Saturday, June 6, 2015

Mampukah Saya Menjadi Paulus Masa Kini?

Saya beruntung terlahir dalam keluarga Katolik. Mengapa beruntung? Karena setelah puluhan tahun menjadi seorang Katolik saya banyak belajar tentang Yesus dan membuat saya semakin hari semakin mencintai Yesus. Saya memulai pelayanan saya sebagai seorang misdinar saat masih kecil, bukan karena saya merasa terpanggil sebagai misdinar ketika itu. Namun lebih karena mengikuti kakak saya yang lebih dahulu menjadi misdinar. Saat itu, sama sekali saya tidak mengerti mengapa saya mau mengikuti jejak kakak saya menjadi misdinar. Mengerti pun tidak soal pelayanan, hanya ikut-ikutan dan kesannya keren-kerenan karena sebagai misdinar kita mengenakan jubah saat bertugas.

Menjadi semakin dewasa dan lebih mengerti tentang pelayanan membuat pelayanan saya semakin bertambah, mulai mengikuti kegiatan koor, karismatik, lektor, taize, komsos dan pernah pula mengikuti legio Maria. Terdengar banyak sekali yaa kegiatan saya? Hahaha, tidak sebanyak itu sebenarnya. Saya sedang mencari kegiatan yang paling cocok dengan pribadi saya sehingga saya mencoba banyak sekali komunitas di gereja. Itulah kekayaan gereja Katolik yang membuat saya semakin jatuh cinta. Banyak jenis kegiatan yang bisa kita pilih sesuai dengan panggilan kita.

Saya bercerita sekilas tentang masa lalu saya sebenarnya karena saya ingin bercermin pada pribadi Santo pelindung paroki kita. Ya, siapa lagi kalau bukan St. Paulus? Berbeda dengan saya yang terlahir dari keluarga pengikut Kristus, St. Paulus justru mempunyai masa lalu yang berkebalikan dengan masa lalu kita dan mungkin sebagian besar umat katolik di dunia yang terlahir sebagai katolik. St. Paulus lebih dikenal dengan masa lalu yang kelam. Dia kejam, dia menganiaya pengikut Kristus, dan bahkan sampai bertekad membinasakan para pengikut Kristus. Sejak kecil St. Paulus tidak mengenal Kristus, sampai akhirnya Allah sendiri yang menjamahnya dan membuat St. Paulus bertobat.

Dalam pertobatannya itu, St. Paulus menjadi salah satu pengikut Kristus yang justru paling bersemangat mewartakan tentang Yesus. St. Paulus dengan segala usahanya dan surat-suratnya membawa banyak jiwa-jiwa baru yang bertobat. Ia sangat aktif berkelana untuk memberitakan tentang Injil. Semangat pertobatannya bahkan jauh melebihi semangatnya dahulu ketika ingin membinasakan pengikut Kristus.

Ketika saya merenungkan perjalanan hidup saya yang terlahir Katolik dan perjalanan kekatolikan saya entah mengapa rasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjalanan St. Paulus yang dengan segala pertobatannya mau dan mampu terlibat dalam masyarakat, berbaur dengan sesama dan bahkan mengajar mereka untuk kemudian menunjukan pada mereka bagaimana sikap pengikut Kristus itu seharusnya. Ketika hidupnya bahkan terancam karena pengajarannya, St. Paulus telah memilih untuk tetap setia dengan keyakinannya.

Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada kenyataan pahit yang membawa kita pada masa kelam. Kadang pula justru kita diberikan rahmat kelimpahan yang bagi sebagian orang malah membuatnya buta dan angkuh. Ketika kita dipercaya untuk memimpin beberapa orang saja, kita kadangkala merasa bahwa kitalah yang paling hebat, kita mampu disaat orang lain tak mampu. Kita menjadi lupa bahwa ada tangan tak terlihat yang telah mengatur kita.
Saat-saat kita diuji, kerap kali kita justru menghindar, menjauh, bahkan menghilang dari hadapan Tuhan. Kita marah, kita memaki, kita mengancam Tuhan, kita terus menyalahkan-Nya mengapa kita harus melewati ujian itu. Saya sering kali membaca di media sosial tentang orang-orang yang dari luar saya pikir adalah pribadi yang religius dan suci, namun berkomentar buruk di media sosial. Kata-katamu mencerminkan kualitas dirimu. Itu yang selalu diajarkan pada saya sejak dulu. Mungkinkah seorang pengikut Kristus melayani Tuhan sambil menggerutu? Apa pantas pelayan Tuhan memuji dan memuliakan Tuhan dengan nyanyian puji-pujian tetapi disaat yang bersamaan juga memaki dan menghujat sesamanya?

Menjadi seperti St. Paulus pada masa sekarang tidaklah perlu berkelana kesana kemari sambil memberitakan Injil seperti yang dilakukan oleh St. Paulus. Cukup dengan menjaga tutur kata kita, intonasi cara bicara kita, rasanya hal-hal kecil itulah yang sering kali terlewatkan oleh kita dalam bersikap sebagai pengikut Kristus. Paulus mengajar kita tetap setia walau dalam ujian. Paulus mencontohkan pada kita cara hidup yang pantas sebagai seorang pengikut Kristus. Paulus bahkan mewariskan pada kita surat-suratnya yang dapat kita jadikan acuan hidup kita.

Begitu banyaknya pengajaran St. Paulus yang kita baca dalam Kitab Suci, apakah ada salah satu dari kita yang berusaha untuk meneladan hidupnya? Ataukah ada yang terpanggil untuk menjadi pewarta seperti St. Paulus? Ketika kita sudah terpanggil menjadi pelayan Tuhan, apakah kita tetap rendah hati dan mengakui karya-karya kita itu sebenarnya adalah bukti keberadaan Tuhan di dunia? Ataukah kita terlalu sibuk dengan memegahkan diri dan beranggapan bahwa kita telah berusaha sekuat tenaga dengan kekuatan sendiri saja? Apakah kata-kata yang terucap dari mulut kita adalah kata-kata yang mengandung berkat? Apakah kita dapat menjadi teladan yang baik bagi sesama kita? Apakah kekatolikan dan pengajaran yang kita terima selama menjadi pengikut Kristus telah kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari kita? Mari kita bersama meneladan St. Paulus yang dalam pertobatannya telah berkembang menjadi pribadi yang mencerminkan sikap dan pelaku firman Allah. Semoga Tuhan memberkati kita semua dalam peziarahan kita menjadi pribadi-pribadi yang mau semakin dibentuk oleh-Nya. Amin.

Friday, April 10, 2015

Apa Arti Kebangkitan Yesus Menurut Anda?

Bangkit bersama Kristus. Itulah tema yang disebutkan kala saya menanyakan tema untuk tulisan kali ini. Sebuah tema sederhana yang mengandung sejuta makna. Saat saya menulis ini, suasana sedang hujan deras disertai dengan angin yang kencang. Gumuruh halilintar sesekali terdengar ditengah derasnya hujan. Saya teringat pada kisah sengsara Yesus yang dibacakan pada saat kita merayakan hari Minggu Palma. "Ketika itu, tabir bait suci terbelah dua dari atas sampai kebawah", yah sepenggal kalimat itu yang saat ini tergambar dalam benak saya ketika menyaksikan hujan lebat dihadapan saya. Pertobatan Kepala Pasukan yang melihat Yesus wafat lalu tabir bait suci terbelah dua membuat saya mampu membayangkan suasana yang dikisahkan dalam kisah sengsara itu.
Pertobatan kepala pasukan yang berkata "Sungguh orang ini, Anak Allah" seakan ingin mengajarkan pada kita bahwa saat kita melihat ataupun mengalami sebuah peristiwa yang begitu membekas, begitu berkesan dalam kehidupan kita kadang kita pun baru menyadari kebesaran Tuhan. Ketika saya bercerita pada seorang teman betapa lelahnya mempersiapkan diri menyambut Paskah, dengan banyaknya jadwal pertemuan, latihan, gladi resik dan sebagainya, dia berkata bahwa sudah lebih dari 1 tahun ini dia tidak pergi ke gereja karena kesibukan dan lain-lainnya. Saya lalu berpikir, berapa banyak diantara kita yang mengalami peristiwa yang sama seperti yang saya alami. Yang seorang sibuk latihan misdinar, yang lain sibuk jalan-jalan di mall. Yang seorang sibuk latihan lektor/pemazmur, yang lainnya bersenang-senang ditempat karaoke. Yang seorang sibuk rapat prodiakon yang seorang sibuk dengan pekerjaannya dikantor. Ada pula yang sibuk dengan rapat panitia persiapan Paskah namun disisi lain ada yang malah sibuk merencanakan piknik bersama rekan-rekannya.
"Akhh, selama saya menjadi orang baik, tidak merugikan sesama, tetap menjunjung tinggi kejujuran, cukup beramal dan tetap bersikap ramah pada orang lain rasanya itu juga cukup. Tidak perlulah rajin-rajin ke gereja, untuk apa buang waktu untuk jadi pelayan gereja? Toh sama saja yang saya lakukan sudah baik dan tidak melanggar perintah agama". Begitu biasanya yang sering dikatakan banyak orang tentang pilihan untuk tidak bersedia terlibat dalam kegiatan keagamaan. Seringkali pula orang malah berkata, "Bukankah lebih baik tidak ke gereja tapi jadi orang yang baik, daripada jadi pelayan gereja tapi tingkah lakunya tidak menandakan orang yang beragama? Banyak tuh aktivis gereja yang malahan sikap dan perbuatannya lebih buruk dibanding orang yang tidak beragama". Pernah Anda mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu?
Banyak! Mungkin tidak hanya banyak tetapi juga sering Anda mendengar orang melontarkan pernyataan-pernyataan tersebut. Lalu bagaimana reaksi Anda? Membenarkan dan setuju dengan pernyataan tersebut? Ataukah membela dan mendebat orang-orang tersebut? Jikalau Anda sedang berada di dekat saya saat ini dan sedang berdiskusi dengan saya, saya akan menjawab bahwa saya setuju dengan pernyataan yang disebutkan diatas. Yaa, tidak dapat saya pungkiri bahwa pada kenyataannya banyak aktivis gereja yang hidupnya bahkan tidak menggereja. Banyak berkeluh kesah padahal setiap minggu ke gereja. Sulit bersyukur padahal kebutuhan sehari-harinya dapat terpenuhi dengan baik. Setiap hari mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu gereja namun saat senggang membicarakan kejelekan orang dibelakang. Aktif sebagai pelayan gereja namun memperlakukan istri/suami/anaknya dengan kasar. Menjadi pengurus dalam komunitas gereja namun semena-mena pada karyawannya. Yaa, banyak yang begitu. Namun apakah Anda mau menjadi orang yang seperti itu? Apakah Anda tidak malu jika tingkah laku Anda dalam lingkungan menggereja bertentangan dengan kehidupan sehari-hari Anda di luar gereja?
Terkadang Tuhan memberikan cobaan untuk membentuk kita menjadi lebih kuat. Terkadang kita didekatkan pada orang yang menjengkelkan agar kita belajar tentang kesabaran. Kita dikelilingi oleh orang malas agar kita bekerja lebih keras. Kita diperlihatkan kesuksesan dan kekayaan orang lain dengan cara kotor agar kita dapat mensyukuri hidup kita yang sederhana namun jujur. Kita dihadapkan dengan aktivis gereja yang tingkah lakunya tidak sesuai dengan hidup menggereja agar kita dapat bercermin, akan menjadi pelayan Tuhan yang seperti apakah kita?
Kebangkitan Yesus adalah kebangkitan kita semua yang percaya kepada-Nya. Kebangkitan- Nya menjadi tanda awal kehidupan yang baru. Daripada sekarang Anda sibuk menghakimi orang lain, bukankah sebaiknya kita bercermin dan berbenah diri mengisi hidup baru kita dengan menabur benih baik? Daripada sibuk memikirkan kenapa dia begitu dan dia begini, bukankah lebih baik kita tetap bersikap anggun dan rendah hati? Daripada memikirkan mana yang benar dan salah, bukankah lebih baik mencari cara untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan?
Kebenaran sejati hanyalah milik Allah. Janganlah kita disibukan dengan mencari mana yang benar dan salah. Setiap kita dianugerahi hati nurani yang akan selalu berbisik pada kita saat kita salah melangkah. Orang yang dekat dengan Allah, hati nuraninya pasti akan membisikan suara-suara dari Allah. Memang menjadi orang yang baik adalah tujuan hidup semua orang, namun alangkah lebih sempurna jika hidup yang baik itu juga ditandai dengan kedekatan dengan Allah sendiri.
Mari kita memaknai dan mengisi kebangkitan Yesus dengan semangat yang baru, dengan komitmen yang teguh, dan dengan niat yang tulus. "Tuaian memang banyak, namun pekerja sedikit", itulah cambuk pengingat bagi kita agar bersedia dipanggil Tuhan untuk menjadi pekerja-pekerjanya yang setia. Allah itu setia, Dia tetap setia memanggil kita untuk melayani-Nya meskipun kita sering mengabaikan-Nya. Allah itu Murah Hati, Ia akan membayar upah yang sepadan pada kita yang berniat tulus melayani-Nya. Mari kita berbondong-bondong mengikuti-Nya dan melayani-Nya, mengisi hidup baru kita dengan kesetiaan dan kelemahlembutan. "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Ku jadikan penjala manusia." Mari kita bangkit bersama Kristus. Selamat melayani. Semoga Tuhan memberkati Anda dan keluarga.

Friday, March 6, 2015

Bagaimana Memaknai Masa Prapaskah?

Ketika saya diminta untuk mendefinisikan masa Prapaskah dalam sebuah kalimat atau kata sederhana, dengan mudah saya akan menjawab: Masa Pertobatan tanpa ragu sedikitpun ataupun tanpa perlu berpikir dengan keras. Namun ketika saya diminta untuk menulis artikel tentang "Pertobatan Sejati", saya langsung terdiam (kalau kata orang Sunda sih bisa dibilang saya langsung "ngahuleung"). Apa ya yang sebaiknya saya tulis? Pertobatan seperti apa ya yang disebut sebagai SEJATI? Bagaimana bentuknya pertobatan sejati itu? Reaksi bingung saya ini membawa saya pada permenungan yang sangat panjang.
Setelah berguru kesana kemari mulai terbukalah pandangan saya. Banyak pikiran-pikiran besar dan muluk-muluk yang saya bayangkan sebelumnya tentang pertobatan sejati itu. Namun saya salah besar ketika akhirnya saya mendapat pencerahan itu. Hal-hal yang sebenarnya sederhana dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari pin dapat membuat kita memaknai makna Masa Prapaskah itu sendiri.
Pada awal tahun baru 2015 yang lalu kita diajak untuk merenungi resolusi kita di tahun yang baru, apakah resolusi yang kita tuliskan di agenda itu hanya resolusi dalam hal pemenuhan kebutuhan duniawi saja? Ataukah resolusi yang kita doakan dan dan kita targetkan itu adalah resolusi yang berpusat pada pengembangan diri dan pertumbuhan iman kita? 
Saat melihat kembali resolusi pribadi saya di awal tahun 2015 ini, saya menyadari bahwa resolusi yang saya tuliskan lebih banyak untuk memenuhi kepuasan sendiri saja. Ingin punya smatphone paling canggih, ingin punya mobil, ingin ini, ingin itu dan makin bertambah daftarnya saat kemarin menjelang tahun baru Imlek. Ketika saya diminta menulis tentang pertobatan sejati ini, saya langsung mencoret semua resolusi saya yang panjang itu.
Menurut 1 Korintus 7:32-34, "Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya." Saat membaca penggalan perikop Kitab Suci tersebut, saya kembali disadarkan bahwa pertobatan sejati itu adalah sebuah pilihan sikap yang sebaiknya kita jalani.
Saat kita memilih untuk bertobat, hendaknya kita bertobat dengan sungguh-sungguh. Sungguh ingin menjadi pribadi yang lebih rendah hati pada saat sekarang dimana kita dipercaya memimpin suatu perusahaan atau komunitas atau organisasi tertentu. Sungguh ingin menjadi anak yang berbakti dengan rajin belajar dan membantu orang tua. Sungguh ingin menjadi pribadi yang berjiwa besar saat melihat teman, tetangga ataupun saudara kita sendiri yang ternyata telah mencapai apa yang belum kita capai. Sungguh menjadi pribadi yang ingin semakin lebih dekat dengan Tuhan lewat pelayanan kita. Menjadi pribadi yang bertobat adalah pribadi sederhana yang hanya memusatkan perhatian demi perkembangan iman dan pelaksana ajaran-ajaran Tuhan sendiri.
Saat menilik kembali batin kita dan janji-janji yang pernah terucap pada Tuhan namun sampai sekarang belum kita wujudkan, saat itulah kita disadarkan bahwa masih banyak dari kita yang hanya sibuk dengan urusan kita sendiri tapi lupa berbenah diri. Tak jarang pula orang yang terlibat dalam pelayanan di gereja, dari luar tampaknya suci dan dekat dengan Tuhan, begitu religius dan kudus, namun membuat status di media sosial dengan kata kasar maupun keluhan yang seolah tak berakhir.
Hal sekecil apapun yang ingin kita ubah, niat sekecil apapun yang kita coba wujudkan sedikit demi sedikit itu tentunya jauh lebih berharga dibanding janji muluk dan kata-kata indah yang kita pasang di status media sosial kita. Niat yang tulus dan sungguh dilaksanakan itulah yang merupakan pertobatan yang Tuhan kehendaki. Entah sudah berapa banyak Paskah yang pernah kita rayakan. Entah berapa banyak pula pantang dan puasa yang pernah kita lakukan. Apakah dengan banyaknya hari dan tahun itu kita sungguh menjalankan amanat Bapa?
Apakah kita sudah lebih rajin ke gereja? Apakah kita sudah memulai pelayanan kita sebagai anggota gereja? Apakah kita sudah mulai memperbaiki hubungan yang pernah rusak karena masalah tertentu? Apakah kita sudah jujur mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan? Sudah rendah hatikah kita saat kita sedang dalam posisi puncak? Sudah penuh syukurkah kita bahkan disaat-saat paling menyedihkan dalam hidup kita? Sudah minta ampunkah kita saat kita sedang dalam lembah kekelaman? Sudah memberi maafkah kita pada musuh-musuh kita? Sudah berjanjikah kita menjadi pribadi sederhana yang mau menerima dan melaksanakan setiap Sabda Allah?
Bukan manusia yang sempurna yang Tuhan harapkan, namun manusia yang penuh kelemahan namun selalu berusaha memperbaiki dirilah yang pada akhirnya dipilih oleh Allah. Beranikah kita menjadi orang-orang pilihan itu? Beranikah kita mengalami pertobatan sejati yang dipupuk mulai hari ini? Semoga kita selalu diingatkan pada lambang Salib abu yang kita terima pada saat misa Rabu Abu, lambang pertobatan dan pengingat kita agar terus memperbaiki diri sebelum kita kembali menjadi abu. Mari saling menguatkan dan bertobat. Semoga Tuhan memberkati Anda dan keluarga. Amin.

Tuesday, January 13, 2015

Jawab Apa ya Kalau Ditanya Resolusi 2015??

Memang bagi orang yang merasa sedang bahagia, ia pasti berpikir mengapa waktu cepat berlalu. Tapi bagi orang yang sedang bersedih, orang malah berpikir sebaliknya, mengapa waktu berjalan lambat sekali. Rasanya ingin sekali segera mengakhiri perasaan sedih ini. Begitulah kira-kira bagaimana suasana hati mempengaruhi penilaian kita akan sesuatu yang kita sebut dengan "WAKTU".

Bagi saya pribadi, rasanya cukup menakjubkan juga, tak terasa kita sudah ada di awal tahun yang baru, tahun 2015. Perubahan yang terjadi dalam setahun itu terasa sangat banyak. Ada kehilangan, ada pernikahan, ada kesusahan dan ada kebahagiaan yang apabila diingat kembali ternyata kenangan selama tahun 2014 membawa banyak pengalaman dan pelajaran baru dalam perkembangan hidup seseorang, termasuk Anda dan saya.

Lalu memasuki tahun 2015, mulai muncul banyak pertanyaan baru. Apa resolusi Anda untuk tahun 2015 ini? Hmm, sebetulnya seberapa pentingnya menetapkan sebuah resolusi itu? Apa manfaatnya bagi kita? Bagi saya, menetapkan resolusi itu akan memberikan warna baru bagi kehidupan. Kenapa begitu? Karena dengan menetapkan sebuah resolusi artinya kita memiliki tujuan-tujuan hidup yang baru. Semangat baru yang membuat kita bergegas bangun di pagi hari untuk memulai suatu hari yang baru, yang penuh dengan harapan baru dengan usaha untuk meraih hal yang terbaik bagi diri kita dan sesama kita.

Menetapkan sebuah resolusi juga membawa kita pada target yang ingin dicapai. Kebaikan baru yang ingin kita sebarkan. Peningkatan baru akan kualitas hidup kita semangat baru untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik. Tak pernah ada yang menyangka umur kita di dunia. Musibah hilangnya pesawat Air Asia di penghujung tahun 2014, dimana semua orang sedang merencanakan liburan akhir tahun mereka, siapa sangka maut yang justru menjemput mereka?

Manusia dan rencana mereka. Kita dengan resolusi kita. Semua hal itu tak pernah terlepas dari kehendak Tuhan semata. Saat Tuhan berkehendak, rencana liburan malahan berujung petaka. Saat Tuhan berkehendak, kita masih diberikan anugrah keselamatan untuk melewati pergantian tahun 2014 ke 2015 kemarin. Sekarang, yang terpenting dari setiap resolusi dan harapan baru yang kita usahakan, ingatlah untuk selalu menyertakan Tuhan dalam setiap rencana kita. Apakah resolusi yang kita tetapkan itu telah sesuai dengan jalan Tuhan? Apakah resolusi yang kita harapkan itu melulu hanya untuk pemuasan ego pribadi kita saja? Ataukah resolusi kita telah menyertakan Tuhan juga dalam pelaksanaanya?

Belajar untuk lebih baik itu selalu membawa tantangan tersendiri. Berubah untuk selalu rendah hati itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Banyak dari kita sangat pandai menilai orang lain, mengkritik bagaimana orang lain itu harusnya bertindak. Mencoba mengubah cara orang lain dalam pengambilan kuputusan. Namun bagaimana dengan kita saat menerima kritik dari orang lain? Apakah kita pandai mengomentari orang lain namun tersinggung saat ada yang menegur kita? Apakah kita pandai menilai keputusan orang lain padahal saat kita diserahi tanggung jawab kita sendiri malahan menghindar dan bahkan melemparkannya pada orang lain lagi? Bagaimana mungkin Anda bisa menghakimi orang lain begini dan begitu saat Anda sendiri tidak mampu untuk dengan rendah hati menilai diri sendiri?

Ingatlah saat bahagia kita di tahun 2014. Ingat pula saat sedih kita tahun lalu. Saat kita sehat, saat kita sakit. Saat kita menghakimi, saat kita tidak bercermin ketika menghakimi orang lain, saat kita bisa rendah hati menerima kritik. Saat kita ditegur Tuhan. Saat kita dekat dengan-Nya atau bahkan saat kita marah pada-Nya. Ingat perasaan itu semua saat akan menetapkan resolusi 2015 kita. Semoga di tahun yang baru, kita pun dilahirkan kembali menjadi pribadi-pribadi baru yang jauh lebih baik. Pribadi yang indah dimata Tuhan. Semoga kita semakin bijaksana dan lebih rendah hati dalam menghadapi tantangan yang baru. Mari kita bersama-sama menciptakan suasana bahagia. Semoga tahun 2015 adalah tahun penuh berkat bagi Anda dan keluarga. Selamat Tahun Baru 2015. Semoga berkat Tuhan menyertai Anda sekalian.

Monday, December 22, 2014

R.A.I.N

Bukan soal romantis
Bukan soal cerita sedih
Bukan pula ingin menangis
Hanya hujan yang membuat lirih

Hujan selalu membangkitkan kenangan
Hujan selalu membuka lembaran kisah lama
Hujan pula yang selalu mampu menggelitik angan
Akhh, sebenarnya hanya hujan semata

Ia mampu memberi warna
Ia mampu membuka asa
Ia pula yang menutup luka
Hanya hujan biasa

Kenangan pernah menjadi kekinian
Hari ini akan menjadi memori masa depan
Masa depan adalah kenangan baru yang akan terjadi
Namun saat ini, hanya hujan pada suatu hari

#edisi_galau_diHari_Ibu_saat_Hujan

Thursday, November 13, 2014

Adven? Tau sih, tapi apa yaa??

Bagi saya adven itu berarti sebuah penantian. Penantian akan hadirnya sebuah harapan baru, penantian akan sesuatu yang baik, penantian akan terkabulnya sebuah doa, penantian pada masa depan yang lebih cerah, penantian akan keselamatan. Penantian yang kadang menguras emosi, penantian yang kadang mengundang air mata, penantian yang kadang malah mengecewakan, penantian yang sering membuat kita lebih banyak berdoa agar mujizat itu nyata dalam hidup kita.

Adven mempunyai makna yang berbeda bagi setiap orang. Adven memiliki kenangan masing-masing bagi setiap individu. Adven ada juga yang digunakan sebagai masa permenungan bagi beberapa dari kita. Permenungan akan pencarian jati diri, permenungan akan pencarian tujuan hidup, permenungan akan kesalahan yang pernah kita lakukan dan berjanji akan memperbaiki diri.

Seorang teman berkeluh kesah pada saya akan seseorang yang baginya telah berlaku sombong, arogan, merasa diri selalu benar, tidak mau menerima kritik apapun dan dari siapapun. Seorang teman yang lalu mengatakan keburukan orang yang tak dia sukai itu kepada semua orang. Saya lalu berpikir, apa teman saya ini tidak merasa bahwa dia tidak lebih baik daripada orang yang tak dia sukai itu? Apakah dia pantas mencela dan menjelek-jelekkan orang lain padahal bagi sebagian orang cara hidupnya pun masih jauh dari pencitraan akan kebaikan?

Bayangkan ketika seseorang sedang bermain bumerang. Ketika bumerang itu dilemparkan, maka otomatis dia akan berbalik arah. Kembali kepada si pelemparnya. Bayangkan Anda didepan cermin, ketika Anda bermimik marah, maka wajah Anda akan berbalik menatap Anda dengan kemarahan. Namun ketika Anda tersenyum maka Anda akan mendapatkan senyum Anda kembali. Saat Anda berada digunung dan meneriakkan sesuatu, maka kata-kata itu juga akan bergema kembali pada Anda.

Sama halnya dengan setiap perkataan, pemikiran, fitnah, provokasi, gosip dan apapun yang Anda ungkapkan itu semua tanpa Anda sadari akan dan pasti kembali kepada Anda. Sebagai manusia, makhluk berakal budi namun rentan akan dosa, hendaknya kita sadar bahwa apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan pada sesama mungkin tanpa sadar telah juga kita lakukan. Bercerminkah kita sebelum menilai keburukan orang lain? Bercerminkah kita saat kita mencela orang lain? Jangan katakan seseorang itu pilih kasih padahal kita tidak pernah memberikan kontribusi apapun demi kemajuan bersama! Jangan katakan orang itu tak mampu menjadi pemimpin yang baik saat diri Anda sendiri pun belum mampu memberikan teladan yang baik bagi orang lain!

Manusia memang tidak sempurna, namun hendaknya ketidaksempurnaan itu jangan dijadikan alasan untuk saling menjelekkan, untuk saling menjatuhkan, untuk saling mencela dan menyakiti orang lain. Mungkin ada rasa iri hati yang membuat seseorang itu bisa bersikap sinis dan kemudian mengatakan berita yang buruk tentang seseorang. Ya, iri hati memang kadang membutakan hati nurani kita, membuat kita tidak bisa ikhlas mengakui bahwa ada juga hal baik dalam diri orang yang tidak kita sukai itu. Iri hati membutakan perasaan kita sehingga kita malahan menjelek-jelekan orang yang tidak kita sukai dan bukannya mendoakan dia. Iri hati menutup pandangan kita bahwa ada hal baik yang sebenarnya bisa kita contoh dari orang yang tidak kita sukai itu.

Saudara-saudaraku, di masa adven ini, masa penantian dan masa pertobatan ini, bukankah jauh lebih indah mengakui bahwa kita juga tidak sempurna dan minta agar Tuhan mau menyempurnakan kita menjadi pengikut-Nya yang jauh lebih baik? Bukankah akan menjadi lebih baik bila kita memeriksa diri kita terlebih dahulu sebelum menilai seseorang? Bukankah Tuhan kita mengajarkan kita untuk mau dan mampu bersikap terbuka, rendah hati dan mau mendengarkan nasihat-nasihat dari orang disekitar kita (baik itu saudara maupun sahabat kita dalam lingkungan sehari-hari kita) yang dapat kita percayai? Tuhan menasihati kita saat ini adalah lewat orang-orang baik disekitar kita. Orang tua, saudara kandung, saudara seiman, atau bahkan teman dan sahabat kita.

Mari kita warnai adven kita tahun ini dengan introspeksi diri, dengan lebih terbuka pada diri sendiri, dengan lebih rendah hati mengakui bahwa manusia adalah peziarah-peziarah yang masih terus belajar menuju kebaikan akan ajaran Tuhan kita. Mari saling mengingatkan, mari saling memperbaiki diri, mari saling mendukung. Berkat Tuhan menyertai Anda dan keluarga.

Sunday, July 6, 2014

Mengapa Allah Beristirahat pada Hari ke-7?

Pernahkah dalam benak Anda terpikir pertanyaan tersebut? Mengapa Allah beristirahat pada hari ke-7? Atau untuk mudahnya, pernahkah Anda mendengar seseorang berkeluh kesah begini: "Akkhhh, saya lelah, cape rasanya bekerja setiap hari dari pagi sampai sore bahkan harus lembur sampai malam hari", "Saya suntuk, kerjaan saya membosankan. Rutinitasnya selalu sama setiap hari", "Saya muak dengan tugas-tugas yang harus saya kerjakan ini. Saya ingin semua cepat beres saja." Yah, kata-kata tersebutlah yang belakangan ini juga saya lontarkan pada diri saya sendiri. Rasanya melelahkan tiap pagi harus bangun pagi untuk pergi ke kantor. Bekerja sampai sore hari hanya untuk menerima ocehan dari atasan yang terkadang tak masuk akal. Rasanya semua tampak salah dimatanya, tanpa menyadari betapa kita telah bekerja keras demi menyelesaikan tugas dan tanggung jawab terhadap pekerjaan kita itu.

Saya lelah. Yahhh, dua kata itu yang belakangan menghantui pikiran saya beberapa hari belakangan ini. Ingin lari, ingin berhenti, ingin rasanya hanya melakukan semua hal yang menyenangkan bagi saya, namun rasa tanggung jawab dan kebutuhan duniawi membuat saya berpikir dua kali. Menyenangkan diri sendirikah atau menjalankan komitmen saya?

Dalam kesendirian saya tiba-tiba terpikir, mengapa Allah beristirahat pada hari yang ke-7? Apakah Dia juga lelah seperti manusia ciptaan-Nya? Apakah Dia juga merasa bosan dan suntuk dengan rutinitas harian-Nya? Apa Allah muak dengan tugas dan tanggung jawab-Nya? Pasti tidak! Bukan begitu alasan-Nya beristirahat. Saya pikir Dia mau mengajarkan saya, dan Anda, bahwa apapun tugas dan tanggung jawab kita, apapun profesi dan jabatan kita, bagaimanapun sulitnya pekerjaan kita, kita dituntut untuk tetap berkomitmen pada pilihan kita dalam hidup ini. Dia beristirahat untuk memberi contoh pada kita bahwasanya kita tak pantas untuk melulu memberikan waktu hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani kita saja. Dia mau menunjukan bahwa terkadang berhenti dan beristirahat sejenak akan memberikan waktu pada kita untuk bisa melihat keseluruhan cerita. Untuk melihat dan bersyukur atas semua pencapaian-pencapaian kita. Sejenak merenungkan bagaimana kita terlalu sibuk dengan diri sendiri dan ambisi-ambisi pribadi kita. Terlalu perduli pada target-target yang harus tercapai dan bagaimana mencapainya. Terlalu khawatir pada waktu yang rasanya semakin terbatas, khawatir akan masa depan yang belum terjadi. Terlalu banyak berpikir dan pertimbangan-pertimbangan. Terlalu takut karena kita terlambat memulai sesuatu yang telah lebih dulu dicapai oleh orang lain. Terlalu lupa untuk bersyukur.

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana perasaan saya saat sedang menulis tulisan ini. Tiba-tiba saja mata saya seperti terbuka. Hati saya yang tadinya kalut dan gentar berubah menjadi ketenangan dan keyakinan. Berbagai pikiran yang mengganggu tiba-tiba menjadi tak lagi berarti. Kekalutan dan kekhawatiran menjadi ciut. Ketakutan tiba-tiba berubah menjadi kepasrahan. Ketenangan mulai menyelimuti. Sepertinya Tuhan mau menunjukan cara-Nya yang ajaib menyentuh hati saya. Entah bagaimana perasaan saudara sekalian yang membaca tulisan ini.

Semoga saya bisa turut berbagi perasaan yang sama dengan saudara sekalian, semoga kekalutan yang saat ini mungkin sedang dirasakan Anda semua juga bisa sedikit mengalami ketenangan. Tuhan beristirahat pada hari ke-7 untuk kemudian menciptakan dunia yang lebih berharga. Dia beristirahat untuk kemudian melakukan karya-karya yang ajaib, karya yang maha dasyat dan luar biasa. Hanya ada satu kata yang membedakan antara Extraordinary (luar biasa) dan ordinary (biasa), yaitu kata "EXTRA". Maukah kita bekerja "extra" untuk kemuliaan Tuhan? Maukah kita berkarya "extra" untuk menunjukan jati diri kita? Maukah kita menghasilkan karya-karya yang besar dengan memberikan sedikit "extra" waktu dan tenaga? Mampukah kita mencontoh Allah yang bekerja "EXTRA" sehingga menghasilkan karya yang Maha Agung dan ajaib?

Saudaraku terkasih, janganlah merasa bersalah bila saat ini saudara tiba-tiba ingin sejenak beristirahat dari rutinitas saudara. Janganlah merasa rugi untuk memberikan waktu luang Anda demi menghasilkan karya yang lebih besar. Mari kita bersama-sama berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi sesama. Semoga Tuhan memberkati.