Friday, August 11, 2017

Memaknai Kemerdekaan Sejati dalam Keluarga

Ketika berbicara soal keluarga, setiap dari kita pasti memiliki gambaran ideal tentang keluarga yang seperti apa yang kita impikan. Suasana keluarga yang bagaimana yang kita harapkan, atau bahkan saudara seperti apa yang cocok dengan kita. Ya, gambaran keluarga ideal biasanya menjadi curahan hati atau harapan indah yang kita idam-idamkan. Tetapi kenyataan seringkali membawa kita pada kekecewaan. Kenyataan seringkali membuat kita bertanya mengapa kita terlahir dalam keluarga kita sekarang? Atau mengapa kita tidak dapat hidup sebagaimana gambaran ideal kita?

Sebetulnya apabila kita dapat merenungkan makna dibalik keinginan dan harapan kita, apabila kita merasa tidak puas atau bahkan kecewa dengan keluarga kita, mungkin ada keegoisan diri yang menguasai kita. Merenungkan sebuah gambaran ideal keluarga dengan dilatarbelakangi suatu sikap egois tidak akan membuat kita lebih bahagia.

Seorang anak, mungkin mengharapkan orang tuanya untuk tidak membatasi pergaulannya, untuk memberikan kebebasan berteman dan bersosialisasi dengan berbagai macam orang tanpa khawatir orang tua akan melarangnya. Sebagai orang tua, mungkin mereka mengharapkan anak yang rajin dan penurut, tidak pernah membantah sehingga tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti. Seorang suami mengharapkan istri yang mampu mendampinginya dan mendidik anak-anak dengan baik. Seorang istri mengharapkan suami yang bertanggung jawab, setia dan mampu membimbingnya dan anak-anak menjadi suatu keluarga yang rukun. Tetapi gambaran tersebut seakan menjadi impian kosong di siang hari.

Setiap keluarga, pasti banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Ketika menghadapi tantangan tersebut, bagaimana sikap kita? Apakah kita menyalahkan keadaan? Ataukah kita menyesali tinggal dalam keluarga kita? Atau bahkan mempertanyakan keputusan Tuhan yang menempatkan kita dalam keluarga tersebut? "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku (Mazmur 139:13)". Ingatlah bahwa Tuhan telah mengenal kita sejak kita ditenun dalam kandungan. Tidak pernah salah keputusan Tuhan. Dialah yang menjadikan kita dan Dia juga yang akan menjaga kita.

Ketika kita sibuk memikirkan gambaran ideal keluarga sebagaimana yang kita harapkan bukankah sebetulnya kita telah menghalangi diri dari sukacita, kedamaian dan ketentraman hati kita? Kita seperti telah menutup diri terhadap berkat-berkat Tuhan dengan keluh kesah dan ketidakpuasan kita pada keluarga kita. Kita lupa bersyukur bahwa ada orang yang menjaga kita, mengingatkan kita ketika kita melakukan kesalahan, menegur kita saat kita menyimpang, orang yang benar-benar perduli pada kita dengan tulus. Selalu ada niat baik yang melatarbelakangi setiap keputusan dalam keluarga. Hanya terkadang sikap kita yang seringkali salah menafsirkan niat baik tersebut. Kita sering berprasangka tanpa terlebih dahulu mengklarifikasikannya dengan keluarga kita. Sikap kitalah sebetulnya yang kadang kala menjerumuskan bahkan menjauhkan kita dengan orang yang kita cintai. Sikap kitalah yang seringkali juga menimbulkan salah paham dan tanpa sadar menyakiti perasaan orang-orang yang kita kasihi. Sikap kita juga yang tanpa kita sadari telah menjauhkan kita dari sukacita tinggal dan memiliki keluarga.

Saudaraku yang terkasih, kita telah hidup dalam dunia yang menghargai dan menjunjung tinggi kebebasan. Kita hidup dalam dunia yang mendambakan kemerdekaan yang sejati. Merdeka dari belenggu keegoisan, merdeka dari jerat iri hati, merdeka dari sikap sinis yang dapat menghancurkan hubungan dalam ikatan persaudaraan kita. Kita yang merdeka tentunya akan mampu mewujudkan gambaran ideal keluarga sebagaimana yang kita dambakan. Kita yang merdeka tentunya akan mampu menciptakan sukacita dalam keluarga kita. Kita yang merdeka adalah kita yang meneladan pada ajaran Allah. Kita yang merdeka adalah kita yang berusaha menjadi seperti keluarga Kudus Nazaret. Kita akan mampu mencapai kemerdekaan itu asalkan kita mau menyediakan waktu untuk Tuhan, dengan rendah hati mau menerima pengajaran Tuhan, mau sukarela mengikuti perintah-Nya dan terbuka pada setiap bimbingan-Nya.

Marilah saudaraku yang terkasih, kita belajar meneladan keluarga kudus Nazaret sehingga kita dapat memaknai kemerdekaan sejati kita. Kemerdekaan dari sikap dan tindakan yang justru akan memecahbelah tali persaudaraan kita. Niscaya dengan meraih kemerdekaan sejati kita maka kita akan menciptakan suasana penuh sukacita dalam keluarga kita. Semoga Tuhan selalu membimbing langkah kita dalam mewujudkan suasana kekeluargaan yang lebih damai. Semoga kita tetap setia mendengarkan nasihat-Nya dan tetap rendah hati pada setiap ajaran-Nya. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan saudara.  

Monday, July 10, 2017

Iman Tumbuh dalam Pelayanan

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis. Rindu juga rasanya. Padahal baru 2 bulan terlewat karena berbagai situasi, tapi rasanya sudah lama sekali. Ketika menulis ini kerinduan itu terobati juga. Saya jadi teringat akan sebuah kisah hidup yang menginspirasi saya membuat tulisan ini.

Semua berawal ketika seorang sahabat menceritakan tentang seseorang yang dikenalnya, hidupnya terlihat kudus, karena dia rajin ke gereja, ikut kegiatan keagamaan, suka membaca kitab suci, tampak luar terlihat begitu religius. Namun kehidupannya diluar kegiatan gereja ternyata sangat bertentangan, suka berpesta pora, mabuk-mabukan, berselingkuh dan "kenakalan-kenakalan" lain yang sangat bertentangan dengan ajaran agama. Kehidupannya sangat tidak sejalan dengan kegiatan religius yang dia laksanakan dan ikuti. Cerita sahabat saya ini lalu membuat saya berpikir, bagaimana bisa seseorang seperti itu? Seperti memiliki kehidupan ganda dimana suatu saat dia begitu terlihat taat beragama tapi di sisi lain, godaan jasmani atau istilah dalam kitab suci keinginan daging ternyata tak mampu untuk di tahannya? Dia seperti tidak mampu melaksanakan apa yang diimaninya.

Benarkah ada orang seperti itu? Ya. Jawabannya ADA. Mungkin kita adalah salah satunya, dimana kita tak mampu melaksanakan atau menjalankan ajaran Yesus padahal kita telah rajin ke gereja misalnya. Namun mungkin saja apa yang tanpa kita sadari telah kita lakukan itu mungkin tidak seekstrim kisah hidup seseorang yang diceritakan oleh sahabat saya itu. Bila teman dari sahabat saya itu terlihat begitu kontras antara kehidupan satu dengan yang lainnya, mungkin saja apa yang terjadi pada kita tidak kita sadari namun orang lain dapat melihatnya.

Pernahkah ada dalam benak Anda, ketika Anda mendoakan seseorang yang sakit lalu kemudian sembuh dan Anda berpikir, berkat doa saya dia menjadi sembuh? Atau pernahkah Anda merasa hebat ketika berhasil melaksanakan suatu kegiatan doa yang kemudian berhasil mempertobatkan banyak orang? Pernahkah Anda merasa bahwa berkat campur tangan Anda segala urusan pelayanan menjadi beres dan berjalan dengan baik? Bukankah itu termasuk dalam "kesombongan iman" Anda saat Yesus justru mengajarkan tentang melayani sesama dengan kasih?

Saudaraku terkasih, tuaian memang banyak, namun pekerja sedikit. Sedikit dari sekian banyak orang yang mau menerima dan menjalankan panggilan Tuhan untuk melayani di gereja, di komunitas, di lingkungan. Sebagai orang-orang yang terpanggil, yang terpilih, yang mau menjawab panggilan Tuhan, alangkah baiknya apabila kita tidak tenggelam dalam arogansi pribadi kita. Ketika Anda menerima panggilan Tuhan, bukankah Anda mengharapkan sesuatu dari-Nya? Jujur saja saudara-saudaraku terkasih, sebagian besar dari kita pasti ingin sesuatu dari menanggapi panggilan Tuhan itu. Mungkin Anda berharap, dengan melayani-Nya Allah akan menambahkan iman Anda, atau mungkin dengan melayani Tuhan Anda berharap mendapatkan kekuatan dalam menjalankan kehidupan ini? Anda masing-masing pasti punya alasan, punya motivasi tersendiri ketika menjawab "YA" pada panggilan Tuhan.

Saudaraku terkasih, ketika Anda melayani Tuhan dengan segenap kerendahan hati Anda, dengan segala ketulusan Anda, dengan semua daya upaya, usaha dan pengorbanan Anda, ketika itulah Tuhan mengubah hidup Anda. Jangan pernah mengharapkan berkat apapun, jangan pernah menuntut mujizat dari Tuhan, lakukan segala pelayanan Anda dengan tulus dan rendah hati, maka Allah akan mencukupkan segalanya bagi Anda. Seperti Yesus pernah berkata kepada seorang perempuan pendosa, "Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk 7:50), maka janji itupun berlaku bagi kita yang melayani dengan tulus. Iman yang menyelamatkan itu hanya akan kita dapatkan ketika kita dengan rendah hati melayani Tuhan, seperti perempuan pendosa yang melayani Yesus, membasuh kaki-Nya dan meminyaki-Nya dengan minyak wangi terbaik.

Mari saudaraku yang terkasih, kita belajar memperbaiki diri. Belajar rendah hati, belajar melayani Tuhan dengan tulus, sehingga Allah menganugrahkan pada kita iman yang terus bertumbuh. Iman yang pada akhirnya akan menyelamatkan kita. Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan Anda.

Thursday, April 6, 2017

Memperoleh Kebangkitan seperti Teladan Yesus

Masa Prapaskah bagi umat katolik selalu diidentikkan sebagai masa pertobatan. Orang berbondong-bondong mengikuti devosi jalan salib untuk merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus, ada yang menghabiskan banyak waktu dan tenaganya untuk melakukan banyak pelayanan sebagai bentuk pertobatannya. Ada pula yang menyumbang banyak uang ke lembaga-lembaga sosial sebagai salah satu bentuk silihnya. Banyak juga orang katolik berpantang dan berpuasa atau melakukan berbagai macam cara untuk menunjukan bentuk pertobatannya. Tetapi sesungguhnya, adakah yang benar-benar mengalami pertobatan itu?

Ketika merenungkan ibadat jalan salib, ada kalanya otak manusia kita mungkin berpikir, bagaimana mungkin Yesus yang juga manusia itu rela mengorbankan nyawa demi orang lain yang tidak Dia kenal? Mari kita jujur pada diri sendiri, sebagai manusia ketika kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, bahkan nyawa taruhannya, apakah kita rela mengorbankan nyawa kita? Mungkin Anda berpikir bahwa, "ya itu kan Yesus, Dia kan Anak Allah, dan sebagai konsekuensinya ya Dia harus mau dong berkorban demi umat manusia, merelakan diri menjalani jalan salib". Ingat Yesus yang kita percayai itu SUNGGUH ALLAH SUNGGUH MANUSIA, yang artinya meskipun Dia Anak Allah tapi Dia juga sepenuhnya MANUSIA.

Mari sekarang saya ajak Anda mengubah pola pikir kita sebelumnya. Yesus tahu Dia adalah Anak Allah, Yesus sadar sepenuhnya bahwa Dia harus menjalani panggilanNya. Sekarang mari kita "bandingkan" diri kita seperti Yesus. "Saya sadar saya adalah seorang anak dari orang tua yang begitu menyayangi saya tapi apakah saya mau menjalani panggilan saya sebagai anak? Apa saya mau mengurus orang tua saya sampai mereka tua nanti? Ataukah saya malah berusaha menghindari panggilan saya sebagai anak dengan mengirim orang tua saya ke panti jompo karena saya tak tahan lagi mengurusi orang tua saya yang sakit-sakitan itu? Saya sudah cukup repot dengan mengurus keluarga saya sendiri, saya tak ada waktu mengurusi orang tua saya lagi maka dari itu saya terpaksa mengirimnya ke panti jompo." Begitukah kehidupan Anda saat ini?

Atau "Saya sadar sepenuhnya bahwa saya memilih untuk hidup berkeluarga. Saya adalah ayah dari seorang istri dan beberapa orang anak. Saya kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh untuk memberi nafkah dan menghidupi keluarga saya. Setiap hari dari pagi sampai sore saya menghabiskan waktu di tempat kerja. Ketika pulang ke rumah, saat saya sedang lelah istri saya malah sibuk dengan anak-anak saya yang rewel. Rumah berantakan, makan malam belum tersedia padahal saya ingin istirahat. Saya melampiaskan kemarahan saya pada istri saya yang tidak becus mengurus rumah tangga. Saya pergi keluar mencari hiburan untuk meringankan kepenatan dikantor dan dirumah. Hal yang wajar menurut saya." Apakah Anda termasuk dalam golongan tersebut? Menghindari tanggung jawab dan janji perkawinan yang telah Anda ucapkan?

Banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari kita yang sebetulnya dapat kita bandingkan dengan teladan Yesus. Dia yang sungguh Allah sungguh manusia itu, dapat saja menghindari tanggung jawabnya sebagaimana kita manusia biasa yang seringkali mencari alasan dan pembelaan diri untuk menghindari panggilan kita. Tapi apa yang Yesus lakukan? Dia hanya berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi (Luk 22:42)." Dia ingin menghindarinya, tapi Yesus memilih menjalaninya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau menjalani panggilan kita di dunia ini dengan sepenuh hati? Apakah kita mau melaksanakan panggilan kita dengan sungguh, tegar hati dan tidak setengah-setengah?

Yesus mengajarkan pada kita bahwa lewat jalan salibNya, lewat sengsara-Nya, Dia justru mendapat kebangkitan. Kematian Yesus di kayu salib ternyata adalah kematian yang menghidupkan lewat kebangkitan-Nya yang mulia. Dia rela mati agar kita hidup. Kita yang ingin memperoleh kebangkitan, tidak perlu ikut mengulangi jalan salib yang Yesus pernah jalani dulu, Allah memberikan warisan pada kita berupa Sakramen Tobat. Lewat Sakramen Tobat kita seolah-olah mati di salib dan kemudian dibersihkan dan dibangkitkan kembali setelah kita mendapat penitensi dari Pastor sebagai wakil Allah di dunia.

Mari kita bersama-sama mati dan bangkit kembali sebagai pribadi yang lebih baik seturut ajaran Yesus sendiri. Mari kita memilih jalan yang Tuhan ajarkan pada kita. Tidak ada gunanya menyangkal, bahkan menghindari panggilan kita di dunia. Bersama teladan jalan salib Yesus, mari kita berani melangkah, menjalaninya bersama Yesus, dan bukan menghindar atau melarikan diri. Bersama Tuhan kita pasti bisa bangkit kembali. Terimalah sakramen tobat sebagai langkah awal kita menuju kebangkitan kita. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Bunda Maria mendoakan kita semua. Selamat Paskah.

Monday, March 13, 2017

Hidup Sejahtera dengan Peduli pada Alam

Arus teknologi dan informasi yang kian berkembang pesat membuat banyak prioritas dalam hidup seseorang menjadi berubah. Perubahan yang kian berkembang juga mengakibatkan pola pikir dan panduan perilaku yang juga banyak bergeser dari nilai-nilai asalnya. Seseorang yang tidak mampu mengikuti perubahan dan perkembangan jaman yang semakin cepat akan tertinggal semakin jauh dan akan menjadi semakin sulit beradaptasi dengan keadaan-keadaan yang baru.

Manusia sekarang menjadi manusia instan, ingin segala sesuatunya dilakukan, dikerjakan dan memberikan hasil yang cepat dapat diperoleh. Keegoisan manusia dan kecenderungannya untuk berkuasa membuat manusia sering lupa bahwa manusia hidup di alam semesta yang harus juga dipelihara. Egoisme dan keserakahan manusia sering kali membawa dampak yang buruk bagi lingkungan sekitarnya, bagi alam pada umumnya.

Kesejahteraan dan kemakmuran seringkali diukur dari kekayaan pribadi masing-masing individu. Berapa besar luas rumah yang ditinggali, seberapa banyak uang yang tersimpan, seberapa sering bepergian ke Luar Negeri, atau seberapa banyak barang bermerk terkenal yang dikenakannya. Manusia mengukur kesejahteraan dan kemakmuran seringkali berdasarkan ukuran materi yang dimilikinya.

Sebagai manusia yang beragama dan berTuhan, seberapa besar kita pernah menyadari bahwa kesejahteraan itu sebenarnya dapat kita nikmati saat kita sedang memandangi pegunungan yang sejuk, kemakmuran itu berarti bahwa kita dapat menikmati udara pantai yang menyegarkan, kebahagiaan dan kedamaian itu tercipta justru pada saat kita sedang bersekutu dengan alam sekitar kita.

Ijinkan saya bertanya pada Anda yang saat ini sedang membaca tulisan saya ini. Apakah Anda kenal dengan tetangga-tetangga yang ada disekitar Anda? Bukan sekedar tahu nama tapi juga mampu bertegur sapa dan saling mengobrol saat berjumpa? Seberapa sering Anda bertegur sapa dengan tukang sampah yang setiap hari mengambil sampah rumah tangga di depan rumah Anda? Apakah Anda tahu kemana sampah-sampah itu dibuang setelah diangkut oleh tukang sampah? Seberapa sering Anda memperhatikan jumlah sampah rumah tangga yang Anda buang setiap harinya? Apakah ada makanan sisa yang juga Anda buang? Seberapa banyak makanan sisa yang Anda buang? Atau bahkan, pernahkah Anda memperhatikan isi lemari pendingin Anda, apakah ada makanan yang telah lewat masa berlakunya dan Anda tidak menyadarinya sampai pada akhirnya terlanjur berbau busuk sehingga Anda terpaksa membuangnya?

Saudaraku terkasih, pernahkah Anda dihadapkan pada situasi dimana Anda berada dalam sebuah pesta dan Anda menikmati semua makanan yang disediakan namun ketika keluar dari tempat pesta Anda menemukan ada seorang anak kecil dengan pakaian lusuhnya sedang mengais dalam tempat sampah mencari sisa-sisa makanan demi mengisi perutnya yang kosong?

Sepenggal kalimat dari ensiklik "Laudato Si" yang dikeluarkan oleh Bapa Paus Fransiskus mengatakan bahwa "Setiap kali makanan terbuang, makanan itu seolah-olah dicuri dari meja orang miskin". Paus Fransiskus khawatir terhadap kerusakan alam yang terjadi. Apakah kita yang meyakini bahwa seorang Paus sebagai wakil Kristus di dunia tidak tergerak dengan perkataan dan himbauan beliau? Apakah kita masih mau mengabaikan kepedulian kita dan menutup mata pada kerusakan bumi?

Mari saudaraku, dimulai hari ini, kita berusaha untuk lebih peka pada hal-hal yang selama ini luput dari perhatian kita yang ternyata kebiasaan tersebut justru membawa kita pada pengrusakan alam. Mari mulai saat ini kita lebih perduli dan mau memperhatikan lingkungan sekitar kita dengan mengurangi sampah plastik sedapat mungkin. Kita mungkin tidak ditakdirkan untuk mengubah dunia, namun kita dapat memilih untuk ikut ambil bagian sebagai individu yang turut membantu mengurangi sampah, lebih perduli pada lingkungan dan alam sekitar dan lebih mampu memperhatikan hal-hal kecil yang bermanfaat untuk menjaga bumi ini lebih baik. Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita selalu dalam setiap langkah hidup kita.

Monday, February 6, 2017

Ketika Tangis Menjawab Sebuah Pertanyaan

Dalam beberapa bulan belakangan ini kita telah dihadapkan pada beberapa peristiwa yang penuh sukacita dan kegembiraan. Katakanlah sejak bulan Desember kita merayakan hari Raya Natal, lalu dilanjutkan dengan pesta Tahun Baru, kemudian di akhir Januari ada pula perayaan Imlek, kemudian disusul peristiwa Valentine's day, hari penuh sukacita dan kasih sayang. Rasa-rasanya ketika kita terus menerus mengalami peristiwa-peristiwa gembira kita merasa waktu cepat berlalu, rasanya tak ingin segera berakhir. Ingin terus berada dalam suasana yang penuh keceriaan.

Namun dibalik suasana gembira itu, pernahkah Anda tetap merasa sedih? Pernahkah Anda merasa tetap kesepian bahkan dalam situasi diri Anda yang sedang berada dalam keramaian? Pernahkah Anda merasa justru ditengah kegembiraan itu Anda malahan ingin menangis? Pernahkah Anda bertanya pada Tuhan mengapa Anda bisa merasa begitu bahagia?

Sepertinya jarang sekali ada orang yang bertanya mengapa bisa berbahagia? Orang seringkali bertanya justru pada saat mengalami kesulitan dan penderitaan. Orang yang bertanya mengapa tetap merasa sedih saat sedang dalam suasana bahagia, biasanya dikarenakan ada perasaan yang "hilang" dan "hampa". Ketika perasaan semacam itu timbul, mungkin itu adalah cara Tuhan mengatakan pada kita bahwa sudah saatnya kita berlutut pada-Nya dan berdoa.

Seorang pelayan Tuhan, begitu bersemangat dalam melayani. Dia banyak mengorbankan waktunya untuk melayani di gereja, begitu bersemangat dan penuh sukacita. Banyak orang yang terhibur dengan kehadiran dan semangat yang ditularkan orang ini. Orang di sekitarnya memberikan komentar-komentar yang mengira hamba Tuhan yang selalu ceria ini sepertinya tidak pernah mengalami kesulitan yang besar karena dia selalu terlihat bersemangat dan tersenyum.

Suatu ketika usai kembali dari pelayanannya, pelayan setia ini sampai di rumahnya dalam keadaan yang kelelahan. Duduk di atas tempat tidurnya, tidak sedang melakukan apapun, tiba-tiba tanpa sadar air matanya mengalir begitu deras. Dia tak bisa menghentikannya, dia bahkan tak bisa menghibur dirinya sendiri. Dia tidak tahu mengapa air matanya tak bisa berhenti mengalir, dia bahkan tidak tahu mengapa dia menangis sendirian, dia merasa sangat lelah. Lelah secara fisik dan mentalnya. Dia lelah dengan segala macam pelayanan yang dilakukannya, dia bahkan mempertanyakan mengapa dia mau melayani sampai begitu rupa. Dia menangis semalaman dan tanpa sadar, dia membuat tanda salib dan berdoa dalam tangisannya.

Tidak, dia tidak berdoa, tidak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menangis setelah selesai membuat tanda salib. Dia menangis sampai lelah dan tertidur. Dalam mimpinya, dia bertemu dan berbincang dengan Tuhan. Dia cerita tentang kelelahan yang dirasakannya, dan Tuhan menjawab, "Ini Aku" (bdk Yes 58:9). "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Mat 11:28-29).

Seketika itu juga, dia sadar, bahwa selama dalam pelayanannya dia banyak mengandalkan dirinya sendiri. Sudah saatnya bagi dia untuk sujud menyembah-Nya. Berlutut, berdoa dan bertobat atas kelalaiannya. Kelelahannya adalah akibat dari sikap hidupnya yang jauh dari kehidupan doa. Keheningan untuk mendengarkan suara Tuhan sudah tidak lagi dicari olehnya.  Tanpa sadar mengandalkan diri sendiri menjalani hari-harinya. Jauh dari doa, jauh dari Tuhan, jauh dari kekudusan.

Saudaraku yang terkasih, apabila saat ini Anda sedang mencari kedamaian dan sukacita yang sejati dan bukannya mencari kegembiraan duniawi saja, mungkin inilah saatnya bagi Anda untuk berlutut dan bertobat. Sudah saatnya Anda pun berkata pada Tuhan, "Tuhan, ini aku. Tanpa-Mu aku bukanlah siapa-siapa. Tanpa-Mu kehidupan adalah hampa dan tak berarti, tanpa-Mu, sukacitapun terasa gersang. Ijinkan aku mengalami sukacita yang abadi, kedamaian yang sejati. Hidup penuh dengan cinta kasih dan sadarkan aku bahwa semuanya itu harus aku jalani dengan sikap tobat yang tulus. Amin." Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita semua.

Thursday, December 8, 2016

Damai Sejahtera, Datanglah!

Bagi seluruh umat Katolik, menjelang penghujung tahun berarti adalah mengawali tahun Liturgi yang baru. Awal tahun liturgi selalu ditandai dengan kedatangan masa adven, masa penantian, masa pertobatan. Pesan Natal tahun ini adalah "Immanuel, Damai Sejahtera. Datanglah." Damai sejahtera, pesan yang sangat menyejukan di hati. Kita semua tentunya menginginkan damai sejahtera selalu datang dalam kehidupan kita. Hati yang damai adalah hati yang layak untuk menantikan kedatangan Juru Selamat kita, Yesus Kristus. Namun, pada masa sekarang ini sepertinya tidak banyak orang yang dapat merasakan kedamaian, banyak orang sibuk memikirkan betapa kerasnya hidup ini, betapa beratnya beban yang harus ditanggung. Betapa banyaknya orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita dan meninggalkan luka.

Ketika melihat kedalam diri, banyak peristiwa dalam hidup saya yang tidak berjalan sebagaimana "saya" inginkan. Kekecewaan, penipuan, caci maki, direndahkan, difitnah, dibohongi, sakit penyakit, dan semua hal yang menyedihkan lainnya, yang membuat saya kehilangan kasih dan kedamaian karena saya ingin bebas dari keadaan menyedihkan itu. Semua hal tersebut membuat saya terluka, membuat saya merasa bodoh karena dibohongi, membuat saya merasa tak berdaya ketika mengalami hinaan, membuat saya tak bisa berhenti memikirkan orang yang telah menyakiti saya karena saya terus memendam rasa sakit hati. Yaaa, saya tersakiti oleh orang-orang disekitar saya. Mereka telah sadar atau tidak sadar menyakiti saya dengan perbuatan atau kata-kata mereka. Tanpa sadar saya pun jadi terus menerus memupuk rasa sakit saya, membiarkannya tetap menjadi luka yang terbuka karena saya tak bisa berhenti memikirkannya.

Kalau sedang merasa kecewa dan disakiti, orang cenderung berpikir begini: "Saya tidak seharusnya diperlakukan begini", "Saya tidak seharusnya mengalami ini", "Saya orang yang tidak sepantasnya diperlakukan tidak adil". "Saya berharga, saya tidak layak menderita karena orang tersebut", kalau begitu STOP! Hentikan mencari pembenaran kelayakan itu, hentikan berlaku sebagai orang yang baik dan hanya pantas mendapatkan hal baik saja. Hentikan bertindak dan berpikir sebagai korban. Korban dari ketidakadilan, korban dari kata-kata bohong, korban dari lingkungan sekitar kita. Berhentilah berpikiran seperti itu dan kalau Anda benar-benar berpikir bahwa Anda berharga, maka hargailah diri Anda sendiri, hargailah waktu Anda, hargailah orang-orang sekitar Anda yang benar-benar perduli pada Anda. Bukankah dengan lapang dada menerima sebuah batu sandungan dan iklas menjalaninya justru akan semakin meningkatkan nilai diri Anda? Bukankah dengan mau menerima diri sendiri dan mau memaafkan diri sendiri itu akan lebih membawa kedamaian dibandingkan dengan menghujat dan mencari kambing hitam atas masalah Anda? Apakah waktu Anda yang berharga layak untuk dihabiskan dengan berpikiran bahwa Anda seharusnya atau tidak seharusnya melakukan ini dan itu? Bukankah akan lebih baik bila Anda dapat mencari sudut pandang yang lain dari masalah Anda dan pada akhirnya akan membawa Anda pada perubahan yang lebih baik? Bukankah Anda mencari damai sejahtera dalam kehidupan Anda?

Matius 5:43-45 berkata "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." Injil Lukas pun mengingatkan hal yang sama, "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu" (Luk 6:27-29). Ketika kita belajar kerendahan hati dan siap menerima pengajaran dari Tuhan tentang pengampunan, niscaya damai sejatera yang kita rindukan bukan sekedar harapan palsu belaka. Ketika kita mampu melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu SUNGGUH AMAT BAIK, niscaya kita tak lagi menggerutu dan mengeluh, menghujat dan mencari kambing hitam, memaki dan menyalahkan.

Berawal dari diri sendiri, maukah Anda bercermin kedalam diri Anda, bertanya dan memperoleh jawabannya dari hasil refleksi Anda sendiri, alasan yang menyebabkan Anda tidak bahagia? Alasan mengapa Anda sulit merasakan damai sejahtera? Alasan untuk apa Anda mensia-siakan waktu Anda? Alasan mengapa Anda sulit mengampuni? Pengampunan berarti juga penerimaan diri. Memaafkan dan memperbaiki apa yang salah dalam hidup Anda. Pengampunan berarti membuka pintu damai dalam hati kita. Mari kita sambut masa adven kita dengan lebih banyak mengampuni sesama kita. Mari kita bersama mempersiapkan hati dan pikiran kita menyambut Sang Bayi damai. Mari kita berseru, "Immanuel, Datanglah!" Datanglah Damai Sejahtera, kami siap menerimanya. Semoga Tuhan memberkati dan doa Bunda Maria menyertai Anda sekalian. Selamat Natal! 

Saturday, November 5, 2016

Masa Penantian Menuju Harapan Baru

Sebuah kisah yang saya dengar baru-baru ini begitu menginspirasi saya dan entah mengapa terus teringat dan terasa sayang bila tidak dibagikan pada banyak orang. Sebuah kisah nyata kehidupan yang bermakna amat dalam dan benar-benar menjadi sebuah inspirasi bahwa sebuah penantian akan menghasilkan suatu harapan yang baru. Harapan yang baru akan dapat mengubah hidup seseorang dan menjadikannya suatu semangat yang tak akan pernah dapat dipadamkan.

Adalah seorang wanita berasal dari sebuah keluarga bukan Katolik kemudian menikah dengan seorang pria Katolik yang menyebabkan dia terpaksa pergi jauh meninggalkan keluarganya itu karena pernikahannya tidak mendapat restu dari keluarganya. Hidup jauh dari keluarga, di tempat yang baru, budaya yang berbeda, tak ada orang lain selain suaminya saja yang dia kenal membuatnya menjadi seorang wanita yang tegar, tabah dan kuat.

Wanita ini berjuang mencari nafkah bagi keluarganya karena ternyata sang suami bukanlah seorang suami yang dapat diandalkan. Tak mungkin dia kembali pada keluarganya yang tak lagi mengakuinya karena dia telah pindah keyakinan menjadi Katolik, tak ada teman yang dapat dijadikan tempatnya mencurahkan isi hatinya, yang dia miliki pada masa-masa terberat hidupnya hanyalah bergantung sepenuhnya pada kuasa dan kekuatan dari Tuhan.

Sepanjang perjalanan hidupnya, dia mempersembahkan waktu, tenaga dan pikirannya hanya demi menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya sehingga semua anaknya dapat meraih kesuksesan. Sepanjang hidupnya pula dia pasrah dan berserah pada Tuhan, hanya Dialah tempat mengadu dan mencurahkan air matanya.
Selama masa hidupnya yang dia serahkan untuk mengabdi pada Tuhan dan keluarganya, dia tak pernah sekalipun meragukan campur tangan Tuhan dalam hidupnya, dia dengan setia menantikan janji Tuhan untuk menjaganya. Hanya dengan berdoa dia mendapat kekuatan, hanya lewat doa pula dia berani menaruh harapannya akan hidup yang jauh lebih baik.

Memasuki masa adven ini, masa penantian akan kehadiran Yesus, saya ingin meniru ibu ini dalam kesetiaannya selama masa penantian. Dia tetap setia berdoa, dia tetap setia melayani Tuhan, dia tetap setia pada panggilannya sebagai seorang Kristiani sejati, dia tetap setia dalam keadaannya yang paling berat, meskipun dia mengalami cobaan yang terus bertubi-tubi namun imannya tak pernah goyah. Tak sedikit pun dia meragukan kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya dan kemurahan hati-Nya.

Wanita ini dalam masa penantiannya, dapat selalu menemukan harapan yang baru akan kehidupan yang jauh lebih baik saat dia berdoa pada Tuhan. Ketika dia sedang berjuang mencari nafkah bagi anak-anaknya, dia mendapatkan harapan dari orang-orang di sekitarnya yang membantunya bertahan dalam kesulitannya. Saat dia dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya berlaku tidak setia, dia tetap dapat menemukan harapan baru bahwa Tuhan tetap besertanya, dalam doanya, dalam tangisnya, dalam kepedihannya, dalam keputusasaannya, dia selalu dapat menemukan secercah cahaya harapan baru dari kekuatan doa yang selalu setia dia daraskan. Dia sungguh mengimani bahwa Tuhan tak pernah meninggalkannya sendirian dan terpuruk. Dia tahu Tuhan selalu menggenggam tangannya dan mengangkatnya bahkan lebih tinggi dari keadaan sebelumnya. Imannya, doanya, keyakinannya, pengharapannya pada Tuhan menjadikan saya berpikir betapa kecilnya iman saya jika dibandingkan dengan ibu tersebut.

Ketika sedikit mengalami pencobaan, saya cenderung mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Bukannya berdoa, saya sering kali menjauh dan marah pada Tuhan. Bukannya mengimani kekuatan Tuhan, saya cenderung marah dan meninggalkan-Nya.

Ketika saya mendengarkan kisah hidup ibu ini, saya malu. Saya sering merasa sakit hati pada Tuhan apabila saya merasa bahwa keinginan saya tidak terkabul. Saya marah dan berontak saat menghadapi pencobaan yang berat. Saya selalu gagal melihat bahwa dibalik setiap pencobaan sesungguhnya Tuhan sedang menguji iman kita. Tuhan ingin melihat seberapa paham kita akan ajaran-Nya. Maukah kita menerima pengajaran-Nya? Mampukah kita melepaskan ego kita dan berserah pada kehendak-Nya? Mampukah kita melewati rintangan dengan tetap setia pada panggilan kita? Dapatkah kita melihat harapan yang baru, yang sering kali terselubung dibalik kesulitan kita? Dapatkah kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik justru disaat kita tengah menghadapi cobaan? Apakah kita berhasil melihat makna dan pembelajaran terselubung yang Tuhan ijinkan terjadi pada kita?

Kisah ini, hanya merupakan gambaran kecil yang saya utarakan disini. Semoga dengan membaca kisah ini, kita bersama dapat belajar untuk tetap setia dalam masa penantian kita. Semoga kisah ini juga dapat menyadarkan kita bahwa dibalik setiap penantian pasti akan selalu ada harapan yang baru. Harapan itulah yang kemudian dapat memulihkan setiap luka dalam hati kita, memulihkan setiap rasa sakit yang kita rasakan, memulihkan hubungan yang retak baik dengan sesama maupun dengan Tuhan. Harapan yang baru adalah harapan untuk menjadikan diri kita lebih baik dan lebih layak menantikan kedatangan Tuhan kita. Selamat menantikan kehadiran Tuhan kita dengan penuh harapan. Mari kita siapkan hati kita untuk menyongsong kehadiran-Nya dengan hati yang bersih, hati yang damai, hati yang telah dipulihkan. Semoga Tuhan memberkati dan doa Bunda Maria melindungi Anda sekalian. Amin.