Sunday, February 4, 2018

Rahmat Allah sebagai Sumber Kekuatan Kita

Memasuki bulan Februari tentunya juga mengingatkan kita bahwa kita juga memasuki masa pra Paskah. Masa pra Paskah yang identik dengan pertobatan selalu ingin mengajarkan pada kita untuk dapat merefleksikan kembali kehidupan kita. Masa pra Paskah selalu mengajarkan kita juga untuk dapat melihat sejauh mana pertobatan kita tahun sebelumnya telah membawa kita pada hidup yang lebih baik di tahun berikutnya.

Sampai hari ini masa pra Paskah selalu diidentikkan dengan pertobatan sejati. Pertobatan sejati yang mungkin kita sendiri belum yakin apa makna sesungguhnya dari arti kata itu. Pertobatan yang sejati selalu mengajarkan kita, selalu menuntut kita melakukan hal-hal yang luar biasa. Ketika kita jatuh dalam dosa kita harus mampu bangkit kembali dan melawan dosa kita itulah makna sesungguhnya dari pertobatan yang sejati. Ketika pertobatan itu membuat hidup kita menjadi lebih baik, dapat menjadi berkat bagi sesama, dapat memberikan yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan, dan yang terutama dapat memberikan Sukacita baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dan Tuhan sendiri maka pertobatan itulah yang hendaknya kita capai.

Dalam setiap pergumulan hidup, kerap kali kita dihadapkan pada situasi yang mungkin mengharuskan kita untuk bertindak tegas. Kadang ketegasan diterima orang lain sebagai suatu bentuk penindasan, ketegasan belum tentu mampu diterima dengan rendah hati oleh beberapa orang. Ketika kita mampu menerapkan ketegasan dengan bentuk kasih, untuk mewujudkan pertobatan kita menjadi manusia yang lebih baik itu artinya kita telah berhasil membawa damai juga pada sesama.

Mungkin beberapa dari Anda bertanya, bagaimana mungkin kita bertindak tegas namun dengan kasih? Mungkinkah kita menerapkan ketegasan dengan kasih? Ketika kita mengandalkan kekuatan manusia untuk menjadi tegas maka orang lain akan menganggap ketegasan kita sebagai bentuk penindasan. Ketika kita menerapkan ketegasan kita dengan mengikuti ajaran Tuhan Yesus Kristus, maka bukannya tidak mungkin kita akan mampu mengajarkan ketegasan namun dengan penuh kasih. Itulah yang disebut rahmat Allah.

Rahmat Allah selalu memampukan kita untuk bertindak lebih bijaksana. Rahmat Allah memungkinkan kita untuk melakukan hal yang kadang terdengar mustahil, misalnya memaafkan musuh kita, membantu sesama ketika kita sendiri sedang dalam kesulitan, mendengarkan dan menasihati sesama disaat kita sendiri sedang berbeban berat. Rahmat Allah selalu mampu memberikan kita kemampuan untuk dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Rahmat Allah selalu membimbing kita pada jalan yang membawa kita menjadi manusia yang lebih baik, seturut kehendak Bapa.

Marilah Saudaraku terkasih, kita berdoa memohon rahmat Allah dalam menyongsong masa pertobatan kita tahun ini, masa pra Paskah kita masing-masing, masa yang penuh berkat apabila kita sungguh-sungguh mau bertobat. Segala yang Tuhan ajarkan dalam Kitab Suci tentang pertobatan hendaknya kita terapkan sedikit demi sedikit dalam kehidupan kita, karena kita belum tentu mampu melaksanakan setiap ajaran itu semua dan sekaligus. Semoga Tuhan membimbing kita untuk memperoleh rahmat Allah dan semoga Tuhan memberkati segala niat baik kita juga, untuk melakukan pertobatan dalam masa pra Paskah ini dengan penuh kasih, sehingga kita melakukan pertobatan kita dengan penuh Sukacita. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.    

Sunday, January 14, 2018

Selalu Mengandalkan Tuhan dalam Setiap Rencana

Setiap tahun, ketika kita merayakan tahun yang baru kita selalu bertanya, atau ditanya mengenai harapan kita di tahun yang akan datang. Setiap kali kita ditanya harapan pastilah kita akan memberikan jawaban mengenai hal-hal baik yang kita harapkan akan kita terima. Hal yang mungkin adalah keinginan terpendam kita, mimpi-mimpi kita, cita-cita dan segala hal yang ingin kita raih, yang ingin kita dapatkan. Segala harapan itu menjadi semacam tolak ukur kebahagiaan kita.

Perubahan yang kita hadapi setiap tahun, bahkan setiap hari sering membuat kita berpikir bahwa kita akan selangkah lagi mencapai cita-cita atau harapan kita. Seringkali kita mengukur seberapa dekat langkah kita menuju harapan kita. Seringkali kita berasumsi sendiri tentang seberapa banyak usaha yang kita jalani sehingga kita merasa berhak atas hasil dari jerih payah kita.

Harapan dan usaha kita seringkali membutakan kita. Kadang kala kita lupa akan Tuhan dalam menjalani kehidupan kita. Kita sibuk sendiri dengan segala usaha dan cita-cita kita tanpa mempedulikan Tuhan. Kita lupa melibatkan Dia dalam usaha kita sehingga ketika kita mengalami sedikit kegagalan, kita menjadi sangat kecewa. Kita menjadi emosional dan menarik diri. Bahkan banyak yang kemudian malahan meninggalkan Tuhan karena merasa dikecewakan.

Saudaraku terkasih, pernahkah Anda merasakan seperti itu? Anda merasa kecewa ketika segala usaha Anda ternyata sia-sia. Anda merasa telah melakukan segala hal yang terbaik yang bisa Anda lakukan tetapi hasil yang Anda terima ternyata tidak sesuai dengan harapan Anda. Ketika kekecewaan itu rasanya begitu berat Anda lalu memutuskan bahwa Tuhan lah yang bersalah atas kegagalan anda, bahwa Tuhan lah yang menjadi penyebab semua kesulitan dan semua kekecewaan Anda. Anda menjadi pemarah, Anda menjadi pendendam, Anda menjadi penggerutu, penuh keluh kesah dan tidak lagi mampu melihat sukacita, tidak lagi mampu melihat harapan, tidak lagi mampu melihat hal-hal baik yang dapat Anda syukuri.

Harapan selalu baik apabila kita peruntukan baik, harapan selalu ada apabila kita terus berpegang pada janji Tuhan. Harapan akan menjadi sia-sia ketika kita melupakan campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Segala usaha kita untuk mencapai harapan kita itu akan menjadi hampa tanpa kehadiran Tuhan. Apabila saat ini Anda dalam suasana hati yang penuh kekecewaan merasa gagal dan merasa ditinggalkan mungkin ini saatnya bagi Anda untuk menilai dalam diri Anda, untuk bertanya dalam hati apakah Anda telah melibatkan Tuhan dalam segala usaha Anda? Apakah Anda sungguh-sungguh berharap hal-hal baik sehingga Tuhan merestui harapan Anda itu? Apakah menurut Anda kegagalan dan kekecewaan yang Anda alami murni kesalahan Tuhan ataukah hanya egoisme Anda sendiri yang menghalangi Anda untuk melihat bahwa sesungguhnya ini adalah pelajaran yang ingin Tuhan ajarkan pada Anda dalam menghadapi kehidupan ini.

Satu hal lagi yang mungkin menjadi penyebab kekecewaan Anda adalah harapan yang terlalu tinggi yang Anda inginkan. "Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia” (Amsal 20:28). Pernahkah Anda mengkaji ulang mengenai harapan-harapan Anda? Mengenai cita-cita Anda? Apakah tujuan yang ingin Anda capai ketika harapan dan cita-cita Anda menjadi kenyataan? Janganlah membuat harapan yang sia-sia seperti harapan orang fasik. Biarlah harapan Anda menjadi harapan yang seturut kehendak Tuhan. Oleh karena itu hendaklah di tahun yang baru ini, kita memulai awal tahun baru ini dengan membuat harapan-harapan dalam doa kita yang disertai dengan restu dari Tuhan saja sehingga harapan baik yang kita awali dengan doa dapat akhirnya terwujud sesuai dengan kehendak Tuhan bukan sesuai dengan kehendak kita saja.

Marilah saudaraku terkasih, kita awali tahun yang baru ini, tahun 2018 menjadi tahun yang penuh rahmat, yang penuh harapan baik, yang menjadikan kita lebih mampu mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana dan langkah yang akan kita ambil ke depan. Biarlah tangan Tuhan yang berkarya atas hidup kita, atas harapan kita, atas cita-cita kita, atas pelayanan kita dan penyerahan diri kita seutuhnya kepada Tuhan. Marilah kita belajar untuk tidak memberikan harapan yang terlalu tinggi, untuk tidak berharap terlalu banyak sehingga kita tidak perlu mengalami kekecewaan yang berat dan sepenuhnya bisa mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana dalam setiap usaha, dalam setiap kerja keras kita. Semoga Tuhan memberkati kita semua di tahun yang baru dan Bunda Maria mendoakan kita.

Sunday, December 10, 2017

Hendaklah Kita Menjadi Pelaku Kebaikan sesuai Semangat Natal

Natal lagi, senangnyaaa.... Natal selalu membawa suasana jadi lebih menyenangkan, alunan lagu-lagu Natal, pohon-pohon natal yang berkelap kelip, hiasan natal yang beraneka macam, semuanya menjadikan suasana menjadi lebih ceria dan menyenangkan. Suasana kegembiraan Natal itu seperti seseorang yang menantikan suasana pesta yang meriah dan penuh sukacita.

Ketika kita sedang menikmati suasana natal, kadangkala ada situasi diluar kendali kita yang kemudian membuat suasana gembira itu menjadi hilang, mungkin saja kita tiba-tiba terkena musibah, atau mungkin sakit, atau tergelincir masalah. Semuanya itu membuat kita jadi tidak lagi bersemangat menantikan Natal.

Sesungguhnya Yesus pernah memperingatkan kita agar kita tidak seperti orang-orang Farisi, "Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (Mat 23:4)". Ketika kita menyambut kedatangan Kristus, kita sebenarnya juga diingatkan bahwa, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mt 16:24)." Jadi, apapun keadaan kita, apapun situasi yang mungkin sedang membelenggu kita saat ini, hendaknya dengan suasana Natal menjadikan segala pergulatan kita itu menjadi berkat tersendiri bagi kita. Sama seperti ketika Kristus hadir ditengah kita. Dia yang hadir dalam suasana malam pekat disimpan dalam palungan. Beban yang harus ditanggung oleh Bunda Maria dan St. Yosef sebagai orang tua ketika terpaksa harus membiarkan anaknya lahir dalam kandang tidak kemudian menjadikan Maria dan Yosef bersedih dan kehilangan sukacita itu. Mereka sadar akan konsekuensi dari pilihan mereka ketika mereka memutuskan untuk menjadi abdi Allah, menjadi pengikut Kristus yang setia dan taat.

Teladan Bunda Maria dan St. Yosef yang penuh iman itu pada akhirnya membawa terang bagi dunia, bayi yang terbungkus kain lampin dan dibaringkan dalam palungan itulah yang kemudian menjadi terang dan penyelamat dunia. Jika Allah mengijinkan kita kembali merayakan Natal itu artinya Allah memberi kita kesempatan lagi untuk merasakan sukacita Natal itu lagi, Allah mengingatkan kita kembali bahwa dibalik setiap kesulitan kita, dibalik semua kesedihan dan beban berat yang sedang kita tanggung, pasti ada sukacita pada akhirnya.
Selain itu Allah juga mengingatkan pada kita bahwa meskipun kita dalam keadaan yang sedang berbeban, tidak seharusnya hal tersebut menjadi penghalang kita untuk membagikan sukacita Natal. Kita dapat tetap berbagi sukacita meskipun sedang bersedih, kita dapat membagikan kebaikan meskipun hidup sedang terasa berat. Seperti dalam salah satu kotbah Romo Heru, SCJ yang saya ingat adalah, "Jangan puas menjadi penikmat kebaikan yang dibuat orang lain. Marilah kita menjadi salah satu pemainnya." Ya, dengan berbagi sukacita, dengan berbagi kebaikan, dengan berbagi senyum, kita telah menjadi pelaku kebaikan juga seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria dan St. Yosef yang tetap berbagi sukacita meski dalam keadaan paling sederhana sekalipun.

Saudaraku yang terkasih, selamat mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus. Mari kita menularkan sukacita dan kegembiraan Natal kepada sesama kita. Allah adalah setia, janji-Nya adalah "YA" dan "AMIN", tetaplah teguh dalam iman kita akan penyelamat dan terang dunia, Yesus Kristus. Karena dalam Dialah kita merasa tenang, dalam Dialah segala perkara dapat kita tanggung, tetaplah berpengharapan seperti Bintang Timur yang memberikan petunjuk dan harapan baru bagi mereka yang mencarinya. Di penghujung tahun 2017 inipun ijinkan saya mengucapkan harapan saya juga. Semoga setiap tulisan yang pernah saya buat dapat membantu kita bersama dalam penghayatan iman. Semoga Anda memaafkan apabila mungkin ada tulisan-tulisan saya yang sekiranya kurang berkenan. Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Semoga Tuhan memberkati Anda sekalian dan Bunda Maria mendoakan kita semua. 

Monday, November 13, 2017

Mari Mengisi Masa Adven denga Pertobatan

Mendengar kata "adven" selalu memberikan kesan yang berbeda bagi saya pribadi, karena setiap kali mendengarnya, adven rasanya memberikan sukacita tersendiri yang membuatnya selalu terkenang. Dalam masa-masa penantian ini seringkali menimbulkan kenangan lama yang terus terkenang, kadang disertai juga dengan harapan baru dalam menyongsong Natal, menyongsong kehadiran Yesus Kristus.

Adalah seorang anak yang meminta ijin kepada ibunya untuk pergi merantau demi mengejar cita-cita dan ambisinya untuk sukses. Meskipun berat, ibu ini akhirnya mengijinkan anaknya untuk pergi dengan harapan anaknya suatu saat akan kembali lagi padanya. Hari demi hari, bulan demi bulan hingga kemudian berganti tahun, sang anak yang pada awalnya masih rajin berkirim kabar semakin lama seolah telah melupakannya, tak ada lagi surat, tak ada telpon, tak ada kabar sampai beberapa tahun kemudian. Sang ibu dengan setia mendoakan anaknya agar selamat dan suatu saat kembali untuk sekedar menengoknya. Namun harapan itu semakin dipendamnya karena anaknya ini seolah menjauh darinya. Dengan penuh pengharapan ibu ini tetap berdoa dan menunggu.

Suatu ketika sang ibu kedatangan beberapa orang anggota polisi yang berseragam lengkap dan menanyakan apakah ibu tersebut mengenal seseorang dalam foto yang mereka bawa dan menyebutkan nama anaknya. Ternyata polisi tersebut menemukan anak sang ibu dalam kondisi yang mengenaskan. Dia menjadi korban kekerasan dan akibatnya anaknya lumpuh dan tak dapat bergerak lagi. Meskipun dalam kondisi fisik yang sangat menyedihkan sang ibu tetap dengan sukacita menyambut kedatangan anaknya kembali dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Saudaraku yang terkasih, dalam hidup mungkin kita pernah tersesat seperti anak tersebut. Demi mengejar cita-cita dan ambisi pribadinya, kita lupa akan orang-orang yang kita kasihi. Kita tak lagi menyediakan waktu kita untuk mereka, kita sibuk sendiri dengan pekerjaan dan usaha kita, kita menganggap bahwa orang tua kita, suami/istri kita, bahkan anak-anak kita sudah cukup dewasa untuk dapat menghargai ambisi pribadi yang ingin kita capai, yang ingin kita raih, kita sering mengabaikan mereka bahkan tidak sabar pada mereka padahal sesungguhnya keluarga kita adalah tempat dimana kita dapat selalu merasa nyaman. Keluarga adalah orang-orang yang selalu mendoakan kita dan selalu memeluk kita dengan erat kala kita berada dalam kondisi terburuk kita. Keluarga selalu memberikan kita tempat apabila kita ingin pulang dan menerima kita apa adanya.

Kadang dalam hidup, kita mungkin juga bertindak seperti sang ibu, yang hanya dapat berdoa, dan berharap bahwa suami/istri kita, atau anak-anak kita bertobat dari jalan yang salah. Kita merasa pengorbanan kita sia-sia, doa kita tak didengar karena telah bertahun-tahun tetap tidak ada perubahan, mungkin kita pun merasa harapan kita telah hilang karena sepertinya tidak ada titik terang dari masalah kita. Namun sesungguhnya, kita diajarkan untuk dapat belajar bahwa harapan itu selalu ada dan terbuka bagi siapapun yang setia dan bertekun.

Hanya diri kita saja yang dapat menilai menjadi siapakah kita sekarang ini? Menjadi sang anak yang terlalu sibuk, ataukah sang ibu yang setia dan bertekun? Apabila saat ini kita merasa menjadi sang anak, maka masa adven adalah masa yang paling tepat apabila kita isi dengan pertobatan dan mau memperbaiki diri kita sendiri. Apabila saat ini kita sedang berada dalam posisi sang ibu, percayalah bahwa harapan selalu ada, bahwa waktu Tuhan tidak pernah terlambat. Mari kita isi masa adven ini dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan sehingga pada akhirnya kita akan mendapatkan sukacita yang penuh sebagaimana yang Tuhan janjikan. "Kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mar 1:15).

Mari kita menyongsong Natal dengan mengisinya dengan pertobatan, beramal kasih dan tetap berpengharapan pada Tuhan Yesus Kristus karena Dia menjanjikan sukacita pada setiap orang yang didapati-Nya setia dan bertekun. Selamat menjalani masa adven dan menyongsong Natal yang penuh sukacita. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua. 

Monday, October 9, 2017

Rosario sebagai Lambang Kesetiaan Iman

Ketika kita membahas mengenai berdoa rosario, mungkin sebagian besar orang langsung mengidentikannya dengan novena, dengan ujud-ujud tertentu yang diinginkan. Atau mungkin berharap pada keajaiban tertentu dengan rajin mendaraskannya. Sebagian orang berpikir bahwa doa rosario merupakan doa yang dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria dan dengan rajin mendoakannya niscaya keinginan kita akan terkabul. Padahal sesungguhnya Doa Rosario adalah kumpulan doa yang lengkap. Lengkap dengan berbagai kisah tentang Yesus dan perjalanan-Nya dan tidak melulu tentang Maria.

Ketika kita berdoa rosario, kita diajak merenungkan kisah hidup Yesus dari sejak pertama kali Bunda Maria mendapat kabar gembira dari malaikat Tuhan bahwa Ia akan mengandung dari Roh Kudus. Roh Kudus yang sama itulah yang sampai kini masih terus melayang-layang di dunia ini mencari hati yang terbuka dan mau menerimanya dengan sukacita. Ketika kita memutuskan untuk menerima Roh Kudus saat pembaptisan kita, sebenarkan kita diajak untuk terus melibatkannya dalam keseharian kita.

Roh Kudus hendaknya kita undang dalam setiap doa kita. Ketika kita mampu berdoa dalam roh dan kebenarannya disitulah kita dapat mencerminkan kesetiaan iman kita. Lalu apa hubungannya, rosario dan kesetiaan iman?

Adalah seorang anak laki-laki yang tinggal berdua dengan ibunya karena sejak ia masih kecil ayahnya pergi meninggalkan mereka. Ibunya yang baik hati tidak ingin agar putranya jadi membenci ayahnya yang meninggalkan mereka, selalu mengatakan bahwa ayahnya itu ketika pergi sempat berpamitan dan berjanji akan kembali setelah dia berhasil dan mengalami kesuksesan. Ibunya setiap malam selalu mengajak putranya ini untuk berdoa rosario. Tahun demi tahun berlalu tanpa ada sedikitpun kabar dari ayahnya membuat pemuda ini berpikir bahwa mungkin ibunya telah berbohong padanya. Bahwa ayahnya tak pernah ada niat untuk kembali ketika dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan keluarganya. Pemuda ini pun mulai berpikir, untuk apalagi dia mendoakan rosario setiap hari? Untuk apa dia mendoakan ayahnya untuk kembali padahal yang bersangkutan memang tidak ada usaha sama sekali untuk kembali pada keluarganya? Pemuda inipun mulai mempertanyakan untuk apalagi tetap setia berdoa rosario kalau pada akhirnya tidak berguna?

Ibunya mengatakan bahwa ia tidak mengajaknya berdoa rosario untuk membesarkan hatinya atau berbohong padanya. Ibunya lalu mengutip sebuah ayat dalam Kitab Suci, "Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan (Yak 5:11)." Kalimat berikutnya membuat pemuda ini terdiam, ibunya berkata, "Ketika kau bertekun, mendoakan orang yang berbuat jahat padamu, maka tenanglah jiwamu dan kedamaian dekat denganmu. Bukan masalah sebesar apa kesalahan yang orang lakukan terhadapmu, tapi seberapa damai hatimu saat berdoa dan menjalani hari-harimu? Bunda Maria mengajarkan kesetiaan ketika ia turut serta dalam mengikuti jalan salib Putranya, kesetiaan itulah yang pada akhirnya mengangkat Maria ke surga. Kesetiaan itulah yang diwariskan Bunda Maria lewat berdoa rosario. Saat kamu bertekun dalam doa rosario, Bunda Maria akan mendampingi dan menganugerahimu dengan ajaran kesetiaannya."

Saudaraku, Tuhan sendiri mengatakan bahwa orang yang bertekun adalah orang yang berbahagia. Ketika Anda ingin mencari kebahagiaan, bukankah Tuhan sudah menjawabnya? Bertekunlah, belajarlah akan arti kesetiaan melalui Bunda Maria, lewat warisannya berupa doa rosario. Semoga Anda mendapatkan kebahagiaan Anda. Dan semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan Anda.

Sunday, September 10, 2017

Kitab Suci sebagai Pelita Hidup

Ada yang berbeda ketika kita mengikuti perayaan Ekaristi pada tanggal 02 atau 03 September yang lalu. Jika Anda tidak datang terlambat untuk misa, Anda pasti melihat ada seorang lektor yang membawa Kitab Suci besar untuk kemudian ditahtakan oleh Imam di depan altar. Bagi Anda yang sudah lama menjadi katolik, mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan tradisi perarakan Kitab Suci setiap tahun di awal bulan September. Namun bagi Anda yang baru mengenal tradisi Katolik, atau baru mau mengenal dan menjadi Katolik, bulan September telah ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci Nasional, yang artinya kita sebagai umat Katolik diharapkan untuk mau lebih sering membaca Kitab Suci, memahami maknanya dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mungkin Anda berpikir untuk apa ada penetapan khusus seperti itu? Apa gunanya peringatan bulan Kitab Suci Nasional itu? Mengapa perlu adanya penetapan selama 1 bulan hanya untuk mengajak umat lebih mengenal Kitab Suci?

Kitab Suci adalah kumpulan dari ajaran-ajaran Kristus yang telah dirangkum menjadi sebuah buku tebal dengan banyak kitab dan ayat-ayat di dalamnya. Kitab Suci adalah jawaban atas semua persoalan hidup yang mungkin sedang Anda alami saat ini. Sekali lagi saya katakan, semua jawaban! Mungkin Anda tidak percaya tapi memang kenyataannya seperti itu. Semua jawaban atas pertanyaan Anda sebetulnya sudah Tuhan beri jawabannya pada Kitab Suci. Hanya Anda mungkin belum menyadarinya.

Katakanlah Anda adalah orang yang sangat sibuk, Anda tidak punya banyak waktu untuk membaca Kitab Suci setiap hari, tapi Anda rajin mengikuti perayaan Ekaristi setiap minggu di gereja. Anda pasti mendengarkan Kitab Suci dibacakan. Tanpa Anda sadari, sedikit demi sedikit ajaran-ajaran itu pasti terekam dalam alam bawah sadar Anda. Ketika Anda sedang menghadapi situasi sulit dalam hidup Anda, tiba-tiba Anda seperti mendapat pencerahan dengan mengingat satu dua ayat dari Kitab Suci.

Adalah seorang anak perempuan sedang mencari kayu bakar untuk dijual di pasar demi membantu ibunya yang sedang sakit. Dalam perjalanannya ke hutan, dia teringat akan pesan ibunya, "Ikatlah pita-pita rambutmu sepanjang perjalanan agar kau tidak tersesat. Jangan masuk ke hutan terlalu dalam, kembalilah ke kota sebelum matahari terbenam dan bawalah selalu senter ini sebagai bekal di perjalanan." Anak ini menuruti perintah ibunya. Sepanjang jalan dia mengikat beberapa pita rambutnya sebagai penunjuk arah agar tidak tersesat. Hari makin siang dan kayu bakar yang dikumpulkannya belum cukup banyak untuk bisa dijual. Akhirnya tanpa disadarinya, anak ini terus berjalan masuk ke tengah hutan. Ketika tiba di tengah hutan, ia akhirnya menemukan cukup banyak kayu bakar untuk diangkut. Namun sayang, dia kehabisan pita rambutnya. Seketika itu anak tersebut menjadi bimbang, apabila ia meneruskan perjalanan tentunya ia akan mendapat kayu bakar yang sangat banyak untuk dijual dan dapat digunakan untuk membeli obat bagi ibunya yang sakit. Namun disisi lain, ia terus teringat akan nasihat ibunya. Akhirnya dengan berat hati ia hanya mengangkut kayu bakar seadanya dan memutuskan untuk kembali ke kota dan menjual hasil yang dikumpulkannya itu karena ia terus mendengar nasihat yang berulang-ulang dikatakan oleh ibunya sebelum ia berangkat. Dalam perjalanan pulangnya ia mendapati kabut turun lebih cepat. Beruntung ia membawa senter sebagai penerang jalannya, sehingga ia dapat melihat jejak-jejak pita rambut yang ditinggalkannya dan akhirnya selamat kembali ke kota.

Saudaraku, mungkin nasihat ibu tadi pada anaknya sama seperti ayat-ayat dalam Kitab Suci yang berulang-ulang kita dengar. Ketika kita hampir tersesat kita terus teringat akan kata-kata itu. Sama seperti itulah yang akan kita terima apabila kita rajin membaca Kitab Suci, ia akan menuntun kita kembali ke arah yang benar. Sama juga dengan senter yang dibawa anak tadi, ketika kita memutuskan untuk melaksanakan perintah Allah yang dituangkan dalam Kitab Suci, seketika itu pula ajaran Kristus itu menjadi penerang bagi jalan kita.

Bulan September ini adalah bulan yang tepat untuk mengajak orang terdekat kita, keluarga kita, untuk lebih mengenal Kitab Suci, mungkin Anda tidak akan langsung melihat hasilnya namun percayalah suatu saat ayat-ayat dalam Kitab Suci itulah yang akan menjadi kekuatan bagi Anda. Ketika kita sejak dini mengajak anak-anak kita mengenal Kitab Suci, percayalah bahwa saat anak Anda menjadi dewasa, mereka akan merasakan manfaatnya. Mari kita bersama mulai mengenal lebih dekat ajaran-ajaran Kitab Suci agar kita dapat terus bertumbuh dalam iman, pengharapan dan tentunya kasih pada Allah dan sesama. Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.

Friday, August 11, 2017

Memaknai Kemerdekaan Sejati dalam Keluarga

Ketika berbicara soal keluarga, setiap dari kita pasti memiliki gambaran ideal tentang keluarga yang seperti apa yang kita impikan. Suasana keluarga yang bagaimana yang kita harapkan, atau bahkan saudara seperti apa yang cocok dengan kita. Ya, gambaran keluarga ideal biasanya menjadi curahan hati atau harapan indah yang kita idam-idamkan. Tetapi kenyataan seringkali membawa kita pada kekecewaan. Kenyataan seringkali membuat kita bertanya mengapa kita terlahir dalam keluarga kita sekarang? Atau mengapa kita tidak dapat hidup sebagaimana gambaran ideal kita?

Sebetulnya apabila kita dapat merenungkan makna dibalik keinginan dan harapan kita, apabila kita merasa tidak puas atau bahkan kecewa dengan keluarga kita, mungkin ada keegoisan diri yang menguasai kita. Merenungkan sebuah gambaran ideal keluarga dengan dilatarbelakangi suatu sikap egois tidak akan membuat kita lebih bahagia.

Seorang anak, mungkin mengharapkan orang tuanya untuk tidak membatasi pergaulannya, untuk memberikan kebebasan berteman dan bersosialisasi dengan berbagai macam orang tanpa khawatir orang tua akan melarangnya. Sebagai orang tua, mungkin mereka mengharapkan anak yang rajin dan penurut, tidak pernah membantah sehingga tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti. Seorang suami mengharapkan istri yang mampu mendampinginya dan mendidik anak-anak dengan baik. Seorang istri mengharapkan suami yang bertanggung jawab, setia dan mampu membimbingnya dan anak-anak menjadi suatu keluarga yang rukun. Tetapi gambaran tersebut seakan menjadi impian kosong di siang hari.

Setiap keluarga, pasti banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Ketika menghadapi tantangan tersebut, bagaimana sikap kita? Apakah kita menyalahkan keadaan? Ataukah kita menyesali tinggal dalam keluarga kita? Atau bahkan mempertanyakan keputusan Tuhan yang menempatkan kita dalam keluarga tersebut? "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku (Mazmur 139:13)". Ingatlah bahwa Tuhan telah mengenal kita sejak kita ditenun dalam kandungan. Tidak pernah salah keputusan Tuhan. Dialah yang menjadikan kita dan Dia juga yang akan menjaga kita.

Ketika kita sibuk memikirkan gambaran ideal keluarga sebagaimana yang kita harapkan bukankah sebetulnya kita telah menghalangi diri dari sukacita, kedamaian dan ketentraman hati kita? Kita seperti telah menutup diri terhadap berkat-berkat Tuhan dengan keluh kesah dan ketidakpuasan kita pada keluarga kita. Kita lupa bersyukur bahwa ada orang yang menjaga kita, mengingatkan kita ketika kita melakukan kesalahan, menegur kita saat kita menyimpang, orang yang benar-benar perduli pada kita dengan tulus. Selalu ada niat baik yang melatarbelakangi setiap keputusan dalam keluarga. Hanya terkadang sikap kita yang seringkali salah menafsirkan niat baik tersebut. Kita sering berprasangka tanpa terlebih dahulu mengklarifikasikannya dengan keluarga kita. Sikap kitalah sebetulnya yang kadang kala menjerumuskan bahkan menjauhkan kita dengan orang yang kita cintai. Sikap kitalah yang seringkali juga menimbulkan salah paham dan tanpa sadar menyakiti perasaan orang-orang yang kita kasihi. Sikap kita juga yang tanpa kita sadari telah menjauhkan kita dari sukacita tinggal dan memiliki keluarga.

Saudaraku yang terkasih, kita telah hidup dalam dunia yang menghargai dan menjunjung tinggi kebebasan. Kita hidup dalam dunia yang mendambakan kemerdekaan yang sejati. Merdeka dari belenggu keegoisan, merdeka dari jerat iri hati, merdeka dari sikap sinis yang dapat menghancurkan hubungan dalam ikatan persaudaraan kita. Kita yang merdeka tentunya akan mampu mewujudkan gambaran ideal keluarga sebagaimana yang kita dambakan. Kita yang merdeka tentunya akan mampu menciptakan sukacita dalam keluarga kita. Kita yang merdeka adalah kita yang meneladan pada ajaran Allah. Kita yang merdeka adalah kita yang berusaha menjadi seperti keluarga Kudus Nazaret. Kita akan mampu mencapai kemerdekaan itu asalkan kita mau menyediakan waktu untuk Tuhan, dengan rendah hati mau menerima pengajaran Tuhan, mau sukarela mengikuti perintah-Nya dan terbuka pada setiap bimbingan-Nya.

Marilah saudaraku yang terkasih, kita belajar meneladan keluarga kudus Nazaret sehingga kita dapat memaknai kemerdekaan sejati kita. Kemerdekaan dari sikap dan tindakan yang justru akan memecahbelah tali persaudaraan kita. Niscaya dengan meraih kemerdekaan sejati kita maka kita akan menciptakan suasana penuh sukacita dalam keluarga kita. Semoga Tuhan selalu membimbing langkah kita dalam mewujudkan suasana kekeluargaan yang lebih damai. Semoga kita tetap setia mendengarkan nasihat-Nya dan tetap rendah hati pada setiap ajaran-Nya. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan saudara.