Tuesday, September 22, 2020

Rosario sebagai Dasar Iman Kita

"Kenapa sih orang Katolik itu selalu bawa rosario kemana-mana? Seperti membawa jimat saja." Pernahkah Anda mendengar orang yang bertanya seperti itu? Atau mungkin justru Andalah yang pernah mengalaminya sendiri? Lalu bagaimana jawaban Anda ketika ada orang yang bukan Katolik bertanya seperti itu pada Anda? Benarkah orang Katolik memperlakukan rosario sebagai jimat?

Doa devosional yang menjadi kegemaran Paus Yohanes Paulus II ini adalah doa yang sangat sederhana. Dengan mendaraskan doa Salam Maria berulang kali, umat Katolik diajak untuk merenungkan setiap peristiwa penting yang dialami Yesus semasa hidup-Nya, bahkan dari sejak dalam kandungan ibunda-Nya.

Bunda Maria menjadi teladan kesederhanaan itu, Bunda Maria juga menjadi ukuran ketaatan yang patut dicontoh. Bunda Maria dengan segala kemanusiawiannya merupakan tanda kemurahan sekaligus kebesaran kasih Allah kepada manusia. Allah yang ingin hadir ditengah manusia, Allah yang ingin menyelamatkan manusia, Allah yang ingin dekat dengan ciptaan-Nya, Ia begitu mengasihi manusia sehingga kemudian menjelma dalam diri Yesus Kristus yang dikandung oleh Perawan Maria.

Kesederhanaan Maria, kesederhanaan doa Rosario menjadi teladan bagi umat Katolik untuk lebih menghidupi iman kita sebagai seorang Katolik, karena di dalam setiap kesederhanaan pada doa rosario inilah makna terdalam pada iman Katolik benar-benar dapat kita renungkan. Ketika kita sedang berdoa rosario, kita diajak untuk melihat kembali dasar iman yang menjadi awal bagi kita untuk menjadi Katolik.

Mungkin banyak orang yang bukan Katolik sering mendengar atau membaca kisah tentang mujizat berdoa rosario. Mereka menjadi berasumsi bahwa kita memperlakukan rosario sebagai jimat yang biasa dibawa orang Katolik. Ya, jujur saja, memang kita mengakui bahwa mungkin sebagian besar umat Katolik di seluruh dunia, biasanya selalu membawa rosario kemana-mana. Entah di saku, atau dalam dompet, atau disimpan di tas, tapi sepertinya rosario menjadi barang wajib yang harus dibawa. Apa itu berarti kita memperlakukan rosario sebagai jimat kita?

Jimat adalah suatu benda yang dianggap mempunyai kekuatan supranatural yang konon katanya, dapat melindungi orang yang membawanya. Jimat dikonotasikan secara negatif sebagai hal yang bertentangan dengan iman dan kepercayaan semua agama. Tentu berbeda ketika kita membawa rosario dalam keseharian kita. Rosario bukanlah jimat bagi orang Katolik, karena ketika rosario hanya kita bawa dan selalu tersimpan rapi dalam tas kita, rosario itu menjadi tidak berarti. Rosario hanya merupakan aksesoris semata yang dapat kita pamerkan sebagai atribut pelengkap. Rosario yang sejati adalah rosario yang didaraskan dengan doa-doa dan renungan-renungan peristiwa hidup Yesus. Rosario menjadi lambang kesempurnaan iman Katolik kita justru pada saat kita selalu menyediakan waktu untuk mendoakannya, merenungkannya, dan mendaraskannya setiap kali kita ada kesempatan.

Saudaraku yang terkasih, jangan ragu apabila ada pernyataan-pernyataan yang kita dengar tentang asumsi orang mengenai rosario. Kita sebagai orang Katolik sangat patut bersyukur dikaruniai banyak cara untuk meneguhkan iman kita akan kebesaran dan kasih sayang Allah pada manusia. Iman Katolik mengajarkan bahwa lewat kesederhanaanlah sesungguhnya kita diajak untuk mampu menampilkan wajah Yesus pada sesama kita.

Mari kita semakin sering mendaraskan doa rosario dengan penuh iman, karena lewat kesederhanaan doa rosario inilah justru Allah hadir dan menyapa kita, memberi teladan dan amanat kasih lewat peristiwa-peristiwa penting hidup Yesus. Semoga kita selalu setia dan semakin mengimani kasih Allah melalui doa rosario. Mari kita menyempurnakan iman kita sebagai seorang Katolik yang sejati lewat doa rosario. Selamat berdoa rosario, semoga Tuhan memberkati kita semua dan Bunda Maria mendoakan.   

Tuesday, July 28, 2020

Memilih Menjadi Seorang Katolik

Apa kabar saudaraku? Sudah lama rasanya saya tidak menulis. Ketika banyak hal terlintas dalam benak dan ingin menuangkannya dalam tulisan, seringkali kata-kata tidak mudah diungkapkan. Saat ini kembali mencoba duduk diam sambil kembali berusaha menuangkan isi hati dan pikiran dalam sebuah kisah dan rangkaian kata. Seperti halnya virus corona yang melanda di berbagai belahan dunia membuat banyak orang kembali berpikir dalam dirinya, apa yang paling penting dan paling berharga dalam hidupnya, saya pun ingin berusaha menempatkan diri dan merenungkan bagaimana hidup saya selanjutnya.

Hari-hari sibuk dan padat yang biasa kita lewati, mendadak menjadi hari yang terasa lambat dan melelahkan. Saat kita biasa menghabiskan waktu bersama teman dan kerabat, sekarang hanya berdiam diri dalam kamar. Rasa sepi dan sedih membawa sebagian besar orang, termasuk saya kembali ke dalam diri dan bertanya tentang makna hidup ini.

Dimana saya tinggal, bagaimana saya ingin hidup saya dijalani, apa prioritas hidup yang sebaiknya saya pilih, konsekuensi apa yang bisa saya dapatkan, seperti apa saya ingin dikenang, dan berbagai macam pertanyaan lain dapat muncul dalam perenungan tentang hidup.

Sebagai seorang yang memilih menjadi seorang Katolik, melihat bagaimana orang Katolik bereaksi dan beraksi dalam menghadapi pandemi yang sedang melanda di Indonesia, membuka mata dan hati saya bahwa hidup itu, bukan melulu memikirkan bagaimana saya hidup, bagaimana saya bisa bertahan, apa yang harus saya lakukan demi hidup saya, kemana saya harus melangkah, apa, dimana, bagaimana, saya....saya....saya.... Tidak! Bukan itu! Bukan saya! Tapi KAMI! Kita semua! Kita bersama!

Hidup itu adalah tentang KITA! Kita bisa melakukan banyak hal bermakna yang dapat memberikan kepuasan batin, kita bisa membantu baik secara fisik maupun mental pada orang-orang di sekitar kita. Seandainya kita mau melihat lebih jauh dan mendengar lebih banyak, ternyata dengan sekedar mengucapkan kata-kata salam hangat dan penuh kasih, dapat memberikan semangat baru untuk orang yang sedang berbeban. Apabila kita mau lebih terlibat dengan sesama, kita dapat bertindak lebih banyak bagi banyak orang.

Menjadi Katolik, bukan hanya menjadi orang yang rajin ke gereja, rajin mengikuti misa streaming, hanya sibuk berdoa siang malam tanpa berusaha untuk melakukan sesuatu. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat 25:40). Lagi kita diingatkan, "Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:18)

Saudaraku terkasih, menjadi seorang yang beriman Katolik berarti kita juga diharapkan untuk mampu hidup meneladan ajaran-ajaran Kristus. Yesus mengajarkan pada kita tentang perbuatan-perbuatan kasih yang dapat kita lakukan untuk sesama kita. Lingkungan sekitar kita membutuhkan kerjasama dan dukungan kita untuk mengatasi kesulitan selama pandemi ini. Kita dapat memberi teladan bahwa mencintai Yesus itu sama dengan mencintai sesama kita, meneladan Yesus itu sama dengan meneladan perbuatan-perbuatan kasih-Nya. Menjadi 100% Katolik, itu sama artinya dengan menjadi lebih peka dan berbela rasa dengan sesama kita, dengan tetangga sekitar kita, dengan lingkungan sekitar kita, dan akhirnya dengan saudara sebangsa kita. Mari kita tunjukan iman Katolik kita dengan lebih banyak memberikan perbuatan-perbuatan kasih pada sesama. Selamat menyambut hari Kemerdekaan RI. Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita selalu.   

Sunday, April 28, 2019

Bunda Maria Pengantara Kita

Topik yang selalu menarik untuk dibahas dalam iman Katolik dan seringkali dijadikan bahan perdebatan dalam hal kepercayaan dengan umat beragama lain adalah topik tentang Bunda Maria. Ya, umat Katolik selalu menghormati dengan cara yang istimewa terhadap ibunda Yesus ini. Bahkan memperingati penghormatan terhadap Bunda Maria ini melalui bulan-bulan tertentu sepanjang tahun, yaitu bulan Mei dan Oktober.

Setelah baru-baru ini merayakan kebangkitan Yesus melalui Pesta Paskah, kemudian sekarang dihadapkan pada bulan yang ditetapkan untuk menghormati Ratu Rosario umat katolik, mau tidak mau saya diingatkan kembali alasan mengapa umat Katolik begitu menghargai Maria ibunda Yesus ini.

Dalam mengenang perjalanan salib Yesus ketika membiarkan diriNya disiksa, dihina, sampai akhirnya wafat disalib, Bunda Maria selalu mendampingi. Mendampingi anaknya yang menderita, memangku jenazahNya dengan hati yang hancur, hanya mampu memandang putra kesayangannya dari bawah salib dan menanggung semua dalam hatinya.

"Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:26-27)." Peristiwa istimewa yang disampaikan Kitab Suci sesaat sebelum Yesus wafat, ingin menunjukan pada kita semua, bahwa Yesus mau agar kita sebagai murid-muridNya juga menerima Bunda Maria di dalam kehidupan kita, di dalam rumah kita, didalam doa-doa kita, bahkan ditengah keputusasaan kita ketika kita sedang menghadapi ketidakadilan yang mungkin menimpa kita, sama seperti dulu ketika Yesus pun harus menanggung ketidakadilan yang dituduhkan dunia padaNya.

Kita sebagai umat Katolik dan sepenuhnya murid Yesus, tidak berdoa kepada Bunda Maria agar dia mengabulkan doa kita. Namun kita berdoa pada Bunda Maria dengan keyakinan penuh bahwa Bunda Maria akan menghantarkan doa-doa dan permohonan kita pada Yesus anaknya. Bunda Maria telah menjadi pengantara doa yang sangat baik. Dia menyampaikan setiap keluh kesah dan beban berat yang kita alami dengan penuh kebijaksanaannya sehingga Tuhan membantu kita menghadapi setiap pencobaan yang diijinkan terjadi pada kita. Melalui Bunda Maria juga, kita diajarkan keteladanannya yang dengan penuh kerendahan hati menerima apapun yang Allah kehendaki untuk terjadi.

Saudaraku yang terkasih, di bulan yang dikhususkan ini, marilah kita lebih dekat lagi mengenal Bunda Maria. Apabila kita benar percaya pada Yesus dan ingin melaksanakan ajaranNya dengan baik, hendaklah kita juga mendengar Dia berkata pada kita, "Inilah ibumu". Mari kita menerima Bunda Maria dalam rumah kita. Karena lewat doa Bunda Marialah, sehingga kita tetap bertekun dalam iman kita akan Yesus. Dalam setiap butir-butir Rosario tersimpan kekuatan yang diteladankan Bunda Maria pada kita. Dalam setiap doa Salam Maria yang kita daraskan kita juga dianugerahi ketaatan yang lebih dalam sebagaimana Bunda Maria taat pada Bapa. Dalam setiap peristiwa yang kita kenangkan dalam doa rosario, kita juga diingatkan bahwa Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia itu telah lahir dari rahim seorang ibu yang tetap perawan, yang dengan segala kerendahan hatinya selalu tetap percaya pada kehendak Bapa. Semoga Tuhan memberkati saudara sekalian dan Bunda Maria mendoakan.  

Sunday, March 3, 2019

"Aku Menyertai Kamu Senantiasa Sampai Akhir Zaman"

Setiap manusia, pasti mengalami titik balik dalam kehidupannya. Ada yang mengalaminya kerena kehilangan orang yang dikasihinya, ada yang mengalaminya karena sakit penyakit yang diderita, atau justru mengalami kebahagiaan karena doa yang terkabulkan. Namun apapun dasarnya, entah itu lewat kebahagiaan ataupun melalui pencobaan yang harus dialami, manusia pasti mengalami titik balik dalam kehidupannya.

Titik balik itulah yang bagi kita umat beriman, kita sebut dengan pertobatan. Kadangkala kita tak menginginkan hal-hal buruk itu terjadi, tetapi Tuhan mengijinkan terjadinya pencobaan tersebut. Tuhan ingin membentuk kita menjadi bejana yang lebih indah, karena berlian pun ditempa dengan api untuk dapat terlihat indah.

Ketika manusia sedang mengalami pencobaan, seringkali kita sebagai makhluk yang lemah ini berkeluh kesah, menggerutu dan bahkan marah pada Tuhan. Kita tidak terima dan menganggap Tuhan itu tidak adil pada kita karena Dia mengijinkan kita mengalami penderitaan tersebut. Kita lupa bahwa Yesus pun terjatuh sampai 3 kali ketika memikul salib-Nya. Penderitaan yang mungkin sedang kita alami ini tidak sebanding dengan penderitaan yang Yesus alami. Dia memikul salib-Nya yang berat tetap berusaha bangkit kembali setiap kali terjatuh, apalah artinya penderitaan yang kita alami ini dibandingkan penderitaan yang Yesus alami?

Saudaraku yang terkasih, ketika Yesus menjalani jalan salib-Nya yang berat, Dia mengajarkan pada kita bahwa seberat apapun cobaan yang sedang kita alami, kita harus terus percaya bahwa Allah selalu menyertai kita. Ketika Yesus berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk 22:42), Dia menunjukan pada kita sisi kemanusiaan-Nya yang sedang ketakutan akan mengalami penderitaan yang begitu berat sampai menghadapi ajal-Nya. Namun sebagaimana kita semua tahu, pada akhirnya Dia dimuliakan dengan Kebangkitan-Nya dari alam maut setelah mengalami penderitaan tersebut.

Titik balik dalam kehidupan kita, hendaklah menjadi landasan kita agar dapat melangkah menuju kebangkitan kita masing-masing. Pertobatan kita sebaiknya adalah awal bagi kita untuk menyambut kelahiran pribadi kita yang baru. Sama seperti Yesus yang bangkit pada hari yang ketiga setelah mengalami penderitaan, hendaknya kita juga percaya bahwa kita akan bangkit setelah mengalami pencobaan yang berat ini.

Apabila saat ini Anda sedang bersedih, putus asa, ataupun ketakutan yang sangat dalam akan masa depan Anda, percayalah Yesus pun mengalaminya. Dia tidak lari dari kenyataan, Dia tidak menghindar dan menolaknya, karena Dia percaya bahwa Allah akan memberikan kekuatan, apapun cobaannya. Percayalah saudara, bahwa Anda tidak sendirian menghadapi pencobaan ini. Tetap mendekat dan berserah pada kehendak Bapa adalah jawaban dan kekuatan paling tepat untuk menghadapi situasi apapun. Yesus adalah teladan kita, bahwa kita akan tetap bisa bangkit apabila kita sedang terjatuh, tetap bangkit dan terus bangkit. Di atas sana ada kemuliaan sedang menanti kita. Tetap semangat, tetap teguh dan tetap percaya, semua akan indah pada waktunya.

Semoga saudara dikuatkan dalam proses pertobatan Saudara. Semoga Saudara diteguhkan melalui kisah jalan salib Tuhan kita Yesus Kristus, dan semoga Saudara dapat bersama-sama dengan Yesus mengalami kebangkitan dan kelahiran yang baru setelah proses pemurnian yang Saudara alami saat ini. Tetaplah percaya, bahwa Anda tidak sendirian, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:20). Semoga Tuhan memberkati Saudara dan Bunda Maria mendoakan. 

Monday, February 11, 2019

Kasih Penuh Hikmat

Ketika memasuki bulan Februari, bulan yang identik dengan warna pink ini seringkali dikaitkan sebagai bulan penuh cinta kasih. Bulan dimana banyak orang merayakan Valentine’s Day, saat semua orang mengungkapkan perasaan kasihnya pada pasangannya, atau pada orang-orang terdekatnya. Ketika banyak diantara kita merasakan sukacita bulan penuh kasih, ternyata banyak juga yang merasakan hal yang sebaliknya.

Ketika seseorang sedang berduka, ketika pasangan suami istri sedang bertengkar, ketika keluarga terpecah-pecah. Bahkan ketika merasa keluarganya sedang diambang kehancuran, orang menjadi semakin sulit menemukan cinta kasih. Orang jadi penuh kekhawatiran dan ketakutan akan dunia ini. Seringkali kesedihan membuat kita kehilangan arah untuk menapaki masa depan selanjutnya.

Sebagai manusia yang lemah, kita sering kali terlena saat kita sedang bahagia dan penuh cinta. Tapi ketika badai menerjang kehidupan kita, kita menjadi benar-benar terpuruk dan kehilangan jati diri. Saudaraku yang terkasih, Tuhan mengajarkan kita untuk hidup 'secukupnya' sebagaimana diajarkan dalam doa Bapa Kami. Hendaknya mulai sekarang pun kita bisa belajar meneladan kecukupan menurut ajaran Yesus. Kita tidak perlu bahagia atau jatuh cinta secara berlebihan kepada sesuatu atau seseorang, sehingga kita tidak perlu mengalami kekecewaan saat apa atau siapa yang kita kasihi ternyata tidak dapat kita miliki atau kita harapkan.

Kasih yang sejati adalah kasih yang penuh hikmat. Setiap kebahagiaan akan berlalu, begitupula kesedihan. Semua akan ada waktunya. Ketika kita tetap penuh hikmat dalam bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidup kita, tentunya kita akan menikmati sukacita yang lebih penuh. Bukan lagi kekecewaan, bukan lagi ketakutan, bukan kemarahan dan kebencian pada dunia, namun kebijaksanaan dalam bersikap, dalam bertutur kata, dan dalam menjalani hidup ini.

Santo Paulus juga mengajarkan dalam 1 Korintus 13:13 "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih", demikianlah hendaknya kita membagikan kasih kita juga dengan penuh hikmat, karena kasih yang kita bagikan akan mencerminkan bagaimana Allah telah membentuk diri kita seperti sekarang ini. Kasih yang dewasa, kasih yang bijaksana, kasih yang mendidik, kasih yang membawa kita pada keselamatan.

Saudaraku yang terkasih, apapun keadaan Anda sekarang, apakah sedang jatuh cinta, atau bahagia, atau sedang dalam perpisahan, kesedihan, keputusasaan, ingatlah selalu bahwa saat kita menerima Kasih Tuhan kita juga perlu untuk membaginya pada sesama. Saat kita sedang kecewa, ingatlah bahwa Yesus selalu hadir dengan kasih-Nya pada kita. Kasih Yesus itu berlimpah, sadarilah betapa Anda sangat dikasihi Tuhan, sadarilah bahwa Anda tidak sendirian. Kembalilah pada-Nya dan Yesus akan menuntun kembali Anda ke jalan yang benar. Jalan cinta kasih yang penuh sukacita.

Selamat menjalani hidup yang penuh cinta, selamat menerima kasih Allah dan membagikannya pada sesama, dan tetaplah berdoa. Tetaplah menjaga hubungan dekat dengan Tuhan, agar kita dapat membagikan kasih kita dengan bijaksana dan penuh hikmat. Semoga Tuhan memberkati setiap usaha kita dan Bunda Maria mendoakan.  

Friday, December 7, 2018

Mari Kita Mewartakan Damai Seperti Kristus

Ada suatu tradisi dalam perayaan Ekaristi yang tidak pernah hilang sampai sekarang, bahkan melekat erat menjadi satu kesatuan rangkaian yang setiap hari dilakukan dalam misa. Tradisi tersebut adalah Doa Damai, dimana Pastor mendaraskan doa damai kemudian menyampaikannya pada umat. Doa Damai tersebut seolah mau menggambarkan bahwa kehadiran Yesus di dunia ini adalah sebagai Pembawa Damai, bahkan Dia adalah Damai itu sendiri.

Ketika kita memaknai perjalanan hidup kita, dari kecil hingga dewasa sekarang ini, rasanya sangat sulit merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Orang yang semakin dewasa justru semakin sedikit yang dapat merasakan kedamaian. Ironis sekali. Bayangkan saja bagaimana dulu ketika kita kecil, ketika kita merasa sakit, hanya berada dalam pelukan ibu saja rasanya sudah damai sekali. Segala kesusahan dan rasa sakit itu tiba-tiba hilang ketika ibu kita memeluk kita dengan hangat.

Ketika kita beranjak dewasa, entah mengapa sulit bagi kita menemukan kedamaian. Sebagai contoh, mungkin ada beberapa dari kita sering datang ke ruang-ruang adorasi untuk berdoa demi sekedar mencari kedamaian. Tapi saat berada di dalam keheningan ruang adorasi, benarkah kita sungguh dapat merasakan kedamaian? Mungkin 5-10 menit pertama, saat kita baru datang dan berniat doa adalah saat tenang dan damai yang paling hakiki. Memasuki menit ke 15, mulai ada pikiran-pikiran lain yang datang. Tiba-tiba merasa badan pegal-pegal. Tiba-tiba ingat bahwa tadi sebelum berangkat ke ruang adorasi sedang dalam keadaan marah karena bertengkar dengan keluarga kita. Atau mungkin kita lalu memikirkan pekerjaan yang belum selesai kita kerjakan padahal itu pekerjaan yang penting. Bagaimana kita memikirkan luka lama yang kembali teringat kala bertemu dengan orang yang tidak kita sukai. Rasa damai dan tenang yang kita rasakan ketika awal memasuki ruang adorasi tiba-tiba langsung terusir, hilang entah kemana. Kita jadi sibuk memikirkan ini dan itu sampai tak sadar tujuan awal kita datang ke ruang adorasi.

Kedamaian menjadi hal yang langka ketika kita banyak memikirkan hal-hal duniawi. Ujian di depan mata, pekerjaan yang sudah tenggat waktu, sakit penyakit yang sedang di derita, hutang yang belum dibayar, kekesalan pada keluarga, kemarahan pada lingkungan sekitar kita, keinginan dan doa yang belum terkabul. Hal-hal kecil yang sebetulnya dapat kita syukuri menjadi hilang dan terlupakan ketika kita banyak memikirkan perihal kefanaan.

Beruntung umat Katolik memegang tradisi yang begitu kental. Tradisi masa adven, selalu dapat membawa kita kembali pada harapan akan memperoleh kedamaian. Masa adven mengingatkan kita kembali bahwa kita sedang menantikan kedatangan penyelamat kita, Yesus Kristus, Sang Pembawa Damai sebagaimana di nubuatkan nabi Yesaya, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yes 9:6).

Mari saudara-saudaraku yang terkasih, dalam masa adven ini kita diajak untuk membawa damai sebagaimana Tuhan Yesus membawa kedamaian bagi kita. "Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat" (Luk 21:27-28). Kita mengimani bahwa Tuhan akan selalu hadir disetiap langkah hidup kita. Dia akan menyelesaikan setiap perkara kita. Jadi kita tak perlu khawatir lagi akan hal-hal duniawi. Tuhan mau agar kita membawa damai sebagaimana Dia hadir untuk kita dengan membawa damai juga. Biarlah hal duniawi diselesaikan oleh-Nya, karena janji Tuhan pada kita adalah tetap untuk selama-lamanya, "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Luk 21:23)

Selamat menyongsong masa adven kembali. Mari kita wartakan damai dan sukacita kita sambil menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus. Mari kita pancarkan wajah Tuhan dengan menebarkan kedamaian pada orang-orang di sekitar kita. Selamat mempersiapkan diri menyambut kehadiran Tuhan dan semoga Tuhan memberkati kita semua. Bunda Maria mendoakan.   

Sunday, November 4, 2018

Waktu Terbaik Menurut Tuhan

Banyaknya bencana alam belakangan ini membuat saya semakin menyadari bahwa kematian itu merupakan sesuatu hal yang pasti dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya. Ketika seseorang mengalami suatu peristiwa kematian seringkali orang tersebut bertanya pada Tuhan mengapa hal ini terjadi atau bagaimana mungkin kematian menjemput begitu cepat, padahal kita berbuat banyak bagi orang yang meninggal tersebut? Ketika kita mengalami kematian orang-orang yang kita kasihi kadangkala kita menjadi marah dan berontak bahkan menjauh dari Tuhan. Kematian mendadak seperti kecelakaan atau bahkan penyakit yang tidak terduga membuat kita juga berfikir bahwa hidup itu tidak adil. Pernahkah kita menjauh dari Tuhan karena peristiwa kematian atau kita justru semakin mendekat ketika peristiwa kematian itu datang?

Adalah seorang pemuda yang semasa hidupnya bekerja sangat keras. Dalam waktu singkat, pemuda ini berhasil mencapai kesejahteraan yang besar. Hidupnya berkelimpahan, sukses di masa muda ini membuatnya percaya diri untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Pemuda ini lalu memutuskan untuk berkeluarga dan menjalin hubungan yang harmonis dan bahagia dengan keluarga kecilnya ini. Semua orang disekitarnya melihat berapa hebatnya pemuda ini, banyak yang bertanya mengenai kisah hidupnya yang dipandang orang menjadi gambaran ideal dari kehidupan. Anehnya, dalam hati pemuda ini dia malahan merasa hidupnya tidak sesempurna yang orang lain pikirkan. Dia merasa kesepian. Dia merasa sendirian, dia merasa bahwa tidak ada lagi yang harus dia lakukan karena dia sudah berhasil mendapatkannya, tidak ada lagi yang ingin dicapainya, dia merasa putus asa karena kehilangan tujuan hidupnya.

Kemudian pemuda ini menemui seorang bijaksana. Dia bertanya kepada orang bijaksana itu, mengapa dia merasa seperti ini, mengapa dia tidak merasa bahagia padahal semua dia sudah berhasil meraih apa yang dia usahakan semasa mudanya. Orang bijaksana itu lalu berkata, "Buatlah sebuah daftar setiap hari, tentang apa yang akan dilakukan seandainya hari itu adalah hari terakhir Anda." Pemuda tersebut pulang dan melakukan seperti yang dianjurkan oleh orang bijak tersebut. Setiap hari, dia membuat daftar apa saja yang akan dilakukannya seandainya hari itu adalah hari terakhir dalam hidupnya. Dia berubah, tidak lagi merasa kesepian, tidak lagi memikirkan hal-hal kecil yang membuatnya tidak bahagia. Dia mulai menikmati setiap harinya tanpa banyak merisaukan hal yang sepele. Dia sekarang bahagia.

Saudaraku yang terkasih, pernahkah Anda membuat daftar kegiatan sebagaimana pemuda tadi lakukan? Pernahkah Anda membuat daftar kegiatan tentang apa yang akan Anda lakukan seandainya hari ini adalah hari terakhir Anda? Pernahkah Anda bahkan mencoba membuat daftar itu? Cobalah. Mungkin daftar itu akan membantu Anda menemukan jawaban atas kesulitan Anda. Mungkin juga daftar itu akan membawa Anda pada kedamaian yang selama ini sulit Anda dapatkan. Atau mungkin daftar itu akan membawa Anda pada kebahagiaan yang selama ini Anda cari. Cobalah mendekat pada Tuhan, Dia hanya sejauh doa. Dia akan membantu Anda dalam membuat daftar yang tepat. Sehingga bilamana waktunya tiba, Anda sudah siap. Bilamana waktunya tiba, tidak ada lagi penyesalan. Bilamana waktunya tiba dan Anda harus pulang, Anda akan pulang ke rumah Bapa dengan penuh sukacita dan kebanggaan bahwa Anda sudah meraih banyak hal selama masa hidup Anda di dunia. Hendaknya kita bersiap-siap selalu. Ketika Dia memanggil, dengan mantap kita akan berkata, "Ini aku, Bapa. Aku siap."

"Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah! (Mrk 13:35-37)."

Saudaraku yang terkasih, marilah kita mempersiapkan hati dan pikiran kita agar kelak kita dipantaskan ketika memasuki gerbang keabadian kita masing-masing. Selamat belajar menjadi lebih baik. Selamat mencari Tuhan dan bertekun dalam pengajaran-Nya. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua. 

Sunday, September 9, 2018

Kitab Suci Penuntun Langkahku

Ketika orang Katolik berbicara soal Kitab Suci, banyak diantaranya mengaku jarang bahkan hampir tidak pernah meluangkan waktu untuk membaca Kitab Suci. Kitab Suci menjadi benda rohani wajib yang dipakai hanya pada saat belajar agama saja. Atau ada pertemuan lingkungan, atau ada acara khusus. Ketika banyak dari kita kurang merasakan manfaat dari membaca Kitab Suci dan banyak diantara kita juga yang tidak memberikan waktu luang untuk itu.

Secara jujur, saya awalnya adalah golongan orang Katolik yang begitu, jarang membaca Kitab Suci. Pikir saya, toh saya bisa mendengarkannya minimal saat saya mengikuti perayaan Ekaristi. Saya tak pernah berkeinginan untuk membukanya, apalagi membacanya. Bagi saya apa yang dibacakan saat misa itu saja sudah cukup dan tidak merepotkan saya.

Gereja Katolik belakangan ini sangat rajin menggalakkan program membaca dan membahas tentang Kitab Suci. Gereja sangat menganjurkan agar kita dapat membaca Kitab Suci setiap hari. Saya jadi teringat pengalaman dalam kehidupan sehari-hari kita. Olahraga yang sering saya lakukan adalah lari. Entah itu pagi atau sore sepulang kerja. Pelari cupu (=culun punya), hanya sekedar iseng, hobi dan senang-senang semata. Suatu ketika, teman saya mengajak saya berlari pada event lari selevel marathon (42 km). Dalam hati saya langsung terlintas, “Buset, sanggup ga yaa saya?” Lalu akhirnya setelah berunding disepakati untuk berlari Half Marathon dulu saja untuk mencoba kekuatan kaki kita (Half Marathon = 21,1 km).

Kami punya waktu beberapa bulan sebelum event itu berlangsung. Sebagai pelari cupu, setiap pagi ketika melihat ada orang yang sedang lari pagi, pikiran saya langsung teringat pada event itu. Saya terus berpikir, sanggup atau tidak ya? Finish atau tidak nih? Saya menjadi paranoid dan tegang sendiri, berpikir kalau-kalau saya tidak bisa menyelesaikan lari itu. Saya lalu memutuskan untuk rutin berlatih lari seminggu 2-3 kali. Tidak pernah lama, maksimal 1 jam atau maksimal 10 km, tergantung waktu latihan yang saya pilih. Tapi maksimal hanya 10 km, tidak lebih. Sedangkan saya nanti harus berlari 2 kali lipat dari itu.

Ketika akhirnya event itu berlangsung. Saya berhasil finish sesuai dengan ketentuan waktu yang ditetapkan oleh panitia. Ternyata saya sanggup. Ternyata saya berhasil. Ternyata latihan saya tidak sia-sia, pada akhirnya saya dapat puas dengan hasilnya karena berhasil melewati garis finish. Begitu juga dengan perjalanan iman kita. Kadangkala ketika kita sedang dirundung masalah, ketika rasanya cobaan datang bertubi-tubi tanpa henti, kita sering bertanya pada Tuhan, sanggupkah kita melewati semua cobaan ini? Sanggupkah kita melewati rintangan dan tantangan ini? Ya! Tentu bisa! Asal kita rajin berlatih.

Bagaimana kita melatih iman kita? Dengan membaca Kitab Suci! Sedikit demi sedikit, mungkin satu ayat setiap hari, atau satu perikop setiap hari? Atau satu jam setiap hari? Berlatihlah sedikit demi sedikit. Karena dengan yang sedikit itu, pada akhirnya kita akan bisa mengatasinya, kita akan berhasil melewati badai kehidupan kita. Kita akan mencapai garis finish kita masing-masing! Dan yang pasti kepuasan dan kedamaian akan kita rasakan saat kita berhasil melampaui hal yang awalnya kita pikir akan mustahil. Percayalah!!!

Saudaraku yang terkasih, selamat belajar meluangkan waktu untuk membaca Kitab Suci, selamat belajar untuk mewartakan Injil, selamat mencintai Kitab Suci. Karena Tuhanlah yang berbicara langsung pada kita lewat Kitab Suci. Tuhanlah yang secara langsung menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kita lewat Kitab Suci, dan yang pasti Tuhan juga yang akan selalu menuntun jalan kita ketika kita rajin membaca Kitab Suci. Semoga Tuhan memberkati Saudara dan Bunda Maria mendoakan kita semua.

Sunday, July 8, 2018

Bukan untuk Dibaca

Saya penasaran, ketika Anda sampai pada halaman ini, kira-kira berapa banyak dari Anda yang membacanya ya? Kira-kira berapa persen dari penerima majalah Gratia yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca kolom “Berbagi” ini? Hampir setiap bulan saya menulis di kolom ini, kadang kala saya berpikir, memangnya ada yang membacanya? Mungkin tidak ada yang akan menyadarinya kalau saya berhenti menulis, atau bahkan apabila kolom “Berbagi” ini ditiadakan pun mungkin tidak ada yang protes. Sepertinya yang membaca tulisan saya ini hanya saya sebagai penulis dan bagian redaksi yang menyuntingnya, hanya 2 orang saja. Ya, kadang saya berpikir seperti itu, berpikir bahwa tulisan ini hanya sekedar untuk menambah-nambah halaman pada Gratia saja, bukan untuk dibaca.

Lalu untuk apa saya terus menulis? Entahlah, terkadang menulis membantu saya untuk berbicara dengan diri saya sendiri. Kadang dengan menulis saya jadi merasa dikuatkan seolah-olah ada orang yang mengatakannya pada saya. Bunda Teresa mengajarkan “Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik. Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu sebaik-baik yang dapat engkau lakukan. Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu, bukan urusan antara engkau dan mereka.” Mungkin pesan itulah yang menyemangati saya untuk terus menulis.

Bukan setiap saat saya bisa menulis, terkadang ada waktu-waktu dimana saya kelelahan dengan rutinitas saya sehingga kehabisan energi untuk menulis. Mungkin Anda juga sering mengalaminya. Bukan soal menulis saja, tapi dalam berbagai macam kegiatan pelayanan yang Anda lakukan. Banyak diantara kita adalah pekerja kantoran yang sehari-harinya menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, beberapa adalah pengusaha yang mengelola usahanya dari pagi hingga sore/malam. Sebagian dari kita memilih untuk menerima panggilan sebagai pelayan Tuhan, itu artinya kita akan mengorbankan lebih banyak lagi waktu kita, tenaga dan pikiran kita untuk melakukan pelayanan yang tanpa pamrih.

Pengorbanan-pengorbanan yang kita pilih dan kita lakukan seringkali membuat orang ragu untuk melakukan hal-hal baik. Kadangkala kita malahan takut melakukan hal baik justru karena harus mengorbankan banyak faktor dalam hidup kita, tenaga, waktu, materi, pikiran dan lain sebagainya. Kadangkala kita menjadi perhitungan dengan mempertimbangkan untung rugi dari apa yang kita lakukan.

Yesus mengajarkan pada kita hal yang seringkali bertentangan dengan kehendak dunia. Ketika Ia berkata, "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu" (Luk 22:20), Ia mengajarkan kita untuk mau berkorban bagi Allah kita. Yesus sendiri saja rela mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan kita, bagaimana mungkin kita membandingkan pengorbanan kita yang kecil ini dengan ajaran Yesus yang rela mengorbankan nyawa? Bagaimana mungkin kita memperhitungkan hal-hal kecil demi tujuan pelayanan pada Tuhan?

Saudaraku yang terkasih, apabila saat ini Anda sedang membaca tulisan ini sampai akhir dan merasakan bahwa ada panggilan kuat dalam diri Anda untuk melayani Tuhan, jangan abaikan. Jawablah dengan tegas, "Ini aku, Tuhan. Utuslah aku." Jangan takut sebab Ia akan menyertai Anda sampai akhir zaman (Mat 28:20). Tetaplah berbuat baik, tetaplah setia dan rendah hati. Tetaplah melayani, karena pada akhirnya, ini adalah urusan Anda dengan Tuhan. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Bunda Maria mendoakan.

Sunday, May 6, 2018

Maria Sumber Inspirasi dan Teladan Hidup Kita

Ada salah satu kisah yang saya baca dari sebuah buku yang berjudul, "Tuhan Tak Pernah Tidur", karangan Regina Brett. Kisah tentang sebuah keluarga yang dikaruniai seorang anak yang mengalami Down Syndrome. Keluarga tersebut sudah mempunyai lima anak ketika anak terakhir mereka dilahirkan. Tetapi kedua orangtuanya mencintai anak bungsunya itu sama seperti kelima anak lainnya. Ketika akhirnya sang ibu meninggal karena terkena kanker payudara, sang ayah membesarkan keenam anaknya seorang diri. Sang ayah menjadikan putra bungsunya pusat dari semesta. Potongan yang retak itu ternyata membuat mereka utuh.

Sang ayah tak pernah mengeluh menjadi orang tua tunggal dari enam anak. Berpuluh-puluh tahun berlalu. Setiap anak berperan sebagai ibu, kemudian pergi melanjutkan kuliah, dan mewariskan peran ibu kepada adiknya. Ketika sang ayah berusia 80 tahun, semua kakaknya menginginkan si bungsu untuk pindah ke rumah mereka. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Sehari sebelum kakak wanita si bungsu menikah, setelah acara makan malam bersama, si bungsu pingsan karena emboli paru-paru. Tak seorang pun dapat menghidupkannya kembali. Seusai misa pemakaman, pastor meminta keluarga untuk merenungkan bagaimana kita menggunakan karunia-karunia kita. Si bungsu datang bersama karunianya secara alami, karunia itu datang bersama ekstra kromosom. Dalam kalimat perpisahannya, sang ayah berkata, "Orang-orang selalu mengatakan bahwa kami adalah karunia besar bagi anak bungsu ini. Justru sebaliknya, dia adalah karunia besar bagi kami."

Saudaraku yang terkasih, ketika Tuhan mengijinkan terjadinya pencobaan dalam hidup kita, kita boleh percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberi lebih dari apa yang bisa kita pikul. Beberapa dirancang untuk memikul lebih banyak, beberapa lainnya lebih sedikit. Terlepas dari apapun, bahkan jika kita diminta memikul sebagian dari langit, itu lebih dari yang bisa kita tanggung. Itu adalah karunia.

Sama seperti teladan Bunda Maria yang kita devosikan selama bulan Mei ini. Ketika Bunda Maria berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Lalu malaikat itu meninggalkan dia" (Luk 1:38), itu artinya Bunda Maria mau mengajarkan pada kita tentang kepasrahan penuh iman, bahwa kita akan dapat menanggung segala beban penderitaan, maupun tanggung jawab besar dalam segala bidang kehidupan kita.

Teladan Maria bukanlah teladan yang sia-sia. Ketika kita menyerahkan segala persoalan kita di hadapan Tuhan, seringkali jawaban atas persoalan kita terjawab seutuhnya. Pasrah dan berserah penuh iman, berbeda dengan pasrah tanpa usaha. Pasrah yang menjadi alasan kita bermalas-malasan atau mencari pembenaran diri. Ketika kita tetap memegang teguh iman dan kepercayaan kita pada Allah, kita percaya bahwa Allah akan membimbing kita ke jalan yang benar, ke jalan yang seturut dengan kehendak-Nya.

Bagaimana caranya agar kita bisa memperoleh jawaban dari Tuhan atas persoalan kita? Dengan memiliki hidup yang dekat dengan Allah. Sama seperti Bunda Maria yang memiliki hubungan akrab dengan Allah, sehingga Allah berkenan dan mempercayakan anak-Nya yang tunggal kepada Maria. Hubungan dekat antara Allah Bapa dan Maria sungguh tercermin dari perkataan Maria yang menerima seutuhnya perintah dari Allah. Maria tidak memberontak, Maria tidak menolak dan protes, bahkan Maria tidak berlari menjauhi Allah, dia ikhlas hati menuruti kehendak Bapa.

Saudaraku terkasih, mari kita belajar dari Bunda Maria, dengan segala kerendahan hatinya, bersedia menanggung segala perintah Allah, meskipun harus menderita karenanya. Bunda Maria percaya penuh pada ketetapan Allah. Kata-kata Maria hendaknya meneladan kita untuk memiliki hubungan akrab dengan Tuhan. Mari kita membuka hati kita untuk memberikan tempat paling istimewa dalam hati kita bagi kediaman Allah. Selamat menyambut bulan Maria, bulan penuh berkat terutama bagi mereka yang berdevosi kepada Bunda Maria. Semoga Tuhan memberkati Anda sekalian dan Bunda Maria mendoakan kita semua.   

Saturday, April 7, 2018

Go Green..Go Green..Go Green..

Go green..go green.. kata-kata tersebut belakangan ini semakin menggema dan populer di dalam keseharian kita. Semua bidang dalam kehidupan kita selalu disangkutpautkan dengan Go Green. Ajakan untuk menjaga kelestarian lingkungan kita. Mengapa ajakan menjaga ini semakin lama semakin populer dan semakin sering disinggung-singgung? Karena bumi yang kita tempati sekarang ini telah menjadi semakin tua.

Saya adalah seorang perantau, bukan lahir dan menjalani masa kanak-kanak di Bandung. Saya ingat dengan jelas, sewaktu saya masih kecil, saya suka sekali diajak berlibur ke Bandung. Saya suka melintasi jalur perkebunan teh yang terhampar disepanjang sisi jalan, dengan udaranya yang segar, sejuk, wangi aroma dedaunan. Belum lagi ditambah dengan kabutnya yang masih sangat banyak menutupi jalan yang kami lalui. Saya langsung jatuh cinta pada suasana sejuknya kota Bandung.

Setelah saya menetap semakin lama di Bandung, suasana kabut dipagi hari sering kali tidak dapat saya lihat lagi. Udara yang tadinya dingin dan sejuk pun semakin berkurang, apalagi ketika siang hari. Panas matahari begitu menyengat dan panas. Kalau kata orang Sunda, itu namanya "hareudang". Semakin banyak mobil dan motor membuat udara yang tadinya segar menjadi penuh polusi dan kotor. Dan yang paling membuat saya sedih adalah masalah sampah!

Saya adalah pengguna setia angkutan kota di Bandung. Saya sering berada dalam angkot dengan berbagai macam tipe penumpang dari berbagai macam latar belakang dan usia. Saya sedih ketika saya melihat ada penumpang yang masih pelajar, membawa makanan kedalam angkot dan membuang sampah bekas makanannya di dalam angkot! Dan yang paling parahnya adalah seorang ibu yang menyuruh anaknya yang sedang makan untuk membuang sampah bekas makanannya itu di dalam angkot, dibawah kursi penumpang! Rasanya ingin marah, kesal, dan tak habis pikir. Angkot adalah fasilitas umum yang digunakan oleh banyak orang. Para penumpang pengguna angkot tentunya ingin merasakan kenyamanan di angkot yang ditumpanginya. Tapi bagaimana bisa nyaman kalau di dalam angkot betebaran sampah-sampah sisa makanan?

Seingat saya, sewaktu saya masih duduk di bangku SD, para guru mengajarkan tentang cara membuang sampah yang baik, ya harus ke tempat sampah. Dulu juga, ketika saya membuang sampah sembarangan, orang tua saya langsung menepak tangan saya dan menyuruh saya untuk memungut kembali sampah yang saya buang agar dibuang ke tempat sampah. Bagaimana mungkin ada anak yang bisa sembarangan begitu membuang sampah sekarang ini? Apa tidak diajarkan di sekolah ya sekarang dimana kita seharusnya membuang sampah? Apa para orang tua sekarang juga tidak bisa memberikan contoh cara membuang sampah yang benar? Heran saya #tibatibaemosi. Hahaha.

Ketika bumi diciptakan, "Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik (Kej 1:11-12). Ya, Allah telah menciptakan bumi dan segala isinya ini dengan sangat baik, "TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya (Mazmur 24:1).

Ketika Allah menciptakan bumi dengan sangat baik, apa hak kita mengotorinya? Apa boleh kita dengan seenaknya merusak bumi tempat tinggal kita ini, padahal Sang Empunya bumi adalah Allah? Sadarkah kita bahwa kita telah menodai dan mengotori ciptaan Tuhan yang telah dirancang begitu sempurna? Kita hanyalah manusia yang diijinkan singgah sebentar di bumi ini, apa pantas kalau kita merusak tempat tinggal yang Allah ciptakan? Apa boleh kita berlaku seenaknya dengan mengotori bumi ini? Jika sebentar saja, kita diberi waktu untuk merenung, siapakah kita ini dimata Tuhan dan betapa kecilnya kita bagi Allah?

Saudaraku yang terkasih, mari kita sekalian berkomitmen mulai hari ini, untuk lebih peduli dan sayang pada sesama ciptaan Tuhan, pada alam kita, pada lingkungan tempat kita tinggal, pada sekitar kita. Saat kita sebagai sesama ciptaan Tuhan saling menjaga, maka Allah akan tersenyum bahagia. Mari sedikit saja kita berusaha untuk membalas kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Mari kita buat Allah tersenyum. Mari menjaga lingkungan kita. Semoga Tuhan memberkati Anda sekalian dan Bunda Maria mendoakan kita.   

Sunday, February 4, 2018

Rahmat Allah sebagai Sumber Kekuatan Kita

Memasuki bulan Februari tentunya juga mengingatkan kita bahwa kita juga memasuki masa pra Paskah. Masa pra Paskah yang identik dengan pertobatan selalu ingin mengajarkan pada kita untuk dapat merefleksikan kembali kehidupan kita. Masa pra Paskah selalu mengajarkan kita juga untuk dapat melihat sejauh mana pertobatan kita tahun sebelumnya telah membawa kita pada hidup yang lebih baik di tahun berikutnya.

Sampai hari ini masa pra Paskah selalu diidentikkan dengan pertobatan sejati. Pertobatan sejati yang mungkin kita sendiri belum yakin apa makna sesungguhnya dari arti kata itu. Pertobatan yang sejati selalu mengajarkan kita, selalu menuntut kita melakukan hal-hal yang luar biasa. Ketika kita jatuh dalam dosa kita harus mampu bangkit kembali dan melawan dosa kita itulah makna sesungguhnya dari pertobatan yang sejati. Ketika pertobatan itu membuat hidup kita menjadi lebih baik, dapat menjadi berkat bagi sesama, dapat memberikan yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan, dan yang terutama dapat memberikan Sukacita baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dan Tuhan sendiri maka pertobatan itulah yang hendaknya kita capai.

Dalam setiap pergumulan hidup, kerap kali kita dihadapkan pada situasi yang mungkin mengharuskan kita untuk bertindak tegas. Kadang ketegasan diterima orang lain sebagai suatu bentuk penindasan, ketegasan belum tentu mampu diterima dengan rendah hati oleh beberapa orang. Ketika kita mampu menerapkan ketegasan dengan bentuk kasih, untuk mewujudkan pertobatan kita menjadi manusia yang lebih baik itu artinya kita telah berhasil membawa damai juga pada sesama.

Mungkin beberapa dari Anda bertanya, bagaimana mungkin kita bertindak tegas namun dengan kasih? Mungkinkah kita menerapkan ketegasan dengan kasih? Ketika kita mengandalkan kekuatan manusia untuk menjadi tegas maka orang lain akan menganggap ketegasan kita sebagai bentuk penindasan. Ketika kita menerapkan ketegasan kita dengan mengikuti ajaran Tuhan Yesus Kristus, maka bukannya tidak mungkin kita akan mampu mengajarkan ketegasan namun dengan penuh kasih. Itulah yang disebut rahmat Allah.

Rahmat Allah selalu memampukan kita untuk bertindak lebih bijaksana. Rahmat Allah memungkinkan kita untuk melakukan hal yang kadang terdengar mustahil, misalnya memaafkan musuh kita, membantu sesama ketika kita sendiri sedang dalam kesulitan, mendengarkan dan menasihati sesama disaat kita sendiri sedang berbeban berat. Rahmat Allah selalu mampu memberikan kita kemampuan untuk dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Rahmat Allah selalu membimbing kita pada jalan yang membawa kita menjadi manusia yang lebih baik, seturut kehendak Bapa.

Marilah Saudaraku terkasih, kita berdoa memohon rahmat Allah dalam menyongsong masa pertobatan kita tahun ini, masa pra Paskah kita masing-masing, masa yang penuh berkat apabila kita sungguh-sungguh mau bertobat. Segala yang Tuhan ajarkan dalam Kitab Suci tentang pertobatan hendaknya kita terapkan sedikit demi sedikit dalam kehidupan kita, karena kita belum tentu mampu melaksanakan setiap ajaran itu semua dan sekaligus. Semoga Tuhan membimbing kita untuk memperoleh rahmat Allah dan semoga Tuhan memberkati segala niat baik kita juga, untuk melakukan pertobatan dalam masa pra Paskah ini dengan penuh kasih, sehingga kita melakukan pertobatan kita dengan penuh Sukacita. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.    

Sunday, January 14, 2018

Selalu Mengandalkan Tuhan dalam Setiap Rencana

Setiap tahun, ketika kita merayakan tahun yang baru kita selalu bertanya, atau ditanya mengenai harapan kita di tahun yang akan datang. Setiap kali kita ditanya harapan pastilah kita akan memberikan jawaban mengenai hal-hal baik yang kita harapkan akan kita terima. Hal yang mungkin adalah keinginan terpendam kita, mimpi-mimpi kita, cita-cita dan segala hal yang ingin kita raih, yang ingin kita dapatkan. Segala harapan itu menjadi semacam tolak ukur kebahagiaan kita.

Perubahan yang kita hadapi setiap tahun, bahkan setiap hari sering membuat kita berpikir bahwa kita akan selangkah lagi mencapai cita-cita atau harapan kita. Seringkali kita mengukur seberapa dekat langkah kita menuju harapan kita. Seringkali kita berasumsi sendiri tentang seberapa banyak usaha yang kita jalani sehingga kita merasa berhak atas hasil dari jerih payah kita.

Harapan dan usaha kita seringkali membutakan kita. Kadang kala kita lupa akan Tuhan dalam menjalani kehidupan kita. Kita sibuk sendiri dengan segala usaha dan cita-cita kita tanpa mempedulikan Tuhan. Kita lupa melibatkan Dia dalam usaha kita sehingga ketika kita mengalami sedikit kegagalan, kita menjadi sangat kecewa. Kita menjadi emosional dan menarik diri. Bahkan banyak yang kemudian malahan meninggalkan Tuhan karena merasa dikecewakan.

Saudaraku terkasih, pernahkah Anda merasakan seperti itu? Anda merasa kecewa ketika segala usaha Anda ternyata sia-sia. Anda merasa telah melakukan segala hal yang terbaik yang bisa Anda lakukan tetapi hasil yang Anda terima ternyata tidak sesuai dengan harapan Anda. Ketika kekecewaan itu rasanya begitu berat Anda lalu memutuskan bahwa Tuhan lah yang bersalah atas kegagalan anda, bahwa Tuhan lah yang menjadi penyebab semua kesulitan dan semua kekecewaan Anda. Anda menjadi pemarah, Anda menjadi pendendam, Anda menjadi penggerutu, penuh keluh kesah dan tidak lagi mampu melihat sukacita, tidak lagi mampu melihat harapan, tidak lagi mampu melihat hal-hal baik yang dapat Anda syukuri.

Harapan selalu baik apabila kita peruntukan baik, harapan selalu ada apabila kita terus berpegang pada janji Tuhan. Harapan akan menjadi sia-sia ketika kita melupakan campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Segala usaha kita untuk mencapai harapan kita itu akan menjadi hampa tanpa kehadiran Tuhan. Apabila saat ini Anda dalam suasana hati yang penuh kekecewaan merasa gagal dan merasa ditinggalkan mungkin ini saatnya bagi Anda untuk menilai dalam diri Anda, untuk bertanya dalam hati apakah Anda telah melibatkan Tuhan dalam segala usaha Anda? Apakah Anda sungguh-sungguh berharap hal-hal baik sehingga Tuhan merestui harapan Anda itu? Apakah menurut Anda kegagalan dan kekecewaan yang Anda alami murni kesalahan Tuhan ataukah hanya egoisme Anda sendiri yang menghalangi Anda untuk melihat bahwa sesungguhnya ini adalah pelajaran yang ingin Tuhan ajarkan pada Anda dalam menghadapi kehidupan ini.

Satu hal lagi yang mungkin menjadi penyebab kekecewaan Anda adalah harapan yang terlalu tinggi yang Anda inginkan. "Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia” (Amsal 20:28). Pernahkah Anda mengkaji ulang mengenai harapan-harapan Anda? Mengenai cita-cita Anda? Apakah tujuan yang ingin Anda capai ketika harapan dan cita-cita Anda menjadi kenyataan? Janganlah membuat harapan yang sia-sia seperti harapan orang fasik. Biarlah harapan Anda menjadi harapan yang seturut kehendak Tuhan. Oleh karena itu hendaklah di tahun yang baru ini, kita memulai awal tahun baru ini dengan membuat harapan-harapan dalam doa kita yang disertai dengan restu dari Tuhan saja sehingga harapan baik yang kita awali dengan doa dapat akhirnya terwujud sesuai dengan kehendak Tuhan bukan sesuai dengan kehendak kita saja.

Marilah saudaraku terkasih, kita awali tahun yang baru ini, tahun 2018 menjadi tahun yang penuh rahmat, yang penuh harapan baik, yang menjadikan kita lebih mampu mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana dan langkah yang akan kita ambil ke depan. Biarlah tangan Tuhan yang berkarya atas hidup kita, atas harapan kita, atas cita-cita kita, atas pelayanan kita dan penyerahan diri kita seutuhnya kepada Tuhan. Marilah kita belajar untuk tidak memberikan harapan yang terlalu tinggi, untuk tidak berharap terlalu banyak sehingga kita tidak perlu mengalami kekecewaan yang berat dan sepenuhnya bisa mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana dalam setiap usaha, dalam setiap kerja keras kita. Semoga Tuhan memberkati kita semua di tahun yang baru dan Bunda Maria mendoakan kita.

Sunday, December 10, 2017

Hendaklah Kita Menjadi Pelaku Kebaikan sesuai Semangat Natal

Natal lagi, senangnyaaa.... Natal selalu membawa suasana jadi lebih menyenangkan, alunan lagu-lagu Natal, pohon-pohon natal yang berkelap kelip, hiasan natal yang beraneka macam, semuanya menjadikan suasana menjadi lebih ceria dan menyenangkan. Suasana kegembiraan Natal itu seperti seseorang yang menantikan suasana pesta yang meriah dan penuh sukacita.

Ketika kita sedang menikmati suasana natal, kadangkala ada situasi diluar kendali kita yang kemudian membuat suasana gembira itu menjadi hilang, mungkin saja kita tiba-tiba terkena musibah, atau mungkin sakit, atau tergelincir masalah. Semuanya itu membuat kita jadi tidak lagi bersemangat menantikan Natal.

Sesungguhnya Yesus pernah memperingatkan kita agar kita tidak seperti orang-orang Farisi, "Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (Mat 23:4)". Ketika kita menyambut kedatangan Kristus, kita sebenarnya juga diingatkan bahwa, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mt 16:24)." Jadi, apapun keadaan kita, apapun situasi yang mungkin sedang membelenggu kita saat ini, hendaknya dengan suasana Natal menjadikan segala pergulatan kita itu menjadi berkat tersendiri bagi kita. Sama seperti ketika Kristus hadir ditengah kita. Dia yang hadir dalam suasana malam pekat disimpan dalam palungan. Beban yang harus ditanggung oleh Bunda Maria dan St. Yosef sebagai orang tua ketika terpaksa harus membiarkan anaknya lahir dalam kandang tidak kemudian menjadikan Maria dan Yosef bersedih dan kehilangan sukacita itu. Mereka sadar akan konsekuensi dari pilihan mereka ketika mereka memutuskan untuk menjadi abdi Allah, menjadi pengikut Kristus yang setia dan taat.

Teladan Bunda Maria dan St. Yosef yang penuh iman itu pada akhirnya membawa terang bagi dunia, bayi yang terbungkus kain lampin dan dibaringkan dalam palungan itulah yang kemudian menjadi terang dan penyelamat dunia. Jika Allah mengijinkan kita kembali merayakan Natal itu artinya Allah memberi kita kesempatan lagi untuk merasakan sukacita Natal itu lagi, Allah mengingatkan kita kembali bahwa dibalik setiap kesulitan kita, dibalik semua kesedihan dan beban berat yang sedang kita tanggung, pasti ada sukacita pada akhirnya.
Selain itu Allah juga mengingatkan pada kita bahwa meskipun kita dalam keadaan yang sedang berbeban, tidak seharusnya hal tersebut menjadi penghalang kita untuk membagikan sukacita Natal. Kita dapat tetap berbagi sukacita meskipun sedang bersedih, kita dapat membagikan kebaikan meskipun hidup sedang terasa berat. Seperti dalam salah satu kotbah Romo Heru, SCJ yang saya ingat adalah, "Jangan puas menjadi penikmat kebaikan yang dibuat orang lain. Marilah kita menjadi salah satu pemainnya." Ya, dengan berbagi sukacita, dengan berbagi kebaikan, dengan berbagi senyum, kita telah menjadi pelaku kebaikan juga seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria dan St. Yosef yang tetap berbagi sukacita meski dalam keadaan paling sederhana sekalipun.

Saudaraku yang terkasih, selamat mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus. Mari kita menularkan sukacita dan kegembiraan Natal kepada sesama kita. Allah adalah setia, janji-Nya adalah "YA" dan "AMIN", tetaplah teguh dalam iman kita akan penyelamat dan terang dunia, Yesus Kristus. Karena dalam Dialah kita merasa tenang, dalam Dialah segala perkara dapat kita tanggung, tetaplah berpengharapan seperti Bintang Timur yang memberikan petunjuk dan harapan baru bagi mereka yang mencarinya. Di penghujung tahun 2017 inipun ijinkan saya mengucapkan harapan saya juga. Semoga setiap tulisan yang pernah saya buat dapat membantu kita bersama dalam penghayatan iman. Semoga Anda memaafkan apabila mungkin ada tulisan-tulisan saya yang sekiranya kurang berkenan. Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Semoga Tuhan memberkati Anda sekalian dan Bunda Maria mendoakan kita semua. 

Monday, November 13, 2017

Mari Mengisi Masa Adven denga Pertobatan

Mendengar kata "adven" selalu memberikan kesan yang berbeda bagi saya pribadi, karena setiap kali mendengarnya, adven rasanya memberikan sukacita tersendiri yang membuatnya selalu terkenang. Dalam masa-masa penantian ini seringkali menimbulkan kenangan lama yang terus terkenang, kadang disertai juga dengan harapan baru dalam menyongsong Natal, menyongsong kehadiran Yesus Kristus.

Adalah seorang anak yang meminta ijin kepada ibunya untuk pergi merantau demi mengejar cita-cita dan ambisinya untuk sukses. Meskipun berat, ibu ini akhirnya mengijinkan anaknya untuk pergi dengan harapan anaknya suatu saat akan kembali lagi padanya. Hari demi hari, bulan demi bulan hingga kemudian berganti tahun, sang anak yang pada awalnya masih rajin berkirim kabar semakin lama seolah telah melupakannya, tak ada lagi surat, tak ada telpon, tak ada kabar sampai beberapa tahun kemudian. Sang ibu dengan setia mendoakan anaknya agar selamat dan suatu saat kembali untuk sekedar menengoknya. Namun harapan itu semakin dipendamnya karena anaknya ini seolah menjauh darinya. Dengan penuh pengharapan ibu ini tetap berdoa dan menunggu.

Suatu ketika sang ibu kedatangan beberapa orang anggota polisi yang berseragam lengkap dan menanyakan apakah ibu tersebut mengenal seseorang dalam foto yang mereka bawa dan menyebutkan nama anaknya. Ternyata polisi tersebut menemukan anak sang ibu dalam kondisi yang mengenaskan. Dia menjadi korban kekerasan dan akibatnya anaknya lumpuh dan tak dapat bergerak lagi. Meskipun dalam kondisi fisik yang sangat menyedihkan sang ibu tetap dengan sukacita menyambut kedatangan anaknya kembali dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Saudaraku yang terkasih, dalam hidup mungkin kita pernah tersesat seperti anak tersebut. Demi mengejar cita-cita dan ambisi pribadinya, kita lupa akan orang-orang yang kita kasihi. Kita tak lagi menyediakan waktu kita untuk mereka, kita sibuk sendiri dengan pekerjaan dan usaha kita, kita menganggap bahwa orang tua kita, suami/istri kita, bahkan anak-anak kita sudah cukup dewasa untuk dapat menghargai ambisi pribadi yang ingin kita capai, yang ingin kita raih, kita sering mengabaikan mereka bahkan tidak sabar pada mereka padahal sesungguhnya keluarga kita adalah tempat dimana kita dapat selalu merasa nyaman. Keluarga adalah orang-orang yang selalu mendoakan kita dan selalu memeluk kita dengan erat kala kita berada dalam kondisi terburuk kita. Keluarga selalu memberikan kita tempat apabila kita ingin pulang dan menerima kita apa adanya.

Kadang dalam hidup, kita mungkin juga bertindak seperti sang ibu, yang hanya dapat berdoa, dan berharap bahwa suami/istri kita, atau anak-anak kita bertobat dari jalan yang salah. Kita merasa pengorbanan kita sia-sia, doa kita tak didengar karena telah bertahun-tahun tetap tidak ada perubahan, mungkin kita pun merasa harapan kita telah hilang karena sepertinya tidak ada titik terang dari masalah kita. Namun sesungguhnya, kita diajarkan untuk dapat belajar bahwa harapan itu selalu ada dan terbuka bagi siapapun yang setia dan bertekun.

Hanya diri kita saja yang dapat menilai menjadi siapakah kita sekarang ini? Menjadi sang anak yang terlalu sibuk, ataukah sang ibu yang setia dan bertekun? Apabila saat ini kita merasa menjadi sang anak, maka masa adven adalah masa yang paling tepat apabila kita isi dengan pertobatan dan mau memperbaiki diri kita sendiri. Apabila saat ini kita sedang berada dalam posisi sang ibu, percayalah bahwa harapan selalu ada, bahwa waktu Tuhan tidak pernah terlambat. Mari kita isi masa adven ini dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan sehingga pada akhirnya kita akan mendapatkan sukacita yang penuh sebagaimana yang Tuhan janjikan. "Kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mar 1:15).

Mari kita menyongsong Natal dengan mengisinya dengan pertobatan, beramal kasih dan tetap berpengharapan pada Tuhan Yesus Kristus karena Dia menjanjikan sukacita pada setiap orang yang didapati-Nya setia dan bertekun. Selamat menjalani masa adven dan menyongsong Natal yang penuh sukacita. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua. 

Monday, October 9, 2017

Rosario sebagai Lambang Kesetiaan Iman

Ketika kita membahas mengenai berdoa rosario, mungkin sebagian besar orang langsung mengidentikannya dengan novena, dengan ujud-ujud tertentu yang diinginkan. Atau mungkin berharap pada keajaiban tertentu dengan rajin mendaraskannya. Sebagian orang berpikir bahwa doa rosario merupakan doa yang dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria dan dengan rajin mendoakannya niscaya keinginan kita akan terkabul. Padahal sesungguhnya Doa Rosario adalah kumpulan doa yang lengkap. Lengkap dengan berbagai kisah tentang Yesus dan perjalanan-Nya dan tidak melulu tentang Maria.

Ketika kita berdoa rosario, kita diajak merenungkan kisah hidup Yesus dari sejak pertama kali Bunda Maria mendapat kabar gembira dari malaikat Tuhan bahwa Ia akan mengandung dari Roh Kudus. Roh Kudus yang sama itulah yang sampai kini masih terus melayang-layang di dunia ini mencari hati yang terbuka dan mau menerimanya dengan sukacita. Ketika kita memutuskan untuk menerima Roh Kudus saat pembaptisan kita, sebenarkan kita diajak untuk terus melibatkannya dalam keseharian kita.

Roh Kudus hendaknya kita undang dalam setiap doa kita. Ketika kita mampu berdoa dalam roh dan kebenarannya disitulah kita dapat mencerminkan kesetiaan iman kita. Lalu apa hubungannya, rosario dan kesetiaan iman?

Adalah seorang anak laki-laki yang tinggal berdua dengan ibunya karena sejak ia masih kecil ayahnya pergi meninggalkan mereka. Ibunya yang baik hati tidak ingin agar putranya jadi membenci ayahnya yang meninggalkan mereka, selalu mengatakan bahwa ayahnya itu ketika pergi sempat berpamitan dan berjanji akan kembali setelah dia berhasil dan mengalami kesuksesan. Ibunya setiap malam selalu mengajak putranya ini untuk berdoa rosario. Tahun demi tahun berlalu tanpa ada sedikitpun kabar dari ayahnya membuat pemuda ini berpikir bahwa mungkin ibunya telah berbohong padanya. Bahwa ayahnya tak pernah ada niat untuk kembali ketika dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan keluarganya. Pemuda ini pun mulai berpikir, untuk apalagi dia mendoakan rosario setiap hari? Untuk apa dia mendoakan ayahnya untuk kembali padahal yang bersangkutan memang tidak ada usaha sama sekali untuk kembali pada keluarganya? Pemuda inipun mulai mempertanyakan untuk apalagi tetap setia berdoa rosario kalau pada akhirnya tidak berguna?

Ibunya mengatakan bahwa ia tidak mengajaknya berdoa rosario untuk membesarkan hatinya atau berbohong padanya. Ibunya lalu mengutip sebuah ayat dalam Kitab Suci, "Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan (Yak 5:11)." Kalimat berikutnya membuat pemuda ini terdiam, ibunya berkata, "Ketika kau bertekun, mendoakan orang yang berbuat jahat padamu, maka tenanglah jiwamu dan kedamaian dekat denganmu. Bukan masalah sebesar apa kesalahan yang orang lakukan terhadapmu, tapi seberapa damai hatimu saat berdoa dan menjalani hari-harimu? Bunda Maria mengajarkan kesetiaan ketika ia turut serta dalam mengikuti jalan salib Putranya, kesetiaan itulah yang pada akhirnya mengangkat Maria ke surga. Kesetiaan itulah yang diwariskan Bunda Maria lewat berdoa rosario. Saat kamu bertekun dalam doa rosario, Bunda Maria akan mendampingi dan menganugerahimu dengan ajaran kesetiaannya."

Saudaraku, Tuhan sendiri mengatakan bahwa orang yang bertekun adalah orang yang berbahagia. Ketika Anda ingin mencari kebahagiaan, bukankah Tuhan sudah menjawabnya? Bertekunlah, belajarlah akan arti kesetiaan melalui Bunda Maria, lewat warisannya berupa doa rosario. Semoga Anda mendapatkan kebahagiaan Anda. Dan semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan Anda.

Sunday, September 10, 2017

Kitab Suci sebagai Pelita Hidup

Ada yang berbeda ketika kita mengikuti perayaan Ekaristi pada tanggal 02 atau 03 September yang lalu. Jika Anda tidak datang terlambat untuk misa, Anda pasti melihat ada seorang lektor yang membawa Kitab Suci besar untuk kemudian ditahtakan oleh Imam di depan altar. Bagi Anda yang sudah lama menjadi katolik, mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan tradisi perarakan Kitab Suci setiap tahun di awal bulan September. Namun bagi Anda yang baru mengenal tradisi Katolik, atau baru mau mengenal dan menjadi Katolik, bulan September telah ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci Nasional, yang artinya kita sebagai umat Katolik diharapkan untuk mau lebih sering membaca Kitab Suci, memahami maknanya dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mungkin Anda berpikir untuk apa ada penetapan khusus seperti itu? Apa gunanya peringatan bulan Kitab Suci Nasional itu? Mengapa perlu adanya penetapan selama 1 bulan hanya untuk mengajak umat lebih mengenal Kitab Suci?

Kitab Suci adalah kumpulan dari ajaran-ajaran Kristus yang telah dirangkum menjadi sebuah buku tebal dengan banyak kitab dan ayat-ayat di dalamnya. Kitab Suci adalah jawaban atas semua persoalan hidup yang mungkin sedang Anda alami saat ini. Sekali lagi saya katakan, semua jawaban! Mungkin Anda tidak percaya tapi memang kenyataannya seperti itu. Semua jawaban atas pertanyaan Anda sebetulnya sudah Tuhan beri jawabannya pada Kitab Suci. Hanya Anda mungkin belum menyadarinya.

Katakanlah Anda adalah orang yang sangat sibuk, Anda tidak punya banyak waktu untuk membaca Kitab Suci setiap hari, tapi Anda rajin mengikuti perayaan Ekaristi setiap minggu di gereja. Anda pasti mendengarkan Kitab Suci dibacakan. Tanpa Anda sadari, sedikit demi sedikit ajaran-ajaran itu pasti terekam dalam alam bawah sadar Anda. Ketika Anda sedang menghadapi situasi sulit dalam hidup Anda, tiba-tiba Anda seperti mendapat pencerahan dengan mengingat satu dua ayat dari Kitab Suci.

Adalah seorang anak perempuan sedang mencari kayu bakar untuk dijual di pasar demi membantu ibunya yang sedang sakit. Dalam perjalanannya ke hutan, dia teringat akan pesan ibunya, "Ikatlah pita-pita rambutmu sepanjang perjalanan agar kau tidak tersesat. Jangan masuk ke hutan terlalu dalam, kembalilah ke kota sebelum matahari terbenam dan bawalah selalu senter ini sebagai bekal di perjalanan." Anak ini menuruti perintah ibunya. Sepanjang jalan dia mengikat beberapa pita rambutnya sebagai penunjuk arah agar tidak tersesat. Hari makin siang dan kayu bakar yang dikumpulkannya belum cukup banyak untuk bisa dijual. Akhirnya tanpa disadarinya, anak ini terus berjalan masuk ke tengah hutan. Ketika tiba di tengah hutan, ia akhirnya menemukan cukup banyak kayu bakar untuk diangkut. Namun sayang, dia kehabisan pita rambutnya. Seketika itu anak tersebut menjadi bimbang, apabila ia meneruskan perjalanan tentunya ia akan mendapat kayu bakar yang sangat banyak untuk dijual dan dapat digunakan untuk membeli obat bagi ibunya yang sakit. Namun disisi lain, ia terus teringat akan nasihat ibunya. Akhirnya dengan berat hati ia hanya mengangkut kayu bakar seadanya dan memutuskan untuk kembali ke kota dan menjual hasil yang dikumpulkannya itu karena ia terus mendengar nasihat yang berulang-ulang dikatakan oleh ibunya sebelum ia berangkat. Dalam perjalanan pulangnya ia mendapati kabut turun lebih cepat. Beruntung ia membawa senter sebagai penerang jalannya, sehingga ia dapat melihat jejak-jejak pita rambut yang ditinggalkannya dan akhirnya selamat kembali ke kota.

Saudaraku, mungkin nasihat ibu tadi pada anaknya sama seperti ayat-ayat dalam Kitab Suci yang berulang-ulang kita dengar. Ketika kita hampir tersesat kita terus teringat akan kata-kata itu. Sama seperti itulah yang akan kita terima apabila kita rajin membaca Kitab Suci, ia akan menuntun kita kembali ke arah yang benar. Sama juga dengan senter yang dibawa anak tadi, ketika kita memutuskan untuk melaksanakan perintah Allah yang dituangkan dalam Kitab Suci, seketika itu pula ajaran Kristus itu menjadi penerang bagi jalan kita.

Bulan September ini adalah bulan yang tepat untuk mengajak orang terdekat kita, keluarga kita, untuk lebih mengenal Kitab Suci, mungkin Anda tidak akan langsung melihat hasilnya namun percayalah suatu saat ayat-ayat dalam Kitab Suci itulah yang akan menjadi kekuatan bagi Anda. Ketika kita sejak dini mengajak anak-anak kita mengenal Kitab Suci, percayalah bahwa saat anak Anda menjadi dewasa, mereka akan merasakan manfaatnya. Mari kita bersama mulai mengenal lebih dekat ajaran-ajaran Kitab Suci agar kita dapat terus bertumbuh dalam iman, pengharapan dan tentunya kasih pada Allah dan sesama. Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.

Friday, August 11, 2017

Memaknai Kemerdekaan Sejati dalam Keluarga

Ketika berbicara soal keluarga, setiap dari kita pasti memiliki gambaran ideal tentang keluarga yang seperti apa yang kita impikan. Suasana keluarga yang bagaimana yang kita harapkan, atau bahkan saudara seperti apa yang cocok dengan kita. Ya, gambaran keluarga ideal biasanya menjadi curahan hati atau harapan indah yang kita idam-idamkan. Tetapi kenyataan seringkali membawa kita pada kekecewaan. Kenyataan seringkali membuat kita bertanya mengapa kita terlahir dalam keluarga kita sekarang? Atau mengapa kita tidak dapat hidup sebagaimana gambaran ideal kita?

Sebetulnya apabila kita dapat merenungkan makna dibalik keinginan dan harapan kita, apabila kita merasa tidak puas atau bahkan kecewa dengan keluarga kita, mungkin ada keegoisan diri yang menguasai kita. Merenungkan sebuah gambaran ideal keluarga dengan dilatarbelakangi suatu sikap egois tidak akan membuat kita lebih bahagia.

Seorang anak, mungkin mengharapkan orang tuanya untuk tidak membatasi pergaulannya, untuk memberikan kebebasan berteman dan bersosialisasi dengan berbagai macam orang tanpa khawatir orang tua akan melarangnya. Sebagai orang tua, mungkin mereka mengharapkan anak yang rajin dan penurut, tidak pernah membantah sehingga tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti. Seorang suami mengharapkan istri yang mampu mendampinginya dan mendidik anak-anak dengan baik. Seorang istri mengharapkan suami yang bertanggung jawab, setia dan mampu membimbingnya dan anak-anak menjadi suatu keluarga yang rukun. Tetapi gambaran tersebut seakan menjadi impian kosong di siang hari.

Setiap keluarga, pasti banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Ketika menghadapi tantangan tersebut, bagaimana sikap kita? Apakah kita menyalahkan keadaan? Ataukah kita menyesali tinggal dalam keluarga kita? Atau bahkan mempertanyakan keputusan Tuhan yang menempatkan kita dalam keluarga tersebut? "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku (Mazmur 139:13)". Ingatlah bahwa Tuhan telah mengenal kita sejak kita ditenun dalam kandungan. Tidak pernah salah keputusan Tuhan. Dialah yang menjadikan kita dan Dia juga yang akan menjaga kita.

Ketika kita sibuk memikirkan gambaran ideal keluarga sebagaimana yang kita harapkan bukankah sebetulnya kita telah menghalangi diri dari sukacita, kedamaian dan ketentraman hati kita? Kita seperti telah menutup diri terhadap berkat-berkat Tuhan dengan keluh kesah dan ketidakpuasan kita pada keluarga kita. Kita lupa bersyukur bahwa ada orang yang menjaga kita, mengingatkan kita ketika kita melakukan kesalahan, menegur kita saat kita menyimpang, orang yang benar-benar perduli pada kita dengan tulus. Selalu ada niat baik yang melatarbelakangi setiap keputusan dalam keluarga. Hanya terkadang sikap kita yang seringkali salah menafsirkan niat baik tersebut. Kita sering berprasangka tanpa terlebih dahulu mengklarifikasikannya dengan keluarga kita. Sikap kitalah sebetulnya yang kadang kala menjerumuskan bahkan menjauhkan kita dengan orang yang kita cintai. Sikap kitalah yang seringkali juga menimbulkan salah paham dan tanpa sadar menyakiti perasaan orang-orang yang kita kasihi. Sikap kita juga yang tanpa kita sadari telah menjauhkan kita dari sukacita tinggal dan memiliki keluarga.

Saudaraku yang terkasih, kita telah hidup dalam dunia yang menghargai dan menjunjung tinggi kebebasan. Kita hidup dalam dunia yang mendambakan kemerdekaan yang sejati. Merdeka dari belenggu keegoisan, merdeka dari jerat iri hati, merdeka dari sikap sinis yang dapat menghancurkan hubungan dalam ikatan persaudaraan kita. Kita yang merdeka tentunya akan mampu mewujudkan gambaran ideal keluarga sebagaimana yang kita dambakan. Kita yang merdeka tentunya akan mampu menciptakan sukacita dalam keluarga kita. Kita yang merdeka adalah kita yang meneladan pada ajaran Allah. Kita yang merdeka adalah kita yang berusaha menjadi seperti keluarga Kudus Nazaret. Kita akan mampu mencapai kemerdekaan itu asalkan kita mau menyediakan waktu untuk Tuhan, dengan rendah hati mau menerima pengajaran Tuhan, mau sukarela mengikuti perintah-Nya dan terbuka pada setiap bimbingan-Nya.

Marilah saudaraku yang terkasih, kita belajar meneladan keluarga kudus Nazaret sehingga kita dapat memaknai kemerdekaan sejati kita. Kemerdekaan dari sikap dan tindakan yang justru akan memecahbelah tali persaudaraan kita. Niscaya dengan meraih kemerdekaan sejati kita maka kita akan menciptakan suasana penuh sukacita dalam keluarga kita. Semoga Tuhan selalu membimbing langkah kita dalam mewujudkan suasana kekeluargaan yang lebih damai. Semoga kita tetap setia mendengarkan nasihat-Nya dan tetap rendah hati pada setiap ajaran-Nya. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan saudara.  

Monday, July 10, 2017

Iman Tumbuh dalam Pelayanan

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis. Rindu juga rasanya. Padahal baru 2 bulan terlewat karena berbagai situasi, tapi rasanya sudah lama sekali. Ketika menulis ini kerinduan itu terobati juga. Saya jadi teringat akan sebuah kisah hidup yang menginspirasi saya membuat tulisan ini.

Semua berawal ketika seorang sahabat menceritakan tentang seseorang yang dikenalnya, hidupnya terlihat kudus, karena dia rajin ke gereja, ikut kegiatan keagamaan, suka membaca kitab suci, tampak luar terlihat begitu religius. Namun kehidupannya diluar kegiatan gereja ternyata sangat bertentangan, suka berpesta pora, mabuk-mabukan, berselingkuh dan "kenakalan-kenakalan" lain yang sangat bertentangan dengan ajaran agama. Kehidupannya sangat tidak sejalan dengan kegiatan religius yang dia laksanakan dan ikuti. Cerita sahabat saya ini lalu membuat saya berpikir, bagaimana bisa seseorang seperti itu? Seperti memiliki kehidupan ganda dimana suatu saat dia begitu terlihat taat beragama tapi di sisi lain, godaan jasmani atau istilah dalam kitab suci keinginan daging ternyata tak mampu untuk di tahannya? Dia seperti tidak mampu melaksanakan apa yang diimaninya.

Benarkah ada orang seperti itu? Ya. Jawabannya ADA. Mungkin kita adalah salah satunya, dimana kita tak mampu melaksanakan atau menjalankan ajaran Yesus padahal kita telah rajin ke gereja misalnya. Namun mungkin saja apa yang tanpa kita sadari telah kita lakukan itu mungkin tidak seekstrim kisah hidup seseorang yang diceritakan oleh sahabat saya itu. Bila teman dari sahabat saya itu terlihat begitu kontras antara kehidupan satu dengan yang lainnya, mungkin saja apa yang terjadi pada kita tidak kita sadari namun orang lain dapat melihatnya.

Pernahkah ada dalam benak Anda, ketika Anda mendoakan seseorang yang sakit lalu kemudian sembuh dan Anda berpikir, berkat doa saya dia menjadi sembuh? Atau pernahkah Anda merasa hebat ketika berhasil melaksanakan suatu kegiatan doa yang kemudian berhasil mempertobatkan banyak orang? Pernahkah Anda merasa bahwa berkat campur tangan Anda segala urusan pelayanan menjadi beres dan berjalan dengan baik? Bukankah itu termasuk dalam "kesombongan iman" Anda saat Yesus justru mengajarkan tentang melayani sesama dengan kasih?

Saudaraku terkasih, tuaian memang banyak, namun pekerja sedikit. Sedikit dari sekian banyak orang yang mau menerima dan menjalankan panggilan Tuhan untuk melayani di gereja, di komunitas, di lingkungan. Sebagai orang-orang yang terpanggil, yang terpilih, yang mau menjawab panggilan Tuhan, alangkah baiknya apabila kita tidak tenggelam dalam arogansi pribadi kita. Ketika Anda menerima panggilan Tuhan, bukankah Anda mengharapkan sesuatu dari-Nya? Jujur saja saudara-saudaraku terkasih, sebagian besar dari kita pasti ingin sesuatu dari menanggapi panggilan Tuhan itu. Mungkin Anda berharap, dengan melayani-Nya Allah akan menambahkan iman Anda, atau mungkin dengan melayani Tuhan Anda berharap mendapatkan kekuatan dalam menjalankan kehidupan ini? Anda masing-masing pasti punya alasan, punya motivasi tersendiri ketika menjawab "YA" pada panggilan Tuhan.

Saudaraku terkasih, ketika Anda melayani Tuhan dengan segenap kerendahan hati Anda, dengan segala ketulusan Anda, dengan semua daya upaya, usaha dan pengorbanan Anda, ketika itulah Tuhan mengubah hidup Anda. Jangan pernah mengharapkan berkat apapun, jangan pernah menuntut mujizat dari Tuhan, lakukan segala pelayanan Anda dengan tulus dan rendah hati, maka Allah akan mencukupkan segalanya bagi Anda. Seperti Yesus pernah berkata kepada seorang perempuan pendosa, "Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk 7:50), maka janji itupun berlaku bagi kita yang melayani dengan tulus. Iman yang menyelamatkan itu hanya akan kita dapatkan ketika kita dengan rendah hati melayani Tuhan, seperti perempuan pendosa yang melayani Yesus, membasuh kaki-Nya dan meminyaki-Nya dengan minyak wangi terbaik.

Mari saudaraku yang terkasih, kita belajar memperbaiki diri. Belajar rendah hati, belajar melayani Tuhan dengan tulus, sehingga Allah menganugrahkan pada kita iman yang terus bertumbuh. Iman yang pada akhirnya akan menyelamatkan kita. Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan Anda.

Thursday, April 6, 2017

Memperoleh Kebangkitan seperti Teladan Yesus

Masa Prapaskah bagi umat katolik selalu diidentikkan sebagai masa pertobatan. Orang berbondong-bondong mengikuti devosi jalan salib untuk merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus, ada yang menghabiskan banyak waktu dan tenaganya untuk melakukan banyak pelayanan sebagai bentuk pertobatannya. Ada pula yang menyumbang banyak uang ke lembaga-lembaga sosial sebagai salah satu bentuk silihnya. Banyak juga orang katolik berpantang dan berpuasa atau melakukan berbagai macam cara untuk menunjukan bentuk pertobatannya. Tetapi sesungguhnya, adakah yang benar-benar mengalami pertobatan itu?

Ketika merenungkan ibadat jalan salib, ada kalanya otak manusia kita mungkin berpikir, bagaimana mungkin Yesus yang juga manusia itu rela mengorbankan nyawa demi orang lain yang tidak Dia kenal? Mari kita jujur pada diri sendiri, sebagai manusia ketika kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, bahkan nyawa taruhannya, apakah kita rela mengorbankan nyawa kita? Mungkin Anda berpikir bahwa, "ya itu kan Yesus, Dia kan Anak Allah, dan sebagai konsekuensinya ya Dia harus mau dong berkorban demi umat manusia, merelakan diri menjalani jalan salib". Ingat Yesus yang kita percayai itu SUNGGUH ALLAH SUNGGUH MANUSIA, yang artinya meskipun Dia Anak Allah tapi Dia juga sepenuhnya MANUSIA.

Mari sekarang saya ajak Anda mengubah pola pikir kita sebelumnya. Yesus tahu Dia adalah Anak Allah, Yesus sadar sepenuhnya bahwa Dia harus menjalani panggilanNya. Sekarang mari kita "bandingkan" diri kita seperti Yesus. "Saya sadar saya adalah seorang anak dari orang tua yang begitu menyayangi saya tapi apakah saya mau menjalani panggilan saya sebagai anak? Apa saya mau mengurus orang tua saya sampai mereka tua nanti? Ataukah saya malah berusaha menghindari panggilan saya sebagai anak dengan mengirim orang tua saya ke panti jompo karena saya tak tahan lagi mengurusi orang tua saya yang sakit-sakitan itu? Saya sudah cukup repot dengan mengurus keluarga saya sendiri, saya tak ada waktu mengurusi orang tua saya lagi maka dari itu saya terpaksa mengirimnya ke panti jompo." Begitukah kehidupan Anda saat ini?

Atau "Saya sadar sepenuhnya bahwa saya memilih untuk hidup berkeluarga. Saya adalah ayah dari seorang istri dan beberapa orang anak. Saya kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh untuk memberi nafkah dan menghidupi keluarga saya. Setiap hari dari pagi sampai sore saya menghabiskan waktu di tempat kerja. Ketika pulang ke rumah, saat saya sedang lelah istri saya malah sibuk dengan anak-anak saya yang rewel. Rumah berantakan, makan malam belum tersedia padahal saya ingin istirahat. Saya melampiaskan kemarahan saya pada istri saya yang tidak becus mengurus rumah tangga. Saya pergi keluar mencari hiburan untuk meringankan kepenatan dikantor dan dirumah. Hal yang wajar menurut saya." Apakah Anda termasuk dalam golongan tersebut? Menghindari tanggung jawab dan janji perkawinan yang telah Anda ucapkan?

Banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari kita yang sebetulnya dapat kita bandingkan dengan teladan Yesus. Dia yang sungguh Allah sungguh manusia itu, dapat saja menghindari tanggung jawabnya sebagaimana kita manusia biasa yang seringkali mencari alasan dan pembelaan diri untuk menghindari panggilan kita. Tapi apa yang Yesus lakukan? Dia hanya berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi (Luk 22:42)." Dia ingin menghindarinya, tapi Yesus memilih menjalaninya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau menjalani panggilan kita di dunia ini dengan sepenuh hati? Apakah kita mau melaksanakan panggilan kita dengan sungguh, tegar hati dan tidak setengah-setengah?

Yesus mengajarkan pada kita bahwa lewat jalan salibNya, lewat sengsara-Nya, Dia justru mendapat kebangkitan. Kematian Yesus di kayu salib ternyata adalah kematian yang menghidupkan lewat kebangkitan-Nya yang mulia. Dia rela mati agar kita hidup. Kita yang ingin memperoleh kebangkitan, tidak perlu ikut mengulangi jalan salib yang Yesus pernah jalani dulu, Allah memberikan warisan pada kita berupa Sakramen Tobat. Lewat Sakramen Tobat kita seolah-olah mati di salib dan kemudian dibersihkan dan dibangkitkan kembali setelah kita mendapat penitensi dari Pastor sebagai wakil Allah di dunia.

Mari kita bersama-sama mati dan bangkit kembali sebagai pribadi yang lebih baik seturut ajaran Yesus sendiri. Mari kita memilih jalan yang Tuhan ajarkan pada kita. Tidak ada gunanya menyangkal, bahkan menghindari panggilan kita di dunia. Bersama teladan jalan salib Yesus, mari kita berani melangkah, menjalaninya bersama Yesus, dan bukan menghindar atau melarikan diri. Bersama Tuhan kita pasti bisa bangkit kembali. Terimalah sakramen tobat sebagai langkah awal kita menuju kebangkitan kita. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Bunda Maria mendoakan kita semua. Selamat Paskah.