Sunday, July 8, 2018

Bukan untuk Dibaca

Saya penasaran, ketika Anda sampai pada halaman ini, kira-kira berapa banyak dari Anda yang membacanya ya? Kira-kira berapa persen dari penerima majalah Gratia yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca kolom “Berbagi” ini? Hampir setiap bulan saya menulis di kolom ini, kadang kala saya berpikir, memangnya ada yang membacanya? Mungkin tidak ada yang akan menyadarinya kalau saya berhenti menulis, atau bahkan apabila kolom “Berbagi” ini ditiadakan pun mungkin tidak ada yang protes. Sepertinya yang membaca tulisan saya ini hanya saya sebagai penulis dan bagian redaksi yang menyuntingnya, hanya 2 orang saja. Ya, kadang saya berpikir seperti itu, berpikir bahwa tulisan ini hanya sekedar untuk menambah-nambah halaman pada Gratia saja, bukan untuk dibaca.

Lalu untuk apa saya terus menulis? Entahlah, terkadang menulis membantu saya untuk berbicara dengan diri saya sendiri. Kadang dengan menulis saya jadi merasa dikuatkan seolah-olah ada orang yang mengatakannya pada saya. Bunda Teresa mengajarkan “Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik. Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu sebaik-baik yang dapat engkau lakukan. Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu, bukan urusan antara engkau dan mereka.” Mungkin pesan itulah yang menyemangati saya untuk terus menulis.

Bukan setiap saat saya bisa menulis, terkadang ada waktu-waktu dimana saya kelelahan dengan rutinitas saya sehingga kehabisan energi untuk menulis. Mungkin Anda juga sering mengalaminya. Bukan soal menulis saja, tapi dalam berbagai macam kegiatan pelayanan yang Anda lakukan. Banyak diantara kita adalah pekerja kantoran yang sehari-harinya menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, beberapa adalah pengusaha yang mengelola usahanya dari pagi hingga sore/malam. Sebagian dari kita memilih untuk menerima panggilan sebagai pelayan Tuhan, itu artinya kita akan mengorbankan lebih banyak lagi waktu kita, tenaga dan pikiran kita untuk melakukan pelayanan yang tanpa pamrih.

Pengorbanan-pengorbanan yang kita pilih dan kita lakukan seringkali membuat orang ragu untuk melakukan hal-hal baik. Kadangkala kita malahan takut melakukan hal baik justru karena harus mengorbankan banyak faktor dalam hidup kita, tenaga, waktu, materi, pikiran dan lain sebagainya. Kadangkala kita menjadi perhitungan dengan mempertimbangkan untung rugi dari apa yang kita lakukan.

Yesus mengajarkan pada kita hal yang seringkali bertentangan dengan kehendak dunia. Ketika Ia berkata, "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu" (Luk 22:20), Ia mengajarkan kita untuk mau berkorban bagi Allah kita. Yesus sendiri saja rela mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan kita, bagaimana mungkin kita membandingkan pengorbanan kita yang kecil ini dengan ajaran Yesus yang rela mengorbankan nyawa? Bagaimana mungkin kita memperhitungkan hal-hal kecil demi tujuan pelayanan pada Tuhan?

Saudaraku yang terkasih, apabila saat ini Anda sedang membaca tulisan ini sampai akhir dan merasakan bahwa ada panggilan kuat dalam diri Anda untuk melayani Tuhan, jangan abaikan. Jawablah dengan tegas, "Ini aku, Tuhan. Utuslah aku." Jangan takut sebab Ia akan menyertai Anda sampai akhir zaman (Mat 28:20). Tetaplah berbuat baik, tetaplah setia dan rendah hati. Tetaplah melayani, karena pada akhirnya, ini adalah urusan Anda dengan Tuhan. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Bunda Maria mendoakan.

Sunday, May 6, 2018

Maria Sumber Inspirasi dan Teladan Hidup Kita

Ada salah satu kisah yang saya baca dari sebuah buku yang berjudul, "Tuhan Tak Pernah Tidur", karangan Regina Brett. Kisah tentang sebuah keluarga yang dikaruniai seorang anak yang mengalami Down Syndrome. Keluarga tersebut sudah mempunyai lima anak ketika anak terakhir mereka dilahirkan. Tetapi kedua orangtuanya mencintai anak bungsunya itu sama seperti kelima anak lainnya. Ketika akhirnya sang ibu meninggal karena terkena kanker payudara, sang ayah membesarkan keenam anaknya seorang diri. Sang ayah menjadikan putra bungsunya pusat dari semesta. Potongan yang retak itu ternyata membuat mereka utuh.

Sang ayah tak pernah mengeluh menjadi orang tua tunggal dari enam anak. Berpuluh-puluh tahun berlalu. Setiap anak berperan sebagai ibu, kemudian pergi melanjutkan kuliah, dan mewariskan peran ibu kepada adiknya. Ketika sang ayah berusia 80 tahun, semua kakaknya menginginkan si bungsu untuk pindah ke rumah mereka. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Sehari sebelum kakak wanita si bungsu menikah, setelah acara makan malam bersama, si bungsu pingsan karena emboli paru-paru. Tak seorang pun dapat menghidupkannya kembali. Seusai misa pemakaman, pastor meminta keluarga untuk merenungkan bagaimana kita menggunakan karunia-karunia kita. Si bungsu datang bersama karunianya secara alami, karunia itu datang bersama ekstra kromosom. Dalam kalimat perpisahannya, sang ayah berkata, "Orang-orang selalu mengatakan bahwa kami adalah karunia besar bagi anak bungsu ini. Justru sebaliknya, dia adalah karunia besar bagi kami."

Saudaraku yang terkasih, ketika Tuhan mengijinkan terjadinya pencobaan dalam hidup kita, kita boleh percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberi lebih dari apa yang bisa kita pikul. Beberapa dirancang untuk memikul lebih banyak, beberapa lainnya lebih sedikit. Terlepas dari apapun, bahkan jika kita diminta memikul sebagian dari langit, itu lebih dari yang bisa kita tanggung. Itu adalah karunia.

Sama seperti teladan Bunda Maria yang kita devosikan selama bulan Mei ini. Ketika Bunda Maria berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Lalu malaikat itu meninggalkan dia" (Luk 1:38), itu artinya Bunda Maria mau mengajarkan pada kita tentang kepasrahan penuh iman, bahwa kita akan dapat menanggung segala beban penderitaan, maupun tanggung jawab besar dalam segala bidang kehidupan kita.

Teladan Maria bukanlah teladan yang sia-sia. Ketika kita menyerahkan segala persoalan kita di hadapan Tuhan, seringkali jawaban atas persoalan kita terjawab seutuhnya. Pasrah dan berserah penuh iman, berbeda dengan pasrah tanpa usaha. Pasrah yang menjadi alasan kita bermalas-malasan atau mencari pembenaran diri. Ketika kita tetap memegang teguh iman dan kepercayaan kita pada Allah, kita percaya bahwa Allah akan membimbing kita ke jalan yang benar, ke jalan yang seturut dengan kehendak-Nya.

Bagaimana caranya agar kita bisa memperoleh jawaban dari Tuhan atas persoalan kita? Dengan memiliki hidup yang dekat dengan Allah. Sama seperti Bunda Maria yang memiliki hubungan akrab dengan Allah, sehingga Allah berkenan dan mempercayakan anak-Nya yang tunggal kepada Maria. Hubungan dekat antara Allah Bapa dan Maria sungguh tercermin dari perkataan Maria yang menerima seutuhnya perintah dari Allah. Maria tidak memberontak, Maria tidak menolak dan protes, bahkan Maria tidak berlari menjauhi Allah, dia ikhlas hati menuruti kehendak Bapa.

Saudaraku terkasih, mari kita belajar dari Bunda Maria, dengan segala kerendahan hatinya, bersedia menanggung segala perintah Allah, meskipun harus menderita karenanya. Bunda Maria percaya penuh pada ketetapan Allah. Kata-kata Maria hendaknya meneladan kita untuk memiliki hubungan akrab dengan Tuhan. Mari kita membuka hati kita untuk memberikan tempat paling istimewa dalam hati kita bagi kediaman Allah. Selamat menyambut bulan Maria, bulan penuh berkat terutama bagi mereka yang berdevosi kepada Bunda Maria. Semoga Tuhan memberkati Anda sekalian dan Bunda Maria mendoakan kita semua.   

Saturday, April 7, 2018

Go Green..Go Green..Go Green..

Go green..go green.. kata-kata tersebut belakangan ini semakin menggema dan populer di dalam keseharian kita. Semua bidang dalam kehidupan kita selalu disangkutpautkan dengan Go Green. Ajakan untuk menjaga kelestarian lingkungan kita. Mengapa ajakan menjaga ini semakin lama semakin populer dan semakin sering disinggung-singgung? Karena bumi yang kita tempati sekarang ini telah menjadi semakin tua.

Saya adalah seorang perantau, bukan lahir dan menjalani masa kanak-kanak di Bandung. Saya ingat dengan jelas, sewaktu saya masih kecil, saya suka sekali diajak berlibur ke Bandung. Saya suka melintasi jalur perkebunan teh yang terhampar disepanjang sisi jalan, dengan udaranya yang segar, sejuk, wangi aroma dedaunan. Belum lagi ditambah dengan kabutnya yang masih sangat banyak menutupi jalan yang kami lalui. Saya langsung jatuh cinta pada suasana sejuknya kota Bandung.

Setelah saya menetap semakin lama di Bandung, suasana kabut dipagi hari sering kali tidak dapat saya lihat lagi. Udara yang tadinya dingin dan sejuk pun semakin berkurang, apalagi ketika siang hari. Panas matahari begitu menyengat dan panas. Kalau kata orang Sunda, itu namanya "hareudang". Semakin banyak mobil dan motor membuat udara yang tadinya segar menjadi penuh polusi dan kotor. Dan yang paling membuat saya sedih adalah masalah sampah!

Saya adalah pengguna setia angkutan kota di Bandung. Saya sering berada dalam angkot dengan berbagai macam tipe penumpang dari berbagai macam latar belakang dan usia. Saya sedih ketika saya melihat ada penumpang yang masih pelajar, membawa makanan kedalam angkot dan membuang sampah bekas makanannya di dalam angkot! Dan yang paling parahnya adalah seorang ibu yang menyuruh anaknya yang sedang makan untuk membuang sampah bekas makanannya itu di dalam angkot, dibawah kursi penumpang! Rasanya ingin marah, kesal, dan tak habis pikir. Angkot adalah fasilitas umum yang digunakan oleh banyak orang. Para penumpang pengguna angkot tentunya ingin merasakan kenyamanan di angkot yang ditumpanginya. Tapi bagaimana bisa nyaman kalau di dalam angkot betebaran sampah-sampah sisa makanan?

Seingat saya, sewaktu saya masih duduk di bangku SD, para guru mengajarkan tentang cara membuang sampah yang baik, ya harus ke tempat sampah. Dulu juga, ketika saya membuang sampah sembarangan, orang tua saya langsung menepak tangan saya dan menyuruh saya untuk memungut kembali sampah yang saya buang agar dibuang ke tempat sampah. Bagaimana mungkin ada anak yang bisa sembarangan begitu membuang sampah sekarang ini? Apa tidak diajarkan di sekolah ya sekarang dimana kita seharusnya membuang sampah? Apa para orang tua sekarang juga tidak bisa memberikan contoh cara membuang sampah yang benar? Heran saya #tibatibaemosi. Hahaha.

Ketika bumi diciptakan, "Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik (Kej 1:11-12). Ya, Allah telah menciptakan bumi dan segala isinya ini dengan sangat baik, "TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya (Mazmur 24:1).

Ketika Allah menciptakan bumi dengan sangat baik, apa hak kita mengotorinya? Apa boleh kita dengan seenaknya merusak bumi tempat tinggal kita ini, padahal Sang Empunya bumi adalah Allah? Sadarkah kita bahwa kita telah menodai dan mengotori ciptaan Tuhan yang telah dirancang begitu sempurna? Kita hanyalah manusia yang diijinkan singgah sebentar di bumi ini, apa pantas kalau kita merusak tempat tinggal yang Allah ciptakan? Apa boleh kita berlaku seenaknya dengan mengotori bumi ini? Jika sebentar saja, kita diberi waktu untuk merenung, siapakah kita ini dimata Tuhan dan betapa kecilnya kita bagi Allah?

Saudaraku yang terkasih, mari kita sekalian berkomitmen mulai hari ini, untuk lebih peduli dan sayang pada sesama ciptaan Tuhan, pada alam kita, pada lingkungan tempat kita tinggal, pada sekitar kita. Saat kita sebagai sesama ciptaan Tuhan saling menjaga, maka Allah akan tersenyum bahagia. Mari sedikit saja kita berusaha untuk membalas kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Mari kita buat Allah tersenyum. Mari menjaga lingkungan kita. Semoga Tuhan memberkati Anda sekalian dan Bunda Maria mendoakan kita.   

Sunday, February 4, 2018

Rahmat Allah sebagai Sumber Kekuatan Kita

Memasuki bulan Februari tentunya juga mengingatkan kita bahwa kita juga memasuki masa pra Paskah. Masa pra Paskah yang identik dengan pertobatan selalu ingin mengajarkan pada kita untuk dapat merefleksikan kembali kehidupan kita. Masa pra Paskah selalu mengajarkan kita juga untuk dapat melihat sejauh mana pertobatan kita tahun sebelumnya telah membawa kita pada hidup yang lebih baik di tahun berikutnya.

Sampai hari ini masa pra Paskah selalu diidentikkan dengan pertobatan sejati. Pertobatan sejati yang mungkin kita sendiri belum yakin apa makna sesungguhnya dari arti kata itu. Pertobatan yang sejati selalu mengajarkan kita, selalu menuntut kita melakukan hal-hal yang luar biasa. Ketika kita jatuh dalam dosa kita harus mampu bangkit kembali dan melawan dosa kita itulah makna sesungguhnya dari pertobatan yang sejati. Ketika pertobatan itu membuat hidup kita menjadi lebih baik, dapat menjadi berkat bagi sesama, dapat memberikan yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan, dan yang terutama dapat memberikan Sukacita baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dan Tuhan sendiri maka pertobatan itulah yang hendaknya kita capai.

Dalam setiap pergumulan hidup, kerap kali kita dihadapkan pada situasi yang mungkin mengharuskan kita untuk bertindak tegas. Kadang ketegasan diterima orang lain sebagai suatu bentuk penindasan, ketegasan belum tentu mampu diterima dengan rendah hati oleh beberapa orang. Ketika kita mampu menerapkan ketegasan dengan bentuk kasih, untuk mewujudkan pertobatan kita menjadi manusia yang lebih baik itu artinya kita telah berhasil membawa damai juga pada sesama.

Mungkin beberapa dari Anda bertanya, bagaimana mungkin kita bertindak tegas namun dengan kasih? Mungkinkah kita menerapkan ketegasan dengan kasih? Ketika kita mengandalkan kekuatan manusia untuk menjadi tegas maka orang lain akan menganggap ketegasan kita sebagai bentuk penindasan. Ketika kita menerapkan ketegasan kita dengan mengikuti ajaran Tuhan Yesus Kristus, maka bukannya tidak mungkin kita akan mampu mengajarkan ketegasan namun dengan penuh kasih. Itulah yang disebut rahmat Allah.

Rahmat Allah selalu memampukan kita untuk bertindak lebih bijaksana. Rahmat Allah memungkinkan kita untuk melakukan hal yang kadang terdengar mustahil, misalnya memaafkan musuh kita, membantu sesama ketika kita sendiri sedang dalam kesulitan, mendengarkan dan menasihati sesama disaat kita sendiri sedang berbeban berat. Rahmat Allah selalu mampu memberikan kita kemampuan untuk dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Rahmat Allah selalu membimbing kita pada jalan yang membawa kita menjadi manusia yang lebih baik, seturut kehendak Bapa.

Marilah Saudaraku terkasih, kita berdoa memohon rahmat Allah dalam menyongsong masa pertobatan kita tahun ini, masa pra Paskah kita masing-masing, masa yang penuh berkat apabila kita sungguh-sungguh mau bertobat. Segala yang Tuhan ajarkan dalam Kitab Suci tentang pertobatan hendaknya kita terapkan sedikit demi sedikit dalam kehidupan kita, karena kita belum tentu mampu melaksanakan setiap ajaran itu semua dan sekaligus. Semoga Tuhan membimbing kita untuk memperoleh rahmat Allah dan semoga Tuhan memberkati segala niat baik kita juga, untuk melakukan pertobatan dalam masa pra Paskah ini dengan penuh kasih, sehingga kita melakukan pertobatan kita dengan penuh Sukacita. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.    

Sunday, January 14, 2018

Selalu Mengandalkan Tuhan dalam Setiap Rencana

Setiap tahun, ketika kita merayakan tahun yang baru kita selalu bertanya, atau ditanya mengenai harapan kita di tahun yang akan datang. Setiap kali kita ditanya harapan pastilah kita akan memberikan jawaban mengenai hal-hal baik yang kita harapkan akan kita terima. Hal yang mungkin adalah keinginan terpendam kita, mimpi-mimpi kita, cita-cita dan segala hal yang ingin kita raih, yang ingin kita dapatkan. Segala harapan itu menjadi semacam tolak ukur kebahagiaan kita.

Perubahan yang kita hadapi setiap tahun, bahkan setiap hari sering membuat kita berpikir bahwa kita akan selangkah lagi mencapai cita-cita atau harapan kita. Seringkali kita mengukur seberapa dekat langkah kita menuju harapan kita. Seringkali kita berasumsi sendiri tentang seberapa banyak usaha yang kita jalani sehingga kita merasa berhak atas hasil dari jerih payah kita.

Harapan dan usaha kita seringkali membutakan kita. Kadang kala kita lupa akan Tuhan dalam menjalani kehidupan kita. Kita sibuk sendiri dengan segala usaha dan cita-cita kita tanpa mempedulikan Tuhan. Kita lupa melibatkan Dia dalam usaha kita sehingga ketika kita mengalami sedikit kegagalan, kita menjadi sangat kecewa. Kita menjadi emosional dan menarik diri. Bahkan banyak yang kemudian malahan meninggalkan Tuhan karena merasa dikecewakan.

Saudaraku terkasih, pernahkah Anda merasakan seperti itu? Anda merasa kecewa ketika segala usaha Anda ternyata sia-sia. Anda merasa telah melakukan segala hal yang terbaik yang bisa Anda lakukan tetapi hasil yang Anda terima ternyata tidak sesuai dengan harapan Anda. Ketika kekecewaan itu rasanya begitu berat Anda lalu memutuskan bahwa Tuhan lah yang bersalah atas kegagalan anda, bahwa Tuhan lah yang menjadi penyebab semua kesulitan dan semua kekecewaan Anda. Anda menjadi pemarah, Anda menjadi pendendam, Anda menjadi penggerutu, penuh keluh kesah dan tidak lagi mampu melihat sukacita, tidak lagi mampu melihat harapan, tidak lagi mampu melihat hal-hal baik yang dapat Anda syukuri.

Harapan selalu baik apabila kita peruntukan baik, harapan selalu ada apabila kita terus berpegang pada janji Tuhan. Harapan akan menjadi sia-sia ketika kita melupakan campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Segala usaha kita untuk mencapai harapan kita itu akan menjadi hampa tanpa kehadiran Tuhan. Apabila saat ini Anda dalam suasana hati yang penuh kekecewaan merasa gagal dan merasa ditinggalkan mungkin ini saatnya bagi Anda untuk menilai dalam diri Anda, untuk bertanya dalam hati apakah Anda telah melibatkan Tuhan dalam segala usaha Anda? Apakah Anda sungguh-sungguh berharap hal-hal baik sehingga Tuhan merestui harapan Anda itu? Apakah menurut Anda kegagalan dan kekecewaan yang Anda alami murni kesalahan Tuhan ataukah hanya egoisme Anda sendiri yang menghalangi Anda untuk melihat bahwa sesungguhnya ini adalah pelajaran yang ingin Tuhan ajarkan pada Anda dalam menghadapi kehidupan ini.

Satu hal lagi yang mungkin menjadi penyebab kekecewaan Anda adalah harapan yang terlalu tinggi yang Anda inginkan. "Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia” (Amsal 20:28). Pernahkah Anda mengkaji ulang mengenai harapan-harapan Anda? Mengenai cita-cita Anda? Apakah tujuan yang ingin Anda capai ketika harapan dan cita-cita Anda menjadi kenyataan? Janganlah membuat harapan yang sia-sia seperti harapan orang fasik. Biarlah harapan Anda menjadi harapan yang seturut kehendak Tuhan. Oleh karena itu hendaklah di tahun yang baru ini, kita memulai awal tahun baru ini dengan membuat harapan-harapan dalam doa kita yang disertai dengan restu dari Tuhan saja sehingga harapan baik yang kita awali dengan doa dapat akhirnya terwujud sesuai dengan kehendak Tuhan bukan sesuai dengan kehendak kita saja.

Marilah saudaraku terkasih, kita awali tahun yang baru ini, tahun 2018 menjadi tahun yang penuh rahmat, yang penuh harapan baik, yang menjadikan kita lebih mampu mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana dan langkah yang akan kita ambil ke depan. Biarlah tangan Tuhan yang berkarya atas hidup kita, atas harapan kita, atas cita-cita kita, atas pelayanan kita dan penyerahan diri kita seutuhnya kepada Tuhan. Marilah kita belajar untuk tidak memberikan harapan yang terlalu tinggi, untuk tidak berharap terlalu banyak sehingga kita tidak perlu mengalami kekecewaan yang berat dan sepenuhnya bisa mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana dalam setiap usaha, dalam setiap kerja keras kita. Semoga Tuhan memberkati kita semua di tahun yang baru dan Bunda Maria mendoakan kita.

Sunday, December 10, 2017

Hendaklah Kita Menjadi Pelaku Kebaikan sesuai Semangat Natal

Natal lagi, senangnyaaa.... Natal selalu membawa suasana jadi lebih menyenangkan, alunan lagu-lagu Natal, pohon-pohon natal yang berkelap kelip, hiasan natal yang beraneka macam, semuanya menjadikan suasana menjadi lebih ceria dan menyenangkan. Suasana kegembiraan Natal itu seperti seseorang yang menantikan suasana pesta yang meriah dan penuh sukacita.

Ketika kita sedang menikmati suasana natal, kadangkala ada situasi diluar kendali kita yang kemudian membuat suasana gembira itu menjadi hilang, mungkin saja kita tiba-tiba terkena musibah, atau mungkin sakit, atau tergelincir masalah. Semuanya itu membuat kita jadi tidak lagi bersemangat menantikan Natal.

Sesungguhnya Yesus pernah memperingatkan kita agar kita tidak seperti orang-orang Farisi, "Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (Mat 23:4)". Ketika kita menyambut kedatangan Kristus, kita sebenarnya juga diingatkan bahwa, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mt 16:24)." Jadi, apapun keadaan kita, apapun situasi yang mungkin sedang membelenggu kita saat ini, hendaknya dengan suasana Natal menjadikan segala pergulatan kita itu menjadi berkat tersendiri bagi kita. Sama seperti ketika Kristus hadir ditengah kita. Dia yang hadir dalam suasana malam pekat disimpan dalam palungan. Beban yang harus ditanggung oleh Bunda Maria dan St. Yosef sebagai orang tua ketika terpaksa harus membiarkan anaknya lahir dalam kandang tidak kemudian menjadikan Maria dan Yosef bersedih dan kehilangan sukacita itu. Mereka sadar akan konsekuensi dari pilihan mereka ketika mereka memutuskan untuk menjadi abdi Allah, menjadi pengikut Kristus yang setia dan taat.

Teladan Bunda Maria dan St. Yosef yang penuh iman itu pada akhirnya membawa terang bagi dunia, bayi yang terbungkus kain lampin dan dibaringkan dalam palungan itulah yang kemudian menjadi terang dan penyelamat dunia. Jika Allah mengijinkan kita kembali merayakan Natal itu artinya Allah memberi kita kesempatan lagi untuk merasakan sukacita Natal itu lagi, Allah mengingatkan kita kembali bahwa dibalik setiap kesulitan kita, dibalik semua kesedihan dan beban berat yang sedang kita tanggung, pasti ada sukacita pada akhirnya.
Selain itu Allah juga mengingatkan pada kita bahwa meskipun kita dalam keadaan yang sedang berbeban, tidak seharusnya hal tersebut menjadi penghalang kita untuk membagikan sukacita Natal. Kita dapat tetap berbagi sukacita meskipun sedang bersedih, kita dapat membagikan kebaikan meskipun hidup sedang terasa berat. Seperti dalam salah satu kotbah Romo Heru, SCJ yang saya ingat adalah, "Jangan puas menjadi penikmat kebaikan yang dibuat orang lain. Marilah kita menjadi salah satu pemainnya." Ya, dengan berbagi sukacita, dengan berbagi kebaikan, dengan berbagi senyum, kita telah menjadi pelaku kebaikan juga seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria dan St. Yosef yang tetap berbagi sukacita meski dalam keadaan paling sederhana sekalipun.

Saudaraku yang terkasih, selamat mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus. Mari kita menularkan sukacita dan kegembiraan Natal kepada sesama kita. Allah adalah setia, janji-Nya adalah "YA" dan "AMIN", tetaplah teguh dalam iman kita akan penyelamat dan terang dunia, Yesus Kristus. Karena dalam Dialah kita merasa tenang, dalam Dialah segala perkara dapat kita tanggung, tetaplah berpengharapan seperti Bintang Timur yang memberikan petunjuk dan harapan baru bagi mereka yang mencarinya. Di penghujung tahun 2017 inipun ijinkan saya mengucapkan harapan saya juga. Semoga setiap tulisan yang pernah saya buat dapat membantu kita bersama dalam penghayatan iman. Semoga Anda memaafkan apabila mungkin ada tulisan-tulisan saya yang sekiranya kurang berkenan. Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Semoga Tuhan memberkati Anda sekalian dan Bunda Maria mendoakan kita semua. 

Monday, November 13, 2017

Mari Mengisi Masa Adven denga Pertobatan

Mendengar kata "adven" selalu memberikan kesan yang berbeda bagi saya pribadi, karena setiap kali mendengarnya, adven rasanya memberikan sukacita tersendiri yang membuatnya selalu terkenang. Dalam masa-masa penantian ini seringkali menimbulkan kenangan lama yang terus terkenang, kadang disertai juga dengan harapan baru dalam menyongsong Natal, menyongsong kehadiran Yesus Kristus.

Adalah seorang anak yang meminta ijin kepada ibunya untuk pergi merantau demi mengejar cita-cita dan ambisinya untuk sukses. Meskipun berat, ibu ini akhirnya mengijinkan anaknya untuk pergi dengan harapan anaknya suatu saat akan kembali lagi padanya. Hari demi hari, bulan demi bulan hingga kemudian berganti tahun, sang anak yang pada awalnya masih rajin berkirim kabar semakin lama seolah telah melupakannya, tak ada lagi surat, tak ada telpon, tak ada kabar sampai beberapa tahun kemudian. Sang ibu dengan setia mendoakan anaknya agar selamat dan suatu saat kembali untuk sekedar menengoknya. Namun harapan itu semakin dipendamnya karena anaknya ini seolah menjauh darinya. Dengan penuh pengharapan ibu ini tetap berdoa dan menunggu.

Suatu ketika sang ibu kedatangan beberapa orang anggota polisi yang berseragam lengkap dan menanyakan apakah ibu tersebut mengenal seseorang dalam foto yang mereka bawa dan menyebutkan nama anaknya. Ternyata polisi tersebut menemukan anak sang ibu dalam kondisi yang mengenaskan. Dia menjadi korban kekerasan dan akibatnya anaknya lumpuh dan tak dapat bergerak lagi. Meskipun dalam kondisi fisik yang sangat menyedihkan sang ibu tetap dengan sukacita menyambut kedatangan anaknya kembali dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Saudaraku yang terkasih, dalam hidup mungkin kita pernah tersesat seperti anak tersebut. Demi mengejar cita-cita dan ambisi pribadinya, kita lupa akan orang-orang yang kita kasihi. Kita tak lagi menyediakan waktu kita untuk mereka, kita sibuk sendiri dengan pekerjaan dan usaha kita, kita menganggap bahwa orang tua kita, suami/istri kita, bahkan anak-anak kita sudah cukup dewasa untuk dapat menghargai ambisi pribadi yang ingin kita capai, yang ingin kita raih, kita sering mengabaikan mereka bahkan tidak sabar pada mereka padahal sesungguhnya keluarga kita adalah tempat dimana kita dapat selalu merasa nyaman. Keluarga adalah orang-orang yang selalu mendoakan kita dan selalu memeluk kita dengan erat kala kita berada dalam kondisi terburuk kita. Keluarga selalu memberikan kita tempat apabila kita ingin pulang dan menerima kita apa adanya.

Kadang dalam hidup, kita mungkin juga bertindak seperti sang ibu, yang hanya dapat berdoa, dan berharap bahwa suami/istri kita, atau anak-anak kita bertobat dari jalan yang salah. Kita merasa pengorbanan kita sia-sia, doa kita tak didengar karena telah bertahun-tahun tetap tidak ada perubahan, mungkin kita pun merasa harapan kita telah hilang karena sepertinya tidak ada titik terang dari masalah kita. Namun sesungguhnya, kita diajarkan untuk dapat belajar bahwa harapan itu selalu ada dan terbuka bagi siapapun yang setia dan bertekun.

Hanya diri kita saja yang dapat menilai menjadi siapakah kita sekarang ini? Menjadi sang anak yang terlalu sibuk, ataukah sang ibu yang setia dan bertekun? Apabila saat ini kita merasa menjadi sang anak, maka masa adven adalah masa yang paling tepat apabila kita isi dengan pertobatan dan mau memperbaiki diri kita sendiri. Apabila saat ini kita sedang berada dalam posisi sang ibu, percayalah bahwa harapan selalu ada, bahwa waktu Tuhan tidak pernah terlambat. Mari kita isi masa adven ini dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan sehingga pada akhirnya kita akan mendapatkan sukacita yang penuh sebagaimana yang Tuhan janjikan. "Kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mar 1:15).

Mari kita menyongsong Natal dengan mengisinya dengan pertobatan, beramal kasih dan tetap berpengharapan pada Tuhan Yesus Kristus karena Dia menjanjikan sukacita pada setiap orang yang didapati-Nya setia dan bertekun. Selamat menjalani masa adven dan menyongsong Natal yang penuh sukacita. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.