Sunday, June 12, 2016

Berproses Untuk Menjadi Murah Hati

Saudaraku, pernahkah Anda mengukur tingkat keimanan Anda pada Tuhan? Dalam skala 1 sampai 10, berapakah menurut Anda tingkat keimanan Anda? Pernahkah pula Anda berdoa untuk semakin diperbarui dan ditingkatkan keimanan Anda pada Tuhan? Beberapa orang yang saya kenal, pernah berkata bahwa dalam doanya mereka meminta untuk dibentuk menjadi semakin serupa dengan Yesus, menjadi bejana yang indah. Doa yang sangat indah dan bermakna sangat dalam. Namun kadang kala manusia tidak menyadari betapa kuatnya kuasa doa itu.

Ketika kita minta diberi kesabaran, kadang kala justru kita dihadapkan pada situasi yang menjengkelkan, kita bertemu dengan orang yang menyebalkan dan benar-benar menguji kesabaran kita. Ketika kita minta kerendahan hati, justru kita sering kali dihadapkan pada pujian-pujian dan penghargaan atas hasil kerja kita yang dapat menjurus pada rasa tinggi hati dan sombong. Situasi yang seringkali justru bertentangan dengan keinginan kita diijinkan terjadi pada kita oleh Tuhan karena Tuhan percaya bahwa kita bersungguh-sungguh ingin berubah dan menjadi semakin serupa dengan-Nya.

Ada sebuah kisah yang pernah terjadi pada seseorang, sebut saja dia "A". Pada suatu hari Minggu, saat mengikuti misa, A mendengarkan Injil Matius 20:1-16 mengenai Perumpamaan tentang orang upahan di kebun anggur. Dalam injil diceritakan tentang betapa Bapa itu Murah Hati. Begitu berkesan injil tersebut pada A, sehingga dengan sengaja A menambahkan dalam doa pribadinya keinginan untuk menjadi murah hati seperti Bapa.

Seminggu, dua minggu berlalu sejak A mendengar kotbah Pastor yang begitu berkesan tentang Kemurahan Hati Bapa, selama dua minggu itu pula A selalu berdoa minta kemurahan hati. Namun setelah beberapa minggu berlalu tiba-tiba ada seseorang yang menelepon A dan mengatakan bahwa B butuh bantuan. B adalah orang yang dulunya pernah menyakiti A, sehingga saat A mendengar bahwa B sedang perlu pertolongannya, A menjadi bimbang. Perlukah A menolongnya? Perlukah A membantu B yang pernah sangat menyakitinya dulu? Apa untungnya A menolong B? Apa gunanya dia membantu orang yang menyakitinya? A bisa saja menolak membantunya, butuh waktu yang cukup lama bagi A untuk akhirnya memutuskan akan membantu B. Hati kecilnya menolak untuk mengabaikan permohonan B. Suara Tuhan yang dia dengar menyadarkan A bahwa Tuhan mendengar doanya, bahwa Tuhan mengabulkan doanya. A ingin menjadi murah hati dan keputusannya untuk membantu B menunjukan tingkat keimanan yang semakin dewasa, keimanan yang mengajarkan cara menjadi semakin menyerupai Allah yang murah hati.

Sebagai pelayan gereja, kadangkala kita menjumpai rekan sepelayanan kita sering mendapat kepercayaan untuk melakukan ini dan itu. Dia sepertinya lebih dipercaya untuk melakukan lebih banyak hal dibanding kita. Kita menjadi iri hati dan menganggap itu tidak adil. Kita merasa bahwa kita dapat melakukannya lebih baik dari orang tersebut. Namun tetap saja yang mendapatkan tugas perutusan adalah orang tersebut, bukan kita.

Setelah mendapat perlakuan itu, kita menjadi kecewa, ada kemarahan dan rasa sakit hati karena merasa bahwa kita tidak mendapat kepercayaan tersebut. Kita lalu mulai menarik diri dan menghindar dari tugas dan tanggung jawab kita. Kita sibuk dengan pikiran kita sendiri yang bertanya-tanya apakah kita tidak layak sehingga harus mengalami kekecewaan ini? Ataukah orang lain lebih baik daripada kita? Pikiran-pikiran yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan kenyataan, hanya terjadi dalam pikiran kita sendiri saja. Kalau sudah terlanjur begini, lalu bagaimana dengan panggilan kita?

Yesus yang murah hati, mengajarkan kita bahwa kemurahan hati itu tidak terbatas ruang dan waktu, Matius 20:15-16 "Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Ketika Anda memutuskan untuk menjadi pelayan gereja, itu artinya Anda memutuskan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Saat Anda merasa sudah dekat dengan Tuhan, Dia akan mulai membentuk Anda menjadi semakin serupa dengan-Nya. Saat Anda sedang berproses untuk menjadi semakin serupa dengan Tuhan, Anda akan semakin mendekati cahaya-Nya. Cahaya yang akan menuntun Anda untuk semakin mengenal diri Anda sendiri. Cahaya yang akan menunjukan dan memperlihatkan semua cacat cela dan kelemahan yang Anda miliki. Kelemahan-kelemahan itulah yang harus Anda perbaiki agar menghasilkan sebuah bejana yang indah. Siapkah Anda bila Tuhan menunjukan kelemahan-kelemahan itu? Siapkah Anda untuk berubah setelah mengetahui kelemahan tersebut?

Tuhan yang murah hati selalu menunjukan pada kita jalan yang harus kita lalui agar dapat menerima kemurahan hati Tuhan yang berlimpah. Untuk menjadi pelayan yang layak di hadapan Tuhan, hendaklah kita meneladan satu demi satu sifat-sifat Allah. Semoga dengan belajar kemurahan hati, kita semakin didewasakan dalam iman. Semoga pula dengan berproses untuk menjadi murah hati seperti Bapa, semakin banyak orang yang merasakan kasih Allah yang begitu besar pada dunia ini. Mari berproses untuk menjadi murah hati seperti Bapa di surga juga murah hati. Tuhan memberkati.

Friday, May 6, 2016

Kemuliaan Allah Bukanlah Kemuliaan yang Tak Terjangkau

Berbicara tentang kemuliaan Allah, kadang kala kita dibuat berpikir dan membayangkan mengenai segala sesuatu yang menggambarkan keagungan Allah Sang Pencipta, segala hal yang terlihat luar biasa dan menakjubkan. Kemuliaan Allah selalu diidentikan dengan sesuatu yang kudus, suci dan penuh hikmat. Kemuliaan Allah tergambar dalam suatu bayangan yang tak terjangkau dan terlalu jauh bagi kita.

Seringkali dalam hidup, kita merasakan bahwa apa yang kita lakukan adalah sia-sia. Banyak pengorbanan yang kita lakukan sama sekali tidak berarti. Kita sibuk dengan dunia ini. Mencoba berdalih bahwa yang kita lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehingga kita seringkali lupa apa tujuan kita sesungguhnya melakukan semua itu.

Kita bekerja keras untuk mengumpulkan pundi uang kita demi kelangsungan hidup kita selanjutnya. Kita mencoba menyeimbangkan kehidupan duniawi dengan ikut beberapa kegiatan rohani. Kita berusaha mencari kemuliaan Allah yang "katanya" dapat memberikan kedamaian dan ketenangan. Lama kelamaan hidup menjadi bergulir selayaknya matahari yang tanpa komando tetap setia dengan rutin menyinari bumi ini. Semua kegiatan kita terasa hampa dan hambar.

Apabila kita mau sejenak melihat keadaan kita, pernahkah kita bertanya untuk apa sebenarnya selama ini menghabiskan banyak waktu dalam pekerjaan kita? Namun di sisi lain kita pun pasti pernah mendengar firman Tuhan yang berbunyi : "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Mat 6:33), rasanya terasa seperti ada pertentangan antara kehidupan keseharian kita yang menuntut banyak alasan untuk melakukan banyak kesibukan dengan perintah Allah sendiri.

Sama seperti yang dikatakan Yesus pada murid-Nya dalam Matius 25:45 "Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." Itu artinya sesungguhnya segala hal yang kita lakukan untuk saudara-saudara dan teman-teman kita, kita juga melakukannya untuk / kepada Tuhan.

Ketika kita berbuat baik kita melakukannya untuk Tuhan, ketika Anda berbuat kurang baikpun Anda melakukannya pada Tuhan. Maka hendaknya kita sadar bahwa setiap pekerjaan apapun yang kita lakukan saat ini adalah semacam alat yang Tuhan sediakan agar kita mau melakukannya untuk Tuhan.

Ketika saya sedang menulis, saya menulis sambil mencoba mengajak para pembaca untuk merenungkan peran Tuhan dalam hidup keseharian kita. Saat Anda sedang berjualan di toko, Anda sedang diajarkan makna kegigihan dan kesetiaan seperti teladan Yesus. Saat Anda sedang bekerja sebagai karyawan, sadarkah Anda bahwa saat ini Allah sedang menantang Anda untuk mengoptimalkan segala talenta yang telah Dia anugrahkan pada Anda sehingga prestasi demi prestasi dapat Anda peroleh?

Dalam setiap segi kehidupan kita, kadang kala akibat terlalu sibuk dan tidak pernah menyediakan waktu untuk Tuhan, kita menjadi tidak sadar bahwa sesungguhnya setiap hari dan setiap waktu, kita dapat menemukan dan memuji kemuliaan Tuhan. Kadang kala kita lupa bersyukur atas segala berkat yang sudah kita terima karena kita gagal menemukan kemuliaan Tuhan yang tak kasat mata itu.

Kemuliaan Tuhan itu sungguh tercermin dari apa yang kita lakukan setiap harinya. Kemuliaan Tuhan selalu berhasil mengecoh kita sehingga menjadi terabaikan. Sebagai seorang yang pernah atau sedang bekerja pastinya pernah mengalami memiliki atasan yanh kurang menyenangkan, namun apabila kita mampu lebih bersabar dan dengan rendah hati tetap bekerja dengan sebaiknya itu artinya kita telah memuliakan Allah dengan sikap dan perbuatan kita itu.

Hiduplah dalam hidup doa yang baik, sehingga Allah dengan senang hati akan menunjukan kemuliaan-Nya, yang ternyata bukanlah hal yang terkesan jauh dan tak terjangkau. Hiduplah dengan tetap menyeimbangkan pekerjaan dan pelayanan kita sehingga Tuhan sendirilah yang kemudian akan menyatakan kemuliaan-Nya. Mari saudaraku sekalian, kita sama-sama belajar untuk menyadari dan menemukan kemuliaan Tuhan dalam hidup sehari-hari kita. Mari menyadari bahwa Allah itu dasyat dan tak terselami kemuliaan-Nya. Semoga Anda dan keluarga senantiasa dapat menemukan kemuliaan Allah dalam setiap kegiatan yang Anda dan kelurga lakukan. Semoga Tuhan memberkati.

Friday, April 8, 2016

Keluarga Bahagia Dalam Naungan Kasih Allah

Beberapa waktu yang lalu, saya kembali membaca sebuah berita yang bagi saya adalah berita yang paling menyedihkan di dunia. Berita itu tak lain adalah berita seorang ibu yang digugat oleh anak kandungnya sendiri bahkan hendak dipenjarakan hanya karena harta! Bukan kali ini saja saya membaca berita memilukan seperti itu, tetapi telah banyak kasus dimana banyak anak kandung yang menelantarkan orang tuanya. Anak kandung yang menggugat bahkan memenjarakan orang tuanya hanya karena uang. Bahkan ada pula anak kandung yang tega membunuh orang tuanya sendiri. Bukankah berita-berita semacam itu adalah berita yang paling menyedihkan?

Sungguh tak dapat dibayangkan, anak yang dengan penuh cinta dikandung selama 9 bulan didalam rahim seorang ibu, setelah dewasa malah hendak mencelakakan ibunya sendiri, apakah anak itu masih ada hati nurani? Begitulah yang sering terlintas dalam pikiran saya dan mungkin juga Anda yang sama geramnya apabila mendengar hal seperti itu.

Apabila ada anak-anak durhaka yang begitu silau dengan harta sehingga tega mengorbankan orang tuanya, lantas siapakah yang salah? Apakah orang tuanya sendiri yang salah mendidik anaknya? Ataukah lingkungan yang salah yang mempertemukan anak itu dengan teman atau sahabat yang mempengaruhinya begitu buruk? Ataukah anak tersebut salah memilih pendamping hidup sehingga sang anak tega menyakiti orang tuanya sendiri karena dipengaruhi oleh pendamping hidupnya?

Tidak perlulah kita mencari kesalahan siapa yang terbesar. Yang terpenting justru bagaimana mencegahnya sehingga tidak ada lagi anak-anak yang durhaka pada orang tuanya. Orang tua yang terlalu sibuk tanpa sadar bahkan telah membentengi anak dari perilaku sosial yang kodrati. Anak menjadi anti sosial karena kemudahan dan kenikmatan yang menjadi alasan orang tua melepaskan tanggung jawabnya mendidik. Ketika alasan duniawi dijadikan hasrat pembenaran diri, lalu dimana kita mencari tumpuan cara mendidik anak?

Keluarga, yang seharusnya menjadi tumpuan dan tempat bernaung paling aman menjadi hal yang langka dewasa ini. Tuntutan hidup yang semakin mendesak kadang kala melogikakan dan membenarkan cara-cara yang salah. Hati nurani terkunci, silau dunia membutakan hati. Akal sehat diganti hawa nafsu, nurani berganti ambisi tak bertepi. Keluarga bukan lagi menjadi tambatan hati, melainkan tempat memuaskan hasrat duniawi. Keluarga tak lagi dapat menjadi pendukung dikala kehancuran, malah diri sendiri yang menciptakan kehancuran yang tak terperi. Lantas bagaimana sebaiknya kita menanggapi?

1 Korintus 13:2, 8, 13 "Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.  Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."

Kasih! Hanya satu kata yang menjadi jawaban yang universal. Keluarga menjadi tempat awal mula kita dapat menerapkan hukum yang paling utama ini. Allah yang dikenal pemarah dalam Kitab Perjanjian Lama pada akhirnya tidak memusnahkan seluruh umat manusia karena Kasih. Allah bahkan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menderita karena begitu besar KASIH-Nya pada manusia. Yesuspun memberikan teladan kasih pada kita dengan rela memberikan diri-Nya hingga wafat dikayu salib. Kasih itulah yang sudah seharusnya tertanam dalam keluarga kita.

Apabila kita mampu memberikan kasih kita seutuhnya pada kemuliaan Tuhan, maka tidak mustahil kita akan mampu membagikan dan mengajarkan pada keluarga kita bahwa bila kita melandaskan kehidupan kita atas dasar kasih maka tidak mustahil bila kita merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia apabila berada ditengah keluarga kita sendiri. Sebab Matius 6:33 "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Jadi bila kita mau memiliki keluarga yang harmonis, hendaknya kita mau mengandalkan dan mengasihi Allah dengan segenap hati dan pikiran kita, karena dengan kasih itulah maka otomatis kita juga dapat memancarkan kasih yang sama pada orang terdekat kita. Pada keluarga kita sendiri.

Saudaraku terkasih, janganlah menunda untuk mengasihi orang-orang terdekat dalam keluarga kita. Jangan biarkan hawa nafsu membutakan kita dari memberikan ungkapan sayang kita. Jangan sampai menyesal ketika maut memisahkan. Kasihilah sekarang, cintailah sekarang, perbaikilah sekarang semua komunikasi yang terputus dari keluarga kita. Karena biar bagaimanapun keluarga adalah harta yang tak ternilai. Mari saudaraku, kita meneladan keluarga Kudus dari Nazaret yang setia dan taat pada kehendak Bapa. Semoga Tuhan memberkati Anda dan keluarga. Amin. Selamat Paskah.

Saturday, January 9, 2016

Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah

Sekarang pukul 23:42 WIB saat saya mengetik kalimat pertama ini. Malam sudah sangat larut tetapi mata saya belum dapat terpejam karena saya sedang dalam suasana hati yang tidak enak. Saya adalah perantau dan cukup lama saya telah hidup dalam perantauan. Saya pernah beberapa kali berpindah kota, bahkan negara untuk tinggal selama beberapa waktu lamanya. Sebagai perantau, mungkin bagi Anda yang pernah mengalami atau sedang dalam perantauan pasti merasakan apa yang saya rasakan, bahwa memulai hidup ditempat yang baru itu tidaklah mudah.

Suasana yang baru, lingkungan yang belum dikenal, kebiasaan dan adat yang baru, bahkan bahasa yang berbeda seringkali menimbulkan ketakutan-ketakutan tersendiri bagi perantau. Disaat seperti itulah peran keluarga menjadi sangat dibutuhkan, dukungan dan semangat yang terus menerus dari keluarga pasti menjadi kekuatan tersendiri bagi orang yang hidup dalam perantauan.

Namun bagaimana dengan orang yang sudah lama tinggal sendiri? Orang tua sudah tidak ada, kakak/adik sudah membangun keluarga sendiri dan tinggal bersama keluarga baru mereka. Anda mau tidak mau dihadapkan pada situasi yang mengharuskan Anda untuk tinggal seorang diri dalam perantauan. Sedih, sepi, kosong, hampa dan perasaan sendirian pasti datang menghantui kehidupan Anda. Lalu bagaimana?

Umumnya Anda akan mulai bergabung dalam komunitas-komunitas tertentu yang Anda sukai hanya demi menghalau rasa kesepian itu. Lalu waktu kemudian menghadiahi Anda dengan suatu ikatan khusus yang dirasakan antar anggota komunitas yang Anda ikuti. Pada akhirnya, Anda seperti menemukan keluarga baru dalam hidup Anda yang mampu mengusir rasa kosong dan sepi yang Anda alami.

Jadi siapa sebetulnya yang dapat Anda sebut sebagai "keluarga"? Hanya saudara-saudara pemilik DNA yang samakah? Atau sahabat terbaik yang selalu hadir dalam setiap suka dan duka hidup Anda? Ataukah keluarga yang Anda maksud adalah semua orang yang mengenal Anda entah itu secara baik atau hanya sekilas saja dan pernah hadir dalam kehidupan Anda?

Bagi saya, keluarga adalah tempat dimana saya merasa paling nyaman dan bebas menjadi diri sendiri. Keluarga adalah mereka yang selalu mendukung saya, bagaimanapun sulitnya kehidupan saya, keluarga jugalah yang tanpa segan memberikan teguran pada saya apabila saya melakukan kesalahan.

Bagaimana hubungannya keluarga dengan kehidupan rohani Anda? Saat Anda telah terlibat dalam salah satu komunitas yang ada di paroki Anda, tentunya suasana kekeluargaan juga sudah dapat Anda rasakan. Seringkali dukungan dari anggota komunitas lebih kuat dibandingkan dukungan dari keluarga Anda sendiri. Saat Anda sedang dalam persoalan besar yang dihadapi dalam keluarga dan tidak dapat menemukan penyelesaian persoalan Anda, mungkin Anda dapat mencoba mencari penyelesaian dari sahabat sekomunitas Anda, kadangkala penyelesaiannya begitu sederhana saat Anda mencoba terbuka dengan sahabat Anda.

Semenjak dibaptis, ajaran Yesus yang paling melekat dan terus menerus diajarkan pada saya adalah ajaran tentang Kasih. Bahwa apapun yang kita lakukan, kepada siapapun kita berinteraksi haruslah dilandasi atas dasar Kasih. Hal itulah yang membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya rasa kekeluargaan yang kita terima dari orang lain yang bukan saudara kandung kita itu adalah kasih yang tulus. Itulah mengapa kita dapat merasakan memiliki keluarga baru dalam komunitas kita, dengan sahabat terbaik kita, dengan lingkungan terdekat kita. Rasa kekeluargaan itu otomatis akan muncul apabila kita menerima kasih yang tulus dari sahabat-sahabat kita.

Pernahkah Anda menghitung berapa orang sahabat yang paling dapat Anda percayai? Adakah diantara mereka yang dengan setia mendukung Anda baik dalam suka maupun duka? Apabila setidaknya ada satu orang saja yang dapat Anda sebut sahabat, maka patutlah Anda bersyukur atas hal tersebut. Manusia tidak mungkin hidup seorang diri, manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan orang lain untuk mengisi kekosongan hatinya. Ajaran tentang Kasih, merupakan obat ajaib yang mampu menyatukan hati yang retak, mendamaikan pertikaian karena ego, menenangkan pikiran akibat rasa kesepian, dan membahagiakan hati yang sedang gundah berkat canda tawa dengan para sahabat.

Saudaraku yang terkasih, hanya lewat tulisan saya dapat menyapa Anda. Lewat tulisan pula kadang kala saya sendiripun mendapat peneguhan, lewat tulisan saya dapat merasakan aura kebersamaan dengan Anda para pembaca. Ijinkan saya menganggap Anda sebagai keluarga saya, ijinkan pula agar saya terus dapat berbagi dengan Anda lewat tulisan-tulisan saya. Anda dengan pelayanan Anda dan saya dengan pelayanan saya, mari kita hidup bersama dalam damai sebagai keluarga Allah. Selamat tahun baru 2016. Semoga ditahun yang baru Anda dan keluarga Anda semakin diberkati Tuhan. Selamat melayani. Tuhan berkati.  

Tuesday, December 8, 2015

Sehati Sejiwa Berbagi Sukacita

Apa kabar saudaraku? Hari ini sungguh hari yang menyenangkan bagi saya. Semoga Anda pun mengalami hal yang indah hari ini. Ketika sedang bahagia seperti ini, kadang kala saya merasa bahwa Allah begitu dekat dengan saya. Ia hadir dan membuat saya tersenyum sepanjang hari. Bukan tentang hari ini indah maka Anda berbahagia, tetapi Anda berbahagia maka hari ini menjadi indah.

Saat orang sedang penuh sukacita, begitu mudah baginya untuk bersyukur. Tetapi saat sedang kesal atau marah ataupun sedih, rasanya rasa syukur pun lenyap begitu saja. Tak ada keinginan untuk bersyukur, kalaupun memaksakan rasa syukur itupun terasa hambar dan tak bermakna. Sebuah kisah yang ingin saya bagikan mungkin pernah Anda alami juga. Semoga kisah ini pada akhirnya membawa kita semua pada makna sukacita sesungguhnya.

Seorang yang saya kenal, saat ini sedang menyimpan amarah yang begitu besar. Tanpa menyadari apa yang dilakukannya, dia berkata bahwa ia membenci suaminya, ia membenci keluarga dari suaminya, ia bahkan menyesal telah membuat keputusan untuk menikah. Tak ada kata lain yang dapat terucap dari saya ketika mendengar keluh kesahnya. Sabar dan berdoa, hanya itu yang mampu keluar dari mulut ini ketika dia selesai bercerita. Sabar? Kurang sabar apalagi dia menghadapi situasi kehidupan keluarganya? Begitu dalihnya.

Berdoa? Entah berapa ratus ribu kali dia berdoa bahkan sambil menangis menghadapi cobaan ini. Tidakkah Tuhan mendengarnya? Mengapa tidak ada jawaban dari-Nya? Mengapa Ia menjauh dan tidak perduli dengan airmatanya? Mengapa Ia membiarkannya? Bukankah selama ini ia tekun berdoa, berusaha menjadi orang baik dan melayani sesama? Apa yang salah dalam hidupnya sehingga semuanya terjadi begitu menyedihkan? Apa salahnya sehingga ia harus mengalami semua ini? Bukannya membaik, kehidupannya malah terasa semakin terpuruk, terperosok semakin dalam dan gelap? Ia kecewa. Ia menyesal. Ia teriris dan sakit.

Nasihat tak lagi mempan. Kata-kata peneguhan pun terucap sia-sia. Seperti tak ada harapan, sulit menemukan jalan keluar yang terbaik. Saya mencoba meraih tangannya. Tapi ia tak mau menerima uluran tangan itu. Lalu bagaimana saya bisa menariknya keluar dari jurang jika ia mengeraskan hati seperti itu? Baginya semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Masa depan yang suram terbayang dimatanya. Dalam keputusasaan itu, tangan Tuhan bekerja. Yeremia 32:27 "Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku? Lukas 1:37 "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

Ketika Yesus di taman Getsemani, Ia berdoa, "Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki" (Markus 14:36). Ketika kita membiarkan diri kita sepenuhnya dipimpin oleh Allah, bahkan penderitaan seberat apapun bisa kita tanggung. Di dalam nama Tuhan, ada kekuatan, ada penghiburan, ada sukacita dan yang pasti ada harapan! Disaat semua pintu tertutup, yakinlah bahwa Allah telah menyediakan jendela lain terbuka. Ketika terperosok dalam jurang yang dalam, percayalah bahwa Allah telah menyediakan jalan untuk mendaki. Mungkin Dia tidak akan menyediakan anak tangga berlapis emas. Atau tangga batu yang terjal. Mungkin saja dia hanya menyediakan akar pohon yang kuat dan tersembunyi dibalik bebatuan, bukankah tugas kita untuk mencarinya? Mencari penuh keyakinan dimana sekiranya akar pohon itu tersembunyi, mencari penuh ketekunan di setiap celah-celah batu yang keras. Mencari dengan penuh kepercayaan, bahwa Tuhan telah menyediakan sarana bagi kita untuk mendaki jurang yang curam itu. Maukah kita mencari dan menemukan akar pohon itu? Mampukah kita bertekun dalam pencarian kita?

Saudaraku, Tuhan tidak pernah tidur. Ketika tidak ada kata lain yang bisa terucap oleh bibir kita, Dia tiba-tiba bekerja, Dia campur tangan memberi penyelesaian. Allah hadir dalam rupa yang tersamar. Kabar gembira lalu hadir, tiba-tiba saja, seperti hujan yang turun dan menyejukan, orang yang saya kenal itu berkirim pesan. Dia melihat ada harapan, keluarga suaminya mulai berubah. Ia pun luluh. Kebenciannya luntur, kemarahannya pudar. Ada harapan baru, ada lembaran baru dan yang pasti ada sukacita hadir.

Sukacita bukan sekedar kebahagiaan biasa. Sukacita adalah emosi terdalam yang hadir ketika kebahagiaan berpadu dalam relasi yang begitu dekat dengan Allah. Ketika hati kita bahagia, jiwa kita pun tersenyum. Jiwa kita yang selalu haus akan kebenaran, jiwa kita yang selalu mencari kedamaian, saat hati yang bahagia, bersatu dalam jiwa yang damai, saat itulah kita dapat berbagi dengan sesama kita penuh sukacita.

Ya, harapan membawa hati yang bahagia, jiwa yang tenang, telah membawa saya pada sukacita yang ikut saya rasakan ketika mendapat kiriman pesan singkat itu. Hati yang bahagia, jiwa yang tenang selalu hadir ketika kita berada dekat dengan Allah, ketika kita merasakan anugrah-Nya yang begitu nyata dalam hidup kita. Pada saat kita memiliki hati yang bahagia dan jiwa yang damai, kita akan bisa membagikan sukacita pada orang-orang disekitar kita. Percayalah selalu pada janji Allah. Dia setia. Dia Allah yang menghidupkan. Janji-Nya adalah YA dan AMIN! Allah hanya ingin agar kita setia, agar kita bersyukur, agar kita selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap hal di hidup kita. Marilah kita mendekatkan diri pada-Nya selalu. Dan marilah kita menjadi umat-Nya yang sehati dan sejiwa untuk berbagi sukacita, karena dengan berbagi sukacita, kita pun turut serta membagikan kasih pada sesama. Hati yang bersukacita menunjukan Allah yang hadir dan meraja dalam hidup kita. Selamat menyiapkan hati menyambut kehadiran Yesus. Selamat Natal. Semoga damai dan sukacita Natal menyertai Anda dan keluarga. Tuhan memberkati.

Saturday, November 7, 2015

Aku Semakin Mengenal Diriku Ketika Aku Datang Kepada-Nya

Kehampaan, kekeringan, kegusaran dan kesepian sedang menghantui hati saya ketika saya menuliskan kalimat pertama ini. Saya tak tahu dengan perasaan Anda saat membaca kalimat pembuka tadi, mungkin Anda pun sedang mengalami apa yang saya rasakan, tetapi semoga tidak. Meskipun demikian, saya harap Anda tetap melanjutkan membaca keseluruhan tulisan ini sebagai bahan permenungan.

Pada masa dimana teknologi begitu canggih dengan segala fasilitas instan yang dapat kita temui di hampir tiap sisi kehidupan dan hingar bingarnya dunia, rasanya mungkin sedikit aneh jika Anda dan saya masih merasa kesepian. Namun ada kalanya perasaan itu muncul begitu saja bahkan di saat Anda merasa sedang berada dalam keadaan yang menurut Anda sendiri baik-baik saja. Saat semua kebutuhan sehari-hari Anda sebetulnya sudah tercukupi, Anda masih punya pekerjaan ataupun usaha sendiri, masih bersosialisasi dengan teman dan para sahabat, hubungan dengan keluarga Anda pun sebetulnya baik-baik saja, namun entah mengapa dan bagaimana tiba-tiba rasa sendirian dan kesepian itu kerap muncul.

Sebagai anak muda dengan semakin bervariasinya hiburan masa kini kerap kali juga perasaan hampa muncul begitu tiba-tiba. Ternyata hingar bingar dunia ini tetap tidak mampu memberikan kedamaian di hati. Lalu apa yang salah? Apa yang kurang? Jawabannya saya dapatkan ketika saya berbincang dengan seorang pastor. Dia bilang saya kehilangan sinar terang dari Yesus Kristus.

Yesus Kristus? Untuk apa saya mengikuti Dia? Bukankah Dia sendiri bersabda, "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Mat 16:24). Bukankah itu artinya dengan mengikuti Kristus kita harus memikul salib? Pernahkah Anda berpikiran bahwa semakin Anda dekat dengan Kristus justru cobaan yang Anda terima semakin berat dan bertubi-tubi? Saat Anda kemudian membatasi diri dengan tidak mendekatkan diri pada Tuhan kehidupan yang Anda jalani justru terasa baik-baik saja? Anda tidak menjauh dari Tuhan, Anda hanya tidak mau mendekat saja pada-Nya dan semua terasa baik-baik saja. Cobaan yang Anda terima pun standar, biasa dan tidak terasa berat. Kehidupan rohani pun standar. Tidak menjauh namun tidak pula mau terlalu dekat dengan-Nya. Semua terlihat dan terasa ringan, berjalan sebagaimana mestinya.

Ketika saya mempertanyakan perihal mengikut Yesus ini, seorang sahabat mengatakan bahwa dengan diijinkannya pencobaan datang pada kita, iman kita justru semakin diteguhkan dan pada akhirnya kita bisa "naik kelas" dengan tingkat iman yang lebih tinggi.

Namun kekeraskepalaan saya mencoba menyangkalnya dan berpikir untuk apa naik kelas kalau hanya untuk mendapatkan penderitaan yang justru lebih berat? Beginilah jawaban yang saya terima dari seorang pastor : Bayangkan saja... Tuhan adalah terang. Makin dekat Dia, kamu jadi makin kenal dirimu. Maka, ketika kamu jauh dari Tuhan malah merasa baik2 saja. Karena kamu tidak mau kenal diri apalagi memperbaikinya. Tetapi ketika kamu makin dekat dengan Tuhan, justru makin kenal diri. Banyak hal jelek yang selama ini kamu tutupin jadi keliatan atau ketahuan. Jadi kamu bisa memperbaiki diri. Lama kelamaan kamu jadi makin baik. Itu maksudnya naik kelas. Apabila kita jauh dari Tuhan berarti kita tidak bisa kenal diri. Nanti kamu sampai tidak tahu kenapa dirimu begini dan begitu. Ya hanya main di permukaan dan kepura-puraan. Cobaan akan terasa berat kalau ditanggung sendiri. Kita punya Tuhan yang hebat kog (dan disitulah saya berhenti mendebat, hehehe).

Saya tersadar bahwa kehampaan, kesepian, kekeringan dan kegusaran yang saya alami saat ini akibat dari perilaku saya sendiri yang tidak mau mendekatkan diri pada Tuhan. Saya terlalu takut untuk merasakan pencobaan berat lagi, saya terlalu takut kehilangan lagi, saya terlalu takut menderita lagi, padahal seharusnya saya tidak boleh mengandalkan kekuatan sendiri, kita kan punya Tuhan yang hebat! Tidak seharusnya kita menjauh dari Tuhan karena ketakutan kita. Tidak seharusnya kita melepaskan pelayanan kita hanya karena kita tidak mau menanggung salib hidup kita. Tidak seharusnya kita mengabaikan kehadiran Tuhan dan mengandalkan kekuatan sendiri. Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa kita punya TUHAN YANG HEBAT!

Saya beruntung, selagi masih muda saya diingatkan dan diperlihatkan oleh Tuhan cara hidup yang benar dan seturut kehendak-Nya untuk mendapatkan pencerahan dan kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan, untuk mendapat pelajaran yang berharga tentang makna hidup dan mengasihi Tuhan. Sebagai kaum muda mari kita sama-sama belajar untuk semakin taat akan panggilan dan perutusan kita.

Yeremia 1:6-8 "Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Siapapun kita, berapapun usia kita saat ini, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai pelajaran hidup kita. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai atau memulai lagi pelayanan kita. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menjawab panggilan dan perutusan kita. Selalu ada tempat bagi kita jika kita mau melangkah dan melayani Tuhan. Jangan sisakan waktu untuk Tuhan tetapi selalu sediakanlah waktu untuk mendekatkan diri pada-Nya. Dia selalu rindu menantikan kehadiran kita. Dia selalu rindu bercakap-cakap dengan kita. Dialah Allah yang sabar, Allah yang setia, Allah yang Maha Kuasa. Dialah Allah kita. Semoga Tuhan menguatkan dan memberkati Anda dan keluarga. Selamat melayani, Tuhan menyertai Anda.

Saturday, October 10, 2015

Maria sebagai Lambang Keteladanan

Sebagai orang Katolik, rasanya sudah tidak asing lagi dengan bulan Oktober yang selalu diidentikan sebagai bulan Maria. Yup! Siapa yang tak kenal dengan sosok Bunda Maria ibunda Yesus yang begitu setia mendampingi Yesus sampai dengan kematian-Nya di kayu salib. Bunda Maria menjadi teladan bagi banyak orang terutama umat Katolik. Begitu banyaknya devosi-devosi yang ditujukan pada Bunda Maria. Patung-patung Maria pun selalu ditemukan pada tiap-tiap rumah umat Katolik. Namun sesungguhnya, pernahkah Anda bertanya mengenai siapa sosok Maria sebenarnya dalam hidup Anda?

Ketika melihat lukisan Bunda Maria, ataupun melihat patung Bunda Maria, yang terbayang dalam benak saya adalah keanggunan, kepatuhan, kesetiaan, kesabaran, kelembutan, dan kerendahan hati. Wanita yang pada masa sebelum Yesus dilahirkan selalu digambarkan sebagai tokoh yang lemah, tidak dipandang, tidak penting, dan kedudukannya selalu dianggap lebih rendah dibanding laki-laki. Namun Allah justru memakai wanita sebagai sarana untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Jujur saya akui, sulit bagi saya menulis tentang Maria. Tokoh Kitab Suci yang telah dikenal dekat dengan gereja Katolik. Saya kehabisan kata-kata, tak mampu merangkai sebuah kalimat pun untuk memulainya. Karena bagi saya, semua tentang Maria adalah kesempurnaan. Keteladanannya, kepatuhannya, kesetiaannya dan semua keyakinannya akan kehendak Bapa begitu sempurna. Lalu apa lagi yang harus saya tulis disini?

Disebutkan dalam Kitab Suci, Maria adalah seorang wanita yang diberkati Tuhan, "Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau" (Luk 1:28), namun apabila kita baca dalam kisah hidup Maria setelah bahkan sebelum melahirkan bayi Yesus, rasanya lebih banyak penderitaan yang ia alami. Bayangkan saja sekarang, ketika Anda harus melahirkan di kandang domba, bagaimana perasaan Anda? Atau ketika anak Anda hilang namun berlaku seolah tidak ingin ditemukan seperti dalam kisah Lukas 2:48-49 "Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Derita terberat yang harus dihadapi Maria adalah saat mendampingi putra tunggalnya mengalami jalan salib yang begitu kejam sampai menyaksikannya wafat di kayu salib. Dapatkah Anda membayangkan perasaan itu? Dapatkah Anda masih beranggapan bahwa Maria adalah wanita yang diberkati Tuhan? Bila ia benar diberkati Tuhan, bukankah terasa tak adil baginya untuk mengalami penderitaan yang begitu besar dalam hidupnya?

Bandingkan dengan Anda sekarang, saat Anda mengikuti perayaan ekaristi di gereja. Setiap akhir misa Pastor akan memberkati Anda dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, namun setelah menerima berkat dari Tuhan, sungguhkah Anda merasa terberkati dalam hidup Anda ketika setelah misa harus dihadapkan dengan pulang ke rumah mengurus orang tua Anda yang sakit-sakitan dan sudah pikun, suami Anda yang malas, mertua Anda yang tidak pernah menghargai Anda, anak Anda yang rewel dan tidak mau berhenti merengek. Belum lagi dengan urusan rumah tangga lain yang belum selesai, atau pekerjaan yang harus dibawa pulang karena harus menyiapkan presentasi keesokan harinya. Dan seolah itu semua belum cukup, tetangga Anda yang selalu bertengkar sehingga mengganggu sekitarnya. Saudara Anda yang meminjam uang Anda, sahabat Anda yang telah menikam Anda dari belakang dengan menipu Anda. Bayangkan situasi2 berat lain yang Anda alami saat ini, sungguhkah Anda merasa terberkati seperti Maria padahal rasanya hanya penderitaan saja yang Anda rasakan sejak mengenal Yesus?

Lukas 1:46-48 "Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia." Sesungguhnya Tuhan TIDAK PERNAH menjanjikan bahwa LANGIT itu selalu CERAH, BUNGA selalu MEKAR dan MATAHARI selalu BERSINAR. Tapi ketahuilah bahwa DIA selalu memberi PELANGI di setiap BADAI, SENYUM di setiap KESEDIHAN, BERKAT di setiap COBAAN, dan JAWABAN di setiap DOA. Dia berjanji bahwa Dia akan selalu menyertai Anda dalam setiap langkah hidup Anda. "Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:20)

Ketika Anda merasa mengalami kepahitan, bukankah Anda patut bersyukur ketika diberi kesempatan untuk merawat dan sedikit membalas jasa orang tua Anda disaat banyak orang lain telah kehilangan orang tua mereka? Bukankah Anda patut bersyukur atas anak Anda yang merengek disaat banyak keluarga merindukan kehadiran seorang anak? Saat Anda merasa tidak dihargai oleh mertua Anda, bukankah sepatutnya Anda bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan bagi Anda untuk mengenal dan belajar tentang kemurahan hati, kesabaran dan ketulusan melayani sesama? Ketika Anda suntuk dan jenuh melakukan rutinitas pekerjaan atau usaha Anda, bukankah sepatutnya Anda bersyukur bahwa Tuhan memberi Anda kesempatan untuk berkarya? Karena sesungguhnya tidak akan ada kepahitan dan penderitaan saat Anda mampu bersyukur dengan segala kerendahan hati dan mampu berpengharapan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap detik kehidupan Anda.

Maria telah lebih dahulu mengalaminya, dalam kepasrahan dan ketaatannya ia mau menerima panggilan Tuhan. Ia dengan rela menjalankan setiap peristiwa dalam hidupnya, baik yang bahagia maupun yang penuh derita. Meneladan Maria berarti kita mau belajar keikhlasan seperti dia. Maria tidak pernah menyesal pada pilihannya menerima kehendak Bapa. Ia patuh, ia setia, ia ikhlas hati dan ia berbahagia. Keikhlasan yang begitu indah yang mengajarkan pada kita bahwa mengikuti Tuhan dan menerima panggilan-Nya berarti juga harus mampu setia pada ajaran dan teladan-Nya. Maukah kita menjadi Maria-Maria masa kini yang dengan ketaatan seperti Maria pada akhirnya mampu menyebarkan kebaikan pada orang lain di sekitar kita? Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum - Jadilah padaku menurut perkataan-Mu. Semoga Tuhan memberkati Anda.