama masa hidupnya yang dia serahkan untuk mengabdi pada Tuhan dan keluarganya, dia tak pernah sekalipun meragukan campur tangan Tuhan dalam hidupnya, dia dengan setia menantikan janji Tuhan untuk menjaganya. Hanya dengan berdoa dia mendapat kekuatan, hanya lewat doa pula dia berani menaruh harapannya akan hidup yang jauh lebih baik.

Memasuki masa adven ini, masa penantian akan kehadiran Yesus, saya ingin meniru ibu ini dalam kesetiaannya selama masa penantian. Dia tetap setia berdoa, dia tetap setia melayani Tuhan, dia tetap setia pada panggilannya sebagai seorang Kristiani sejati, dia tetap setia dalam keadaannya yang paling berat, meskipun dia mengalami cobaan yang terus bertubi-tubi namun imannya tak pernah goyah. Tak sedikit pun dia meragukan kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya dan kemurahan hati-Nya.

Wanita ini dalam masa penantiannya, dapat selalu menemukan harapan yang baru akan kehidupan yang jauh lebih baik saat dia berdoa pada Tuhan. Ketika dia sedang berjuang mencari nafkah bagi anak-anaknya, dia mendapatkan harapan dari orang-orang di sekitarnya yang membantunya bertahan dalam kesulitannya. Saat dia dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya berlaku tidak setia, dia tetap dapat menemukan harapan baru bahwa Tuhan tetap besertanya, dalam doanya, dalam tangisnya, dalam kepedihannya, dalam keputusasaannya, dia selalu dapat menemukan secercah cahaya harapan baru dari kekuatan doa yang selalu setia dia daraskan. Dia sungguh mengimani bahwa Tuhan tak pernah meninggalkannya sendirian dan terpuruk. Dia tahu Tuhan selalu menggenggam tangannya dan mengangkatnya bahkan lebih tinggi dari keadaan sebelumnya. Imannya, doanya, keyakinannya, pengharapannya pada Tuhan menjadikan saya berpikir betapa kecilnya iman saya jika dibandingkan dengan ibu tersebut.

Ketika sedikit mengalami pencobaan, saya cenderung mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Bukannya berdoa, saya sering kali menjauh dan marah pada Tuhan. Bukannya mengimani kekuatan Tuhan, saya cenderung marah dan meninggalkan-Nya.

Ketika saya mendengarkan kisah hidup ibu ini, saya malu. Saya sering merasa sakit hati pada Tuhan apabila saya merasa bahwa keinginan saya tidak terkabul. Saya marah dan berontak saat menghadapi pencobaan yang berat. Saya selalu gagal melihat bahwa dibalik setiap pencobaan sesungguhnya Tuhan sedang menguji iman kita. Tuhan ingin melihat seberapa paham kita akan ajaran-Nya. Maukah kita menerima pengajaran-Nya? Mampukah kita melepaskan ego kita dan berserah pada kehendak-Nya? Mampukah kita melewati rintangan dengan tetap setia pada panggilan kita? Dapatkah kita melihat harapan yang baru, yang sering kali terselubung dibalik kesulitan kita? Dapatkah kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik justru disaat kita tengah menghadapi cobaan? Apakah kita berhasil melihat makna dan pembelajaran terselubung yang Tuhan ijinkan terjadi pada kita?

Kisah ini, hanya merupakan gambaran kecil yang saya utarakan disini. Semoga dengan membaca kisah ini, kita bersama dapat belajar untuk tetap setia dalam masa penantian kita. Semoga kisah ini juga dapat menyadarkan kita bahwa dibalik setiap penantian pasti akan selalu ada harapan yang baru. Harapan itulah yang kemudian dapat memulihkan setiap luka dalam hati kita, memulihkan setiap rasa sakit yang kita rasakan, memulihkan hubungan yang retak baik dengan sesama maupun dengan Tuhan. Harapan yang baru adalah harapan untuk menjadikan diri kita lebih baik dan lebih layak menantikan kedatangan Tuhan kita. Selamat menantikan kehadiran Tuhan kita dengan penuh harapan. Mari kita siapkan hati kita untuk menyongsong kehadiran-Nya dengan hati yang bersih, hati yang damai, hati yang telah dipulihkan. Semoga Tuhan memberkati dan doa Bunda Maria melindungi Anda sekalian. Amin.

Thursday, October 13, 2016

Misteri Doa Rosario

Tak terasa kita sekarang sudah berada di bulan Oktober, bulan dimana umat Katolik biasa menyebutnya sebagai bulan rosario. Para pengurus lingkungan seringkali akan mengagendakan kegiatan rosario bersama dirumah salah seorang warga lingkungannya demi mengisi acara lingkungan dibulan Oktober ini. Begitu banyak umat Katolik di seluruh dunia sangat menghormati dan percaya pada kekuatan dari doa rosario. Sebenarnya mengapa doa rosario dapat memperoleh tempat yang begitu istimewa bagi umat Katolik?

Saya bukanlah ahli sejarah, saya bukan pula sarjana teologis yang mempelajari secara mendalam tentang makna dibalik doa rosario, namun saya dan mungkin juga Anda pernah mengalami sebuah pengalaman yang luar biasa ketika kita mendaraskan doa rosario. Mengapa kita berdoa rosario? Ada misteri apa sebetulnya dengan doa rosario ini? Apa yang diharapkan dari kita dengan mendaraskan doa rosario?

Bunda Maria selalu menjadi sosok teladan yang sering kali kita jadikan cerminan kehidupan dalam pengamalan ajaran Allah. Ketaatan Bunda Maria sering pula kita teladani dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Ketika kita bicara tentang rosario, kita tentu secara otomatis membayangkan kehadiran dan penyertaan Bunda Maria dalam mengatasi setiap hal yang sedang kita hadapi. Berdoa rosario juga selalu membawa kedamaian pada saat kita mengalami kekalutan.

Di dalam kesederhanaan dan kelembutannya, Bunda Maria mengajarkan pada kita tentang makna doa yang terus menerus dan penuh harapan. Ketika kita sedang mengalami masa yang sulit, tanpa arah, berbeban berat, kita tentunya menghendaki sedikit kedamaian yang menenangkan. Bulir-bulir rosario yang kita daraskan satu per satu memberikan dampak sugesti positif dan energi baru yang menambah daya kekuatan pada kita.

Kadang kala saya mendengar bahwa orang non Katolik yang tidak mengenal tentang Bunda Maria menyebut rosario itu semacam jimat yang dapat melindungi kita dari apapun, sampai-sampai kita disebut menduakan Tuhan kita. Sesungguhnya, ketika kita mendalami makna tersembunyi dibalik banyaknya devosi yang kita tujukan pada Bunda Maria, kita akan dapat menemukan kebesaran Tuhan yang ternyata dinyatakan melalui Bunda Maria.

Ketika kita masih kecil, sebagai seorang anak yang baru berkembang kadang kala kita merasa tak berdaya saat melihat orang tua kita susah namun kita belum ada kemampuan untuk membantu meringankan beban mereka. Ketika kita telah menjadi dewasa dan mapan, sebagai seorang anak tentunya adalah kebahagiaan tersendiri apabila kita mampu membantu orang tua kita, memberikan apa yang mereka perlukan, memenuhi setiap kebutuhan dan keinginan mereka dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi orang tua kita selagi kita masih dapat berbakti pada mereka.

Kita yang manusia biasa saja bisa melakukan hal-hal ajaib ketika kita ingin membahagiakan orang tua kita, bayangkan apabila Tuhan kita Yesus Kristus menghendaki hal yang sama, ingin membahagiakan Bunda Maria dengan mengabulkan setiap permohonan yang diajukan oleh ibundaNya itu. Bahkan sebagaimana dikisahkan dalam injil Yohanes 2:4-5, "Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba. Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" Bunda Maria dengan penuh keyakinan dan kepercayaan mengajukan permohonan yang kemudian menjadi mujizat pertama yang dilakukan oleh Yesus meskipun Ia berkata "belum saatNya".

Karya ajaib dan mustahil, karya keselamatan yang dari Tuhan seringkali terjadi saat kita berdevosi melalui Bunda Maria. Melalui doa-doa yang kita tujukan dengan perantaraan ibundaNya, Yesus seakan mengajarkan pada kita bahwa karya keselamatan itu dapat hadir lewat siapapun, lewat apapun, dalam bentuk apapun yang berkenan menurutNya. Karya keselamatan terbesar yang pernah Dia lakukan adalah dengan mengorbankan nyawaNya demi keselamatan umat pilihanNya. Saat mengalami penderitaan yang paling berat dalam hidupNya, Bunda Maria tetap setia mendampingiNya sampai Ia wafat. Kesetiaan itulah yang membuat Bunda Maria tetap mendapatkan tempat istimewa dalam karya keselamatan yang Tuhan wartakan.

Mari kita belajar makna kesetiaan dari Bunda Maria, salah satunya dengan belajar setia mendaraskan doa rosario setiap hari sebagai bentuk penghormatan kita pada ibunda Yesus, yang menjadi Bunda kita semua. Selamat berdoa rosario, semoga segala yang Anda harapkan dapat terwujud. Tuhan memberkati.

Sunday, August 14, 2016

Kemerdekaan Bagi Orang Muda

Bulan Agustus selalu identik dengan perayaan ulang tahun kemerdekaan negara kita tercinta Indonesia. Bagi beberapa orang, perayaan kemerdekaan ini hanya bermakna sebagai ajang perlombaan-perlombaan yang menarik, pertandingan antar RT/RW setempat, atau hanya sekedar menikmatinya sebagai hari libur untuk bersantai di rumah. Banyak dari kita tidak lagi merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Apalagi bagi kita yang masih muda, makna kemerdekaan negara rasanya tidak bermakna sesuatu yang berarti atau berharga begitu dalam. Perjuangan melawan penjajah yang mengorbankan jiwa dan raga hanya kita baca dalam buku sejarah saja. Bukan hal yang istimewa. Ketika muncul pertanyaan tentang makna kemerdekaan diantara kaum muda, mereka rata-rata akan memberikan makna lain dari kemerdekaan yang diraih dengan perjuangan fisik tersebut.

Kemerdekaan bagi orang muda sekarang biasanya diidentikan dengan kemerdekaan berekspresi, kemerdekaan dalam mengemukakan pendapat, kemerdekaan dalam bertindak, kemerdekaan dalam hal yang lebih bersifat individual semata. Kemerdekaan kadang membuat anak muda masa kini menjadi lebih agresif dengan mengatasnamakan kemerdekaan yang semu.

Kemerdekaan dalam bertindak, bukan berarti dapat sesuka hati berlaku tidak sopan pada orang yang lebih tua. Kemerdekaan berkomunikasi bukan berarti mengadudomba seseorang dengan yang lain. Kemerdekaan berekspresi bukan pula berarti dengan seenaknya memecahbelah dan berlaku anarkis. Kemerdekaan tidak pula berarti dapat seenaknya merusak atau mengabaikan sesuatu.
Seorang murid yang berkata kasar pada gurunya, atas dasar kemerdekaan berbicaranya mengadukan perkara itu pada orang tuanya yang langsung bereaksi dengan tindakan sepihak memukuli guru yang bersangkutan tanpa terlebih dahulu mengecek masalah yang sebenarnya. Emosi membutakan mata dan menutup logika. Bukan, bukan kemerdekaan seperti itu yang perlu kita perjuangan sekarang ini, jangan menyalahartikan kemerdekaan untuk kepentingan pribadi semata.

Kemerdekaan yang bertanggung jawab adalah kemerdekaan yang sejati. Bukankah sebagai generasi penerus bangsa, kita yang muda dapat memberikan kontribusi dengan mengekspresikan kreatifitas kita menjadi daya tarik bagi bangsa kita? Bukankah kita yang muda sebaiknya memberikan waktu dan tenaga kita untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat? Bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari kita semata, tapi kemerdekaan yang sejati hendaknya kita nyatakan juga dalam membentuk pribadi yang lebih berakhlak, takut akan Tuhan dan menjadi pengikut-Nya yang setia.

Santo Paulus dalam salah satu suratnya mengingatkan pada kita, "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13)." Sebagai orang muda yang beriman dan takut akan Tuhan, hendaknya kita mampu mempergunakan semangat muda dan kemerdekaan kita untuk lebih peduli pada sesama kita. Bersikap rendah hati dan santun pada sesama adalah langkah bijak dalam mengisi masa muda kita.

Banyak kisah soal bullying yang terjadi di kalangan orang muda dewasa ini. Sebagai murid Kristus kita diharapkan mampu menjadi panutan untuk menghentikannya. Disaat banyak anak muda tidak peduli lagi dengan nilai-nilai sopan santun dan tutur kata lembut, hendaknya kita mampu menunjukan bahwa menjadi anak muda yang keren bukanlah anak muda yang bersikap kasar dan memberontak. Anak muda yang santun adalah anak muda yang mencerminkan semangat Kristus yang penuh kasih.

Matius 22:37-39 "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Marilah Orang Muda Katolik, jadilah terang dan garam dunia, mari kita mempergunakan kemerdekaan kita dengan membagikan semakin banyak kasih pada sesama kita. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria menyertai.

Saturday, July 9, 2016

Hijau Bumiku, Sejahtera Hidupku

Bulan Juli ini rasanya identik dengan suasana liburan. Mengapa? Karena bertepatan dengan libur kenaikan kelas bagi pelajar dan suasana menyambut Hari Raya Idul Fitri bagi saudara-saudara kita umat Islam. Biasanya hari libur diisi dengan mengadakan wisata ke beberapa tempat, bagi yang memiliki kampung halaman tentunya libur panjang akan dimanfaatkan untuk dapat pulang ke kampung halamannya alias mudik. Tradisi mudik ini setiap tahun pasti dilakukan pada saat libur panjang seperti sekarang.

Liburan saya sendiri dihabiskan di kota Surabaya yang panas dan memiliki cuaca yang berbanding terbalik dengan Bandung yang dingin. Selama saya berwisata di kota Surabaya, saya dapati ternyata sekarang Surabaya telah menjadi kota yang sangat hijau. Jadi meskipun panas, angin yang berhembus terasa tetap menyejukan. Sepertinya sekarang semua pemimpin daerah berlomba-lomba menjadikan kotanya penuh dengan taman-taman dan pohon-pohon rindang. Entah atas dasar alasan sadar akan pelestarian lingkungan ataukah hanya demi kepentingan elite politik tertentu untuk memberikan kesan yang baik tetapi pembangunan taman dan penanaman pohon-pohon menjadi semacam trend terbaru sekarang ini.

Selama ini kita juga tanpa sadar telah membuat pemerintah daerah tempat kita tinggal menjadi semacam "kambing hitam" yang terus menerus mendapatkan kritik dan bisa disalahkan. Selama ini kita mengandalkan mereka untuk memberikan layanan yang terbaik dengan alasan kita telah membayar kewajiban kita berupa pajak. Kita terus menuntut mereka untuk memenuhi semua kebutuhan kita seperti misalnya mengurangi kemacetan, mengurangi polusi udara, menuntut juga menyediakan sarana dan prasarana untuk tempat rekreasi dan lain sebagainya, sehingga kadang kala pergantian kepala daerah menjadi ajang pembuktian siapa yang paling menonjolkan hasilnya. Misalnya masa jabatan Gubernur X, mencoba memenuhi tuntutan masyarakat untuk membangun sarana dan prasarana rekreasi dan hiburan kemudian mengeluarkan kebijakan yang mempermudah pihak swasta melakukan expansi pembanguan mall atau taman hiburan. Ketika kemudian berganti pemimpin, arah kebijakan pun berganti dengan dalih meningkatkan produk anak bangsa dengan mengeluarkan kebijakan mempermudah syarat pembuatan alat transportasi murah dan berbagai contoh lain yang tentunya dapat Anda baca semua dari berita yang disampaikan media.

Tuntutan kita kadang kala justru membuat kita menjadi penyebab banyaknya bencana di kota kita. Pembangunan mall dan taman hiburan misalnya, itu membuat pengembang harus memangkas sebagian besar pohon dan taman-taman yang tadinya hijau menjadi gedung bertingkat. Tuntutan kita mengatasi kemacetan membuat pemerintah membentuk banyak jalan baru yang kemudian berimbas pula pada pohon-pohonan yang harus diratakan dengan tanah. Ketika musibah banjir terjadi karena kurangnya daerah resapan air, kita kembali menyalahkan pemerintah daerah yang tidak becus mengurus masalah pelestarian lingkungan maupun sampah.

Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, sebagai murid Yesus tidak sepantasnya kita bersikap dan bertindak sepertinya peduli padahal tanpa sadar kitalah penyebabnya atas beberapa bencana yang terjadi. Ketika Allah Bapa menciptakan dunia ini, Dia menciptakannya sempurna dan amat baik. "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam (Kej 1:31)." Injil juga berpesan, "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri (Yak 1:22)." Allah ingin agar kita hidup sebagai pelaku firman dan pelaku firman hendaknya mampu menjaga dan melindungi ciptaan Tuhan yang sempura dan SUNGGUH AMAT BAIK berupa dunia ciptaan-Nya ini.

Berusahalah dari hal-hal kecil seperti tidak membiasakan diri membuang sampah sembarangan, mengurangi polusi asap kendaraan bermotor dengan bersepeda, atau tidak membakar sampah, mulai memisahkan sampah organik dan non organik. Hal-hal yang kelihatannya remeh itu ternyata apabila dilakukan orang banyak tentunya akan berdampak positif bagi lingkungan kita.

Berhentilah mengeluh. Jangan banyak menuntut. Lakukan yang terbaik yang dapat Anda lakukan. Tetaplah membangun kebiasaan baik. Niscaya bumi yang hijau adalah kenyamanan bagi kita. Semoga Tuhan memberkati usaha dan niat baik saudara dan saya dalam memelihara bumi kita. Amin.